Catatan Harian (53): Ketika Orang Tua Menangis…

Tumben, semalam aku berkesempatan kumpul-kumpul dan banyak bertukar-pikiran dengan dua warga kampung di Cemara, Salatiga. Pembicaraan yang kami mulai sejak jam delapan malam tersebut, semakin hangat ketika aku mengajukan satu pertanyaan sederhana kepada mereka, “Apakah yang mereka harapkan dari anak-anak mereka kelak?”

Awal

Pertanyaan itu keluar dari pikiranku, ketika Mas Agus (maaf, nama aku samarkan), bercerita tentang pekerjaan-pekerjaan kotor yang ia lakukan untuk mendapatkan uang. “Lumayan dengan melakukan kolusi dengan pihak asuransi, aku dapet uang rokok 100 ribu..heheheh…walaupun itu merugikan perusahaan tempat aku bekerja”, demikian tuturnya. Aku bertambah kaget, ketika Mas Agus bercerita bahwa apa yang dilakukannya adalah hal biasa, dan mendapat persetujuan dari bos-nya.

Mas Joko (maaf, nama aku samarkan) yang sedari tadi mengikuti perbicanganku dengan Mas Agus tampak mengangguk-angguk tanda setuju. Entah, apakah dia juga melakukan hal serupa ataupun mirip-mirip dengan apa yang dilakukan oleh Mas Agus.

Edan (Gila)

“Wah..wah…, Jamane Jaman Edan, Yen Ora Edan Ora Keduman,…”, demikian aku melantunkan penggalan syair Ronggo Warsito kepada mereka, yang artinya dalam bahasa Indonesia kira-kira: “Sekarang Masanya Kegilaan, Kalau Tidak Gila Tidak Dapat Bagian”.

Mas Agus mencoba membela diri, dengan mengatakan bahwa uang hasil kolusi itu ia gunakan bukan untuk kebutuhan anak dan istrinya, “Itu uang panas, jadi aku hamburkan untuk hal-hal panas, minum-minuman keras atau main perempuan”. Mas Agus berfikir bahwa dengan menghamburkan uang itu dengan cara yang “panas” juga, maka anak dan istrinya tidak perlu ikut bertanggug jawab atas uang tersebut.

Mas Agus tampak bangga atas apa yang telah ia lakukan.

“Apakah kegilaan-kegilaan seperti itu yang ingin kita wariskan kepada anak dan cucu kita?”, aku kembali bertanya kepada mereka.

“Kalo bisa anak-ku ya…jangan to. Ya aku didik supaya jadi anak yang baik,” ucap Mas Agus.

“Lalu bagaimana jika, anak-anak Mas berdua mengikuti jejak langkah kegilaan yang Mas lakukan. Mereka korupsi, mereka main perempuan, mereka mabuk-mabukan, karena tau ayahnya seorang koruptor, seorang laki-laki yang suka main ke tempat pelacuran, dan pemabuk?”, pertanyaanku tersebut membuat tawa dan senyum mereka berubah menjadi reda dan tampak kecut.

Tangis

“Ketika nanti Mas berdua marah besar kepada anak Mas, karena Mas mengetahui anak-anak Mas melakukan hal-hal itu, dengan santai saja sang anak akan berkata bahwa apa yang mereka lakukan itu juga pernah dilakukan oleh orang tuanya”, aku melanjut.

“Loh, kan bapak juga dulu suka mabuk, suka main perempuan, dan suka makan uang haram, kok sekarang melarang kita melakukan hal yang sama sih…,” aku mencoba menirukan suara Tole kecil (maaf, nama aku samarkan), anak Mas Agus.

“Saat anak Mas Agus berbicara seperti itu, masihkah Mas Agus membela diri? Lebih lagi, masihkah hati dan perasaan Mas dapat Mas kuasai dan mencoba untuk tidak menagis…? Menangisi diri sendiri”.
Mereka hanya diam.

Rokok ditangan menjadi pelampiasan, mereka hirup dalam-dalam, dan mengeluarkan asapnya perlahan-lahan.
Mas Joko yang sedari tadi hanya mengikuti pembicaraan Saya dan Mas Agus, angkat bicara, “Mungkin aku akan menagis, jika saat itu terjadi kelak…”.

Ya, sangat mungkin kita akan menangis nanti…

Namun, tangisan itu dapat dihindari, minimal bisa dikurangi, jika sejak dini para orang tua mulai hidup sesuai dengan arahan agama dan kehidupan masyarkat yang bermartabat. Sejak dini, anak-anak mulai diajarkan bahwa mencuri itu salah, minuman keras itu malapetaka, main perempuan itu hina, dan lainnya.

Orang tua jangan bangga ketika anak-anaknya kita mencapai kesuksesannya dengan cara-cara yang tidak sepatutnya. Orang Tua jangan menegadahkan tangan menerima, ketika anak-anak kita menawarkan harta dunia dari cara kerja yang tidak benar.

Mereka masih terdiam…Kepulan asap pun semakin pekat…

Sejatinya

Aku berkata kepada mereka bahwa sebenarnya kebahagian orang tua akan anaknya bukan kepada seberapa banyak harta yang dapat diberikan kepada orang tua, atau seberapa besar gelar yang mereka pakai, apalagi jika pencapaian harta dan, gelar, atau pangkat itu melalui proses yang tidak benar (melalui korupsi, kolusi, ataupun nepotisme, dll).

“Kebahagian sejati orang tua adalah ketika melihat anak-anaknya menjadi anak yang baik, bagi sesama, terlebih kepada orang tua. Tidak perlu kaya, atau jadi pejabat kelas berat,” demikian aku berucap sembari mengingat petuah bijak Ayahku.

Aku pun beranjak meninggalkan mereka berdua dalam kesunyian dan rintiknya hujan semalam… (sfm).

One thought on “Catatan Harian (53): Ketika Orang Tua Menangis…

  1. ibarat buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, “kelakuan” orang tua biasanya menurun pada anak (anak)nya.
    tapi ada pengecualian, pohon di pinggir sungai, buah jatuh, terbawa arus, menjauh dari pohonnya.
    atau ketika buah jatuh, kena angin kencang, buah jauh dari pohonnya.
    selalu ada pengecualian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s