Catatan Harian (34): Pascasarjana UKSW yang “Semata Wayang”

foto cover otobiografi

(Mungkin) banyak yang belum tau, jika berdirinya Program Pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana (PPs UKSW) dibidani oleh Pdt. Dr. Sutarno, serta beberapa orang lainnya, termasuk Dr. Arief Budiman. Sekelumit cerita tentang berdirinya PPs UKSW dapat dibaca, salah satunya sumbernya, dari buku Otobiografi Pdt. Em. Dr. Sutarno, berjudul Bukan oleh Kekuatan dan Kehendak Sendiri, Pustaka Sinar Harapan, 2009.

Tim pendiri yang memulai bekerja tahun 1985, sepakat untuk memilih bidang studi pembangunan. Masalah-masalah pembangunan di negara-negara berkembang, khususnya di negeri ini, dikaji dengan pendekatan multidisipliner. “…pembangunan yang terlalu menekankan bidang ekonomi, dapat menimbulkan masalah-masalah lain, sehingga dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan perlu diperhatikan dan dikaji pula masalah-masalah sosial, politik, kebudayaan, dll. Secara khusus akan diperhatikan pula masalah-masalah nilai-nilai, moral dan etika yang perlu dicermati”, demikian tulis Sutarno.

Ide pendekatan secara multidisipliner tersebut, mengingatkan penulis akan rencana Oxford University untuk membuka sekolah baru yang didedikasikan untuk Future World Leaders (FWL) baru-baru ini. Di FWL, para mahasiswa akan belajar banyak tentang permasalahan dunia, dan bagaimana mereka meresponnya dengan pendekatan multidisipliner.

Keinginan awal tim yang berkehendak untuk bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), tidak disetujui oleh Sukadji, Direktur Perguruan Tinggi. Di satu sisi, Sukadji lebih menyukai jika PPs UKSW berafiliasi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), namun menurut pengamatan Sutarno, UGM agak lamban dalam melaksanakan pembaruan-pembaruan dalam bidang pendidikan, serta ditambah sistem UGM yang masih konsevatif. Akhirnya, walaupun agak kecewa, dicapai kompromi. PPs UKSW diputuskan berafiliasi dengan Intitut Pertanian Bogor (IPB).

IPB menugaskan 2 orang profesornya, yaitu Prof. Satoga dan Prof. Tjondronegoro, untuk terlibat langsung dengan PPs UKSW. Pak Sutarno sendiri menjadi Ketua Program, dan Arief Budiman sebagai sekretaris.

Perkuliahan awal Studi Pembangunan dimulai pada tanggal 12 Januari 1987, dengan jumlah mahasiswa 21 orang.

Akhir tahun 1986, Albert Hasibuan dan Aristides Katoppo berkunjung ke rumah Pak Tarno. Ikhwal kedatangan mereka adalah untuk meminta kesediaan Pak Tarno menjadi Pimpinan Redaksi bagi “kelahiran kembali” Sinar Harapan (yaitu: Suara Pembaruan).

Pak Tarno yang sedang sibuk dengan pendirian PPs UKSW, menyetujui dengan 2 syarat, yaitu: (1) Harus ada ijin Rektor, dan (2) untuk sementara dapat membantu di PPs UKSW. Sejak Juli 1987, Pak Tarno pindah menetap ke Jakarta, dan masih memberikan beberapa kuliah di Salatiga. (Dalam perjalanan, tampaknya Pak Tarno melepas Jabatan Ketua PPs UKSW).

Pertengahan Juli 2001, setelah pensiun dari Suara Pembaruan, Pak Tarno kembali ke Salatiga untuk menjalani masa pensiun secara total dan sungguh-sungguh. Tidak lama setelah kembali, John Ihalauw (Ketua PPs UKSW saat itu), meminta Pak Tarno untuk kembali mengajar Etika Pembangunan di PPs. Karena sifat permintaan itu “darurat”, Pak Tarno menyanggupinya dengan catatan cuma mengajar satu semester. Salah satu alasan kenapa hanya satu semesteradalah karena Pak Tarno menilai motivasi belajar para mahasiswa sangat rendah, khususnya “kelas eksekutif”.

Dalam perjalanan, sejumlah Program Studi (Progdi) baru masuk ke dalam PPs UKSW, yaitu: (1) Magister Sosiologi Agama; (2) Magister Manajemen (3) Magister Manajemen Pendidikan; (4) Magister Biologi; (5) Magister Sains Psikologi; (6) Magister Ilmu Hukum; (7) Magister Sistem Informasi; (8) Magister Akuntansi. Untuk Sosiologi Agama, Manajemen, dan Studi Pembangunan telah memiliki Program Doktoral.

Melalui Surat Keputusan Rektor Nomor: 210/Kep./Rek./5/2010 Tentang Integrasi Program Pendidikan Diploma III, Sarjana (S1) dan Pascasarjana (S2 dan S3) Universitas Kristen Satya Wacana tertanggal 20 Mei 2010, yang ditandatangani oleh Pdt. Prof. John A. Titaley, Th.D, hanya 1 Progdi yang masih tetap berada di bawah PPs UKSW, yaitu Studi Pembangunan, sedangkan yang lainnya dilebur kedalam fakultas-fakultas.

Progdi Sosiologi Agama bergabung dengan Fakultas Teologi, Magister Manajemen dan Akuntansi masuk ke Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Magister Manajemen Pendidikan ditaruh di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Magister Biologi bergabung dengan Fakultas Biologi, Magister Sains Psikologi dimasukan ke Fakultas Psikologi, dan Magister Ilmu Hukum ke Fakultas Hukum.

PPs UKSW

awalnya satu

berkembang

akhirnya “semata wayang” kembali

… (sfm).

Referensi:

guardian.co.uk

Otobiografi Pdt. Em. Dr. Sutarno, Bukan oleh Kekuatan dan Kehendak Sendiri, Pustaka Sinar Harapan, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s