CH (220): Skor TOEFL Dosen

Test of English as a Foreign Language atau disingkat TOEFL adalah ujian kemampuan berbahasa Inggris (logat Amerika) yang diperlukan untuk mendaftar masuk ke kolese (college) atau universitas di Amerika Serikat atau negara-negara lain di dunia (cek wikipedia). Dalam perjalanan, sejumlah instansi baik pemerintah maupun swasta menyaratkan skor TOEFL (jumlah tertentu) dalam penerimaan pegawai. Pentingkah?

Seingat saya, penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil di beberapa daerah di Jawa Tengah, beberapa tahun silam mensyaratkan salah satunya adanya sertifikat TOEFL dengan skor tertentu. Universitas Brawijaya sendiri saat mengumumkan penerimaan dosen (baru-baru ini) mencantumkan dengan tegas, nilai minimal TOEFL untuk pelamar dosen dengan ijazah Strata 2 adalah lebih dari 475, dan skor 500 bagi mereka yang memegang ijasah Strata 3. Dan masih banyak lagi instansi yang memasukan skor TOEFL sebagai syarat penerimaan.

Hmm…menarik, TOEFL yang sebenarnya digunakan untuk uji kemampuan bahasa, sebagai bagian untuk mendaftar di perguruan tinggi luar negeri (kebanyakan Amerika Serikat), dipakai sebagai syarat penerimaan pegawai. Suatu kelatahan dalam dunia kerja Indonesia, atau ada maksud dibalik itu? Terus terang, jika itu sebuah kelatahan atau cuman bagian dari ikut-ikutan institusi dalam negeri mengadopsi apa yang dilakukan institusi lainnya, mending tidak usah dilakukan. Lalu kenapa universitas sebesar Brawijaya mensyaratkan TOEFL, jika tidak ada maksud dibaliknya?

Kalau saya melihatnya dari sisi positif saja. Pemberlakukan syarat nilai TOEFL dengan skor tertentu ada baiknya bagi institusi dan tentu yang bersangkutan, terutama bagi penerimaan calon dosen di sebuah lembaga pendidikan, apalagi kalau lembaga pendidikan tersebut, misalnya memiliki rencana Go International (GI). Lucu juga, jika lembaga ingin bersaing di kancah internasional, namun para dosen-dosennya memiliki nilai TOEFL rendah. Ini sudah tentu tidak match dengan slogan GI-nya.

Lucu lagi jika ada lembaga pendidikan dengan embel-embel GI, masih bisa digoyang syarat skor TOEFL-nya, hanya karena ada dosen yang akan masuk adalah anak pejabat tertentu, atau dosen tersebut merasa tersinggung jikalau gara-gara nilai TOEFL dijadikan pengganjal penerimaannya sebagai dosen, ketimbang prestasinya yang tinggi di bidang akademik.

“Saya ini sudah Doktor dengan IPK 4, publikasi penelitian saya berlipah, JAFA saya Lektor Kepala, masa gara-gara TOEFL saya cuman 400, saya ditolak kerja di sini?” Saya akan tertawa :D jika ada calon dosen berkata seperti itu, karena tersinggung universitas tersebut menolak yang bersangkutan karena skor TOEFL-nya dibawah skor yang disyaratkan. Namun kadang-kadang, lembaga pendidikan tinggi akan berkompromi dengan kasus di atas, tentu mereka akan menerima sang dosen, dengan segenap prestasi akademiknya, dan meminggirkan syarat TOEFL.

Bagi saya yang alumni Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), berharap agar almamater saya juga mensyaratkan skor nilai TOEFL tertentu sebagai bagian dari penerimaan dosennya. Kalau Brawijaya saja menetapkan 475, tentu kita bisa menetapkan lebih dari itu, atau minimal samalah. Bukan untuk gaya-gayaan, atau latah, namun nilai TOEFL adalah sebuah syarat yang sudah sangat-sangat wajar sekali dalam penerimaan dosen. Ini hanya harapan.

Akhirnya, ini bukan masalah penting atau tidak, ini masalah kewajaran dan kebaikan bagi institusi, maupun bagi sang dosen itu sendiri. Dosen tanpa nilai TOEFL pantas, ibarat sayur tanpa garam, tentu akan terasa hambar. (sfm).

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s