CH (329): Hasitongan Do Bona

Lembaga Pembinaan dan Pengaderan Sinode Gereja Kristen Jawa dan Gereja Kristen Indonesia Sinode Wilayah Jawa Tengah (LPP Sinode GKJ dan GKI SW Jateng) telah menetapkan “Tetaplah Hidup Jujur!” sebagai tema Masa Penghayatan Hidup Berkeluarga (MPHB) tahun ini (2012). Dalam bagian pengantar buku MPHB, terbaca dengan jelas bahwa tema tahun ini berbeda, “…Berbeda karena tema kali ini bernada perintah. Bukan anjuran, bukan slogan, bukan harapan…”.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa nada perintah tidak hanya terletak pada kalimat, namun juga pada penggunaan “kata seru,” Melalui tema itu, para perumus tema mendorong agar jemaat mengerti bahwa kejujuran bukan lagi diperbincangkan, akan tetapi dilakukan dalam perbuatan nyata. Lalu apa hubungan antara tema MPHB tersebut dengan judul catatan harian kali ini, “Hasitongan Do Bona”?

Kalimat berbahasa Batak tersebut saya temukan di bagian bahan dasar buku MPHB. Berikut saya kutipkan.

Pada halaman depan sebuah Sekolah Dasar di Pematang Siantar, Sumatera Utara, terpampang sebuah baleho besar bertuliskan “HASINTONGAN DO BONA.” Tertarik dengan tulisan itu, saya bertanya kepada Pak Sagala, pengendara mobil yang asli bersuku Batak. Apa gerangan arti tulisan tersebut? Panjang  lebar ia menjelaskan. Ia memulainya berdasarkan kata demi kata. HASINTONGAN, salah satu artinya adalah kebenaran. DO adalah penekanan, bisa disejajarkan dengan kata “lah” dalam bahasa Indonesia. BONA berarti permulaan atau awal. Secara harafiah, kalimat itu berarti KEBENARANLAH AWAL. Namun, katanya lagi,  seluruh kalimat itu secara utuh berarti SEMUA DIAWALI DENGAN KEJUJURAN.

Pada awalnya saya agak bingung dengan permainan kata tersebut. Mengapa KEBENARAN bisa dipahami dengan KEJUJURAN? Menurutnya, kesulitan terletak pada kata hasintongan yang bermakna luas. Percakapan lanjutan makin meyakinkan saya, KEJUJURAN dan KEBENARAN adalah dua hal tak terpisahkan. Menariknya, ungkapan itu diletakkan di halaman sebuah Sekolah Dasar. Melalui kalimat itu, ada harapan besar masa depan anak-anak lulusan sekolah itu tetap berpijak pada kejujuran. Sebuah harapan yang mulia. Semoga harapan itu tidak menjadi sia-sia. Kejujuran memang perlu diperkenalkan semenjak dini, agar terus melekat erat dalam diri setiap insan.

Buku MPHB juga mengutip pendapat Barbara A. Lewis tentang arti kata jujur, “Jujur artinya lebih dari sekedar mengatakan yang sebenarnya. Kalau kamu jujur, kamu tulus. Kamu menjunjung kehormatan dan keadilan. Kamu dapat dipercaya dan tulus. Dan kamu bukan sekedar jujur di luarnya; kamu juga jujur di dalam hati. Kamu tidak berbohong kepada siapapun, termasuk kepada dirimu sendiri.”

Sangat disadari oleh LPP Sinode GKJ dan GKI SW Jateng bahwa keluarga menjadi tempat penyemaian kejujuran bagi generasi muda Kristen, “…keluarga adalah pilar utama pendidikan. Ketika nilai ketidakjujuran yang menonjol, kita bisa membayangkan apa jadinya kelak anak-anak kita…”.

Ketika kejujuran sudah dimulai dari lingkungan kehidupan yang paling kecil, keluarga, maka diharapkan akan memengaruhi anggota keluarga (baik orang tua maupun anak-anak) dalam bertindak dan menempatkan kejujuran dan kebenaran, dimanapun mereka beraktifitas, entah itu di masyarakat, tempat kerja, maupun di lingkungan pendidikan. (sfm).

Saam Fredy Marpaung, Sekretaris Panitia MPHB 2012 di GKI Soka Salatiga.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s