Catatan Harian (64): A Silent Judge in Courtroom

Room for Debate The New York Times kembali mengangkat satu tema debat yang menarik, yaitu tentang seorang Hakim Agung Amerika Serikat (AS) yang tidak pernah mengeluarkan argumennya selama persidangan. Ada apa dengan pemegang palu keadilan itu, apakah dia berfikir bahwa my silent is “golden”?

Hampir selama lima tahun, Hakim Agung Clerence Thomas, tidak terlibat berargumen dalam setiap persidangan yang dia ikuti. Terakhir, CT melontarkan pertanyaan pada 22 Februari 2006. Selama sidang, hakim kedua keturunan Afro-Amerika yang mengabdi di Mahkamah Agung AS tersebut, hanya terlihat menyandarkan dirinya di kursi, menatap langit-langit, berbisik ke rekannya, ataupun mengusap-usap matanya.

Banyak pertanyaan menarik dan kritis yang dapat dilontarkan sehubungan dengan kondisi tersebut, seperti: “Apakah keadilan dapat dicapai tanpa partisipasi hakim dalam persidangan?”, “Apakah bertanya dalam siding adalah ritualitas yang sebenarnya tidak perlu?”, atau “Adakah keharusan/kewajiban bagi Hakim Agung Amerika untuk melontarkan pertanyaan selama sidang?”. Lalu bagaimana dengan pendapat para narasumber? Berikut opini dari Orin Kerr (OK), Jamal Greene (JG), dan Timothy R. Johnson (TRJ).

OK, seorang profesor hukum di George Washington University, berpendapat bahwa, “Different justices have different styles, but these are matters of personal taste rather than right or wrong”.

JG, associate professor di Columbia Law School, berpadangan, “He is a judicial iconoclast, opposed to following constitutional precedents with which he disagrees and unwilling to moderate his positions to achieve consensus. He is the court’s most frequent lone dissenter, and to assign an important majority opinion to him is to risk losing your majority because of his uncompromising language.”

TRJ, Profesor di Political Science, University of Minnesota, memberikan simpulan, “…Based on the research I have conducted over the past 18 years, is that oral arguments are vitally important to how the justices make decisions. This effect comes both from the interactions between the justices and the lawyers, and also from the interactions among the justices themselves”.

Ketiga pandangan di atas dapat melihatnya dari 3 sudut pandangyang berbeda, OK secara subjektif personal CT, JG dari aspek pandangan hukum CT, sedangkan TRJ menggunakan basis penelitian. Is his silent “Golden”? Hmmm….it’s hard to say. (sfm).

Catatan: untuk lebih mengetahui detail opini para narasumber, saya menyarankan agar membaca secara penuh tiga pandangan narasumber tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s