Catatan Harian (33): Membangun Budaya Menulis Mahasiswa Fakultas Hukum Kita

southmichpaint.com

Memoriku kembali segar, saat sebuah diskusi kecil bersama Arief Budiman beberapa bulan yang lalu, Jose menyampaikan bahwa perlunya skill menulis dikalangan mahasiswa dibangun sejak dini. Hal itu sejalan dengan pikiranku 6 tahun silam, saat masih berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana (FH UKSW) dan tergabung dalam Bidang II Senat Mahasiswa FH.

Dalam sebuah rapat bidang 2, aku melontarkan ide untuk mencoba membangun budaya menulis dikalangan mahasiswa FH, dengan Program Menulis untuk Mahasiswa (PMM). Pikiranku waktu itu, PMM adalah program penganti bagi malam keakraban untuk mahasiswa baru FH. Karena menurutku, makrab saat-saat itu menjadi ajang unjuk kekuatan senior atas juniornya, ataupun ajang yang lebih mengedepankan hura-hura, ketimbang melihat aspek pendidikannya.

Dalam PMM, mahasiswa baru akan dibagi dalam kelompok-kelompok kecil (5-6) orang dan dibimbing oleh dosen ataupun mahasiswa senior. Selama seminggu, mereka akan bersama-sama dari pagi hingga sore hari, yang tujuannya untuk belajar: (1)  metode penulisan, seperti: makalah, proposal penelitian, ataupun skripsi; (2) pencarian literatur dengan menggunakan berbagai sumber, perpustakaan, ataupun internet; (3) penyusunan draf tulisan, dengan memperhatikan aspek bahasa, format, ataupun lainnya; (4) teknik presentasi, yang tidak lupa menggunakan media presentasi, seperti proyektor, alat peraga, dll; dan (5) evaluasi, di bagian akhir ini diadakan seminar hasil, bisa ditindaklanjuti dengan penerbitan hasil.

PMM tidak saja menanamkan sejak dini (sejak awal bermahasiswa) tentang penulisan, namun juga memacu para mahasiswa baru untuk membaca, berdiskusi, bekerja dalam tim. Sikap disiplin juga diuji, karena batas waktu ditetapkan sejak awal.

Karena menulis adalah skill, dan dapat hilang jika tidak diasah, selain dalam kelas-kelas diberikan tugas penulisan, maka setiap satu tahun sekali diadakan pemuktahiran kemampuan.

Sejujurnya, PMM adalah buah kegelisahan, mungkin tidak hanya aku saja namun juga banyak civitas FH yang peduli, akan lemahnya budaya menulis di kalangan mahasiswa FH. Walaupun belum ada penelitian resmi tentang hal itu, parameter yang aku gunakan adalah: (1) masih ada, dan mungkin banyak, saja mahasiswa yang “menyalin (copy paste)” tugas dari internet/buku; (2) ada sejumlah mahasiswa FH yang kesulitan saat memulai untuk penulisan skripsi; (3) ada sejumlah mahasiswa yang menggunakan “jasa” untuk pembuatan makalah ataupun skripsi; (4) ada sejumlah mahasiswa yang tidak pernah masuk perpustakaan dan kesulitan menggunakan komputer; (5) “minimnya kualitas” mahasiswa FH yang masuk, mungkin karena seleksi yang kurang ketat; dan (6) mahasiswa FH seharusnya memiliki kemampuan menulis yang baik.

Namun sayang, PMM tidak dapat terealisir. Mungkin bukan saat itu.

Budaya menulis sangat dibutuhkan dalam iklim akademik yang mengedepankan research, apalagi ada keinginan agar UKSW membuka diri untuk mentransformasi tradisi transfer of knowledge, ke sistem Open Science (OS) dan Open Innovation (OI). Sistem OS dan OI dapat dikembangkan dengan catatan bahwa budaya menulis dan meneliti telah mengakar dalam derap langkah universitas. Jika tidak, tentu mahasiswa akan terseok-seok… (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s