Catatan Harian (38): Sepenggal Pesan Ibu Sujariah

foto: mas alva

Membaca surat elektronika milik Pak Wasi Mahendratta yang di-forward dan dapat ku baca lewat salah satu milis yang aku ikuti, membuatku tercenung sesaat. Pak Wasi mengabarkan kalau Ibu Sujariah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ibu Notohamidjojo, sakit dan harus masuk ICU RS Elisabeth Semarang.

Dalam informasinya, Pak Wasi juga menerangkan aksi spontan yang dilakukan peserta reuni PMKRI, 4-6 Desember 2010. Aksi penggalangan dana untuk Ibu Sujariah itu pun terkumpul Rp2.000.000 plus $ 20 Australia. Selanjutnya, diserahkan kepada Bapak Albertus Emanuel Alex Laturiuwe, mantan Sekertaris Jenderal PMKRI St. Markus Salatiga tahun 1968, yang juga menantu (Alm.) Bapak Dr. (HC) O. Notohamidjojo, S.H., sebagai wakil keluarga.

Jika ingat nama Ibu Sujariah, maka aku teringat wawancaraku dengan beliau dua tahun silam (2008), di kediamannya, Jl. Monginsidi, Salatiga. Berikut hasil wawancara yang aku tuliskan dalam bentuk berita untuk http://www.uksw.edu.

Bagi siapa saja yang memimpin Satya Wacana, Eyang berpesan untuk memperhatikan bawahan mereka

Selamat Ulang Tahun Ibu

(SALATIGA, http://www.uksw.edu) Tepat hari ini, tanggal 29 Januari 2008, Ibu Sujariah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ibu Notohamidjojo, istri dari mendiang Rektor I Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Almarhum Bapak O. Notohamidjojo, S,H., berulang tahun ke-83. Beliau, terlahir dari pasangan Raden Sastrowardoyo dan Raden Roro Sastrowardoyo di daerah Banjaran, Salatiga.

Dengan kondisi tubuh dan wajah yang masih kelihatan segar, Humas UKSW berkesempatan menemui beliau di rumah kediamannya. Eyang, demikian keluarga besar Notohamidjojo menyebutnya, sangat antusias bercerita, sehingga tidak terasa obrolan 1 jam terlewati. Banyak hal beliau ceritakan, namun ada beberapa poin yang patut kita simak dan pelajari bersama.

Kecintaan beliau terhadap Satya Wacana tidak bisa diragukan, selama 1 jam berbicara dengan Eyang, Satya Wacana selalu beliau sebutkan dengan ucapan bangga. Hal tersebut pasti dapat kita maklumi, karena beliau banyak membantu Almarhum Bapak Noto membangun Satya Wacana mulai dari awal. “Satya Wacana selalu dekat di hati Saya, Saya merasa bahagia dan terharu dapat menikmati Satya Wacana hingga hari ini,” ungkap beliau dengan nada lirih. “Kalau Saya punya kesempatan jalan-jalan ke kampus, Saya sangat senang karena masih banyak yang mengenal Saya,” tutur beliau lebih lanjut.

Satya Wacana Milik Tuhan

Menurut Eyang, Satya Wacana yang dibangun dari segala kekurangan, penderitaan dan kesusahan, tidaklah sia-sia. “Bapak, beserta pendiri yang lain, selalu menyandarkan semua kepada Tuhan, beliau sadar bahwa kita adalah orang Kristen,” ujar Eyang. Mereka yang bekerja di Satya Wacana haruslah bekerja seperti dia bekerja untuk Tuhan, layanilah dengan sebaik-baiknya. “Karena dengan pimpinan Tuhan, Satya Wacana dapat menjadi besar”, ujar Eyang.

Eyang sempat sedih dan merasa susah hatinya, ketika konflik tahun 94/95 yang beliau sebut sebagai pertikaian antara kakak dan adik terjadi. “Saya katakan kepada mereka semua, bahwa mereka itu kakak dan adik. Kakak dan adik haruslah saling menyayangi, jangan saling menyalahkan. Kakak dan adik bersekutulah dalam ke-Kristenan,” ungkap Eyang.

Alumnus Pimpin UKSW

“Kemauan Bapak sebelum beliau meninggal, agar Satya Wacana selanjutnya dipimpin oleh alumnus sendiri,” ujar Eyang. Menurut Eyang, lulusan Satya Wacana lebih mengerti seperti apa Satya Wacana. Pernah memang Satya Wacana dipimpin oleh Dr. Sutarno, yang bukan alumnus Satya Wacana. Pada saat itu, Almarhum Bapak Noto menginginkan agar penerusnya seorang muda dan doktor, namun Satya Wacana belum memilikinya. Sutarno yang kebetulan waktu itu seorang pendeta di Semarang, diminta oleh Almarhum Bapak Noto untuk mengajar di Satya Wacana. Melihat Sutarno yang masih muda dan tahan banting, beliau akhirnya disekolahkan ke Belanda, hingga dapat mencapai gelar doktornya.

“Namun, setelah Dr. Sutarno, Satya Wacana selalu di pimpin oleh alumnus sendiri, Wily, Ihalauw, John, dan sekarang Kris,” ujar Eyang. Bagi siapa saja yang memimpin Satya Wacana, Eyang berpesan untuk memperhatikan bawahan mereka. (sf_BPHL).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s