Catatan Harian (66): For The People, Not For Arifin-Toisutta

Ndagelan (lelucon) politik di panggung Indonesia kembali hinggar-binggar pasca pengumuman hasil verifikasi Komite Pemilihan Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) baru-baru ini. Dua figur harus tersingkir, pengusaha nasional kondang Arifin Panigoro (AP) dan Jenderal Angkatan Darat G. Toisutta (GT). Sejumlah masyarakat mulai bereaksi, namun yang pasti jangan sampai hegemoni publik nantinya menjebak kita dalam demokrasi yang sempit.

Demokrasi sempit terjadi ketika esensi perlawanan terhadap antidemokrasi di tubuh PSSI, hanya diwarnai figur (AP-GT). Keduanya menjadi simbol perlawanan terhadap NH Cs. Masyarakat seakan dibawa masuk ke alam AP-GT, tidak ada alternatif selain AP-GT sebagai pengganti NH Cs. Hingga tulisan ini diturunkan, riuh berita dan komentar di berbagai situs berita seputar “diskualifikasi” AP dan GT, masih mendominasi berita nasional. Dua tokoh tersebut tak pelak menjadi sorotan luas di media.

Yang patut dipahami adalah AP-GT adalah salah satu, bukan satu-satunya, media yang dapat digunakan untuk mengembalikan kehidupan demokrasi di dalam tubuh PSSI. Ada banyak cara mengembalikan demokrasi sejati, yaitu untuk menguatkan basis masyarakat sepakbola sebagai bagian terpenting. Ini telah terlupakan. Ketidakberdayaan masyarakat bola terhadap kuatnya dominasi NH Cs, diperparah dengan ketidakmampuan pemerintah (khususnya Kementrian Pemuda dan Olahraga), untuk menjaga wibawa PSSI.

Ketika masyarakat terjebak dalam euphoria demokrasi sempit ala “AP-GT”, yang mungkin saja sengaja dihembuskan, masyarakat telah masuk dalam permainan aktor intelektual yang punya kepentingan. Alih-alih menghadirkan PSSI yang lebih demokratis, masyarakat diarahkan secara tidak sadar untuk membentuk satu “dinasti” baru, yang entah kita tidak tau kedepannya. Perlu dipahami bahwa demokrasi bukan masalah siapa yang menggerakan, karena esensi demokrasi berada di tangan masyarakat, karena sebenarnya masyarakatlah yang empunya. Memang harus ada yang namanya menumbuhkan kesadaran demokrasi di hati masyarakat.

Lalu apa yang harus dilakukan? Sederhana, pertama, menempatkan AP-GT tidak lebih sebagai media perlawanan. Kedua, AP-GT haruslah menempatkan diri sebagai bagian dari demokrasi, dan bukan demokrasi itu sendiri. Ketiga, masyarakat sepakbola perlu menguatkan diri, mencari celah-celah lain, karena masih ada banyak cara lain untuk membawa PSSI kearah yang lebih demokratis. (sfm).

Catatan: SFM mendukung gerakan-gerakan perubahan dalam tubuh PSSI, yang berorientasi ke arah demokrasi untuk masyarakat sepakbola.

2 thoughts on “Catatan Harian (66): For The People, Not For Arifin-Toisutta

  1. gejolak revolusi di timur tengah, tolok ukur lemahnya supremasi hukum di indonesia . . . lha kok bisa????
    eh 1998 itu revolusi atau reformasi, nggak penting banget saam . . . seperti kita terlalu lama dijajah belanda, ditambah jepang . . masih ditambah 32 tahun dibawah orde baru . .
    . . . dan 12 tahun setelah apa yang dikatakan reformasi tapi lebih mirip revolusi itu, kita tetap nggak paham siapa lawan siapa kawan . .
    mental yang rusak itu telah merasuk ke segala sendi kehidupan berbangsa dan bernegara kita . . pajak! . . dan century! . . . dan lain2. . . . . . dan sekarang pssi😛
    nurdien halid itu bukannya buah reformasi 7 tahun lalu . . . lalu gayus itu apa sekedar anak orang batak . . extra ordinary crime bisa dilakukan siapa saja . . ya wajarlah kpk nasibnya bisa “dedel duwel” begituuuu . .😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s