Catatan Harian (67): “Si Gadis Manis” dalam Pemilukato

Jelang Pemilihan Umum Kepala Walikota (Pemilukato) beberapa bulan lagi, ada fenomena menarik yang terjadi di dalam tubuh segelintir elit Universitas Kelakuan Ndeso (UKnD, nDeso=Katro). Para elit tersebut memecahkan dirinya untuk kemudian masuk ke kubu para kontestan Pemilukato dengan harapan mampu memperlicin “kepentingan” mereka.

Pemilukato tahun ini akan diikuti oleh 4 pasangan, yaitu pasangan “Dimanja”, “Yawis”, “Porsi”, dan “Baksos”, dua pasangan yang disebut terakhir mendaftar saat detik-detik penutupan. Jika dianalisis, maka setiap pasangan memiliki keunggulannya masing-masing. “Dimanja” mendapat dukungan dari partai pemenang pemilu rakyat kota. Pasangan “Yawis” sendiri didukung oleh gelontoran uang dari pengusaha kondang kota. “Porsi” juga diisi oleh orang-orang gaek dan berkantong tebal. Pasangan “Baksos” sendiri tidak kalah pundi-pundi emasnya. Intinya, hampir semua pasangan berasal dari golongan berpunnya.

Seberpunnya-nya para pasangan tersebut, tetap mereka membutuhkan dukungan agar dapat mencapai posisi sebagai orang nomor satu di Kota. Konsekuensinya tentu, para pasangan harus menyebar pesona dengan menarik simpati masyarakat dengan berbagai cara. Jadi jangan kaget, jika banyak “iklan” calon walikota disudut-sudut kota. Selain berjuang meraih simpati dengan jalan beriklan, para pasangan juga aktif menggali dukungan dari kantong-kantong padat masyarakat. Dan disinilah awal pertemuan antara para pasangan dengan sejumlah elit UKnD terjadi.

UKnD dengan kekuatan ribuan mahasiswa dan pegawai seumpama gadis manis yang siap dipinang oleh para jejaka kota. Akan tetapi, yang namanya gadis jaman sekarang itu lebih pandai ketimbang gadis tempoe doloe. Si gadis, menebar “cinta”-nya kepada semua jejaka, dan sudah tentu mengharapkan “sesuatu” dari tebaran cinta itu. Lebih lihai lagi, Si Gadis mampu bermain “innocent” di mata para jejaka kaya raya, sehingga tidak ada yang tau kalo Si Gadis-lah yang sebenarnya sedang mempermainkan jejaka-jejaka kota itu.

“Sesuatu” yang ada dibenak Si Gadis adalah materi. Si Gadis membutuhkan jaminan kemakmuran saat salah satu jejaka datang menghantarnya kepelaminan. Si Gadis tidak membutuhkan jejaka yang setia, berahlak, ataupun yang bagus rupa, karena itu bukan dambaannya. “Kemakmuran” yang diinginkan dari para jejaka dalam waktu dekat adalah komitmen untuk menyiapkan lahan 10 hektar bagi pengembangan “rumah baru”, sedangkan lain-lainnya akan diminta kemudian.

Sunguh sangat disayangkan memang, ketika melihat perilaku Si Gadis manis. “Salah Asuhan” mungkin si anak itu, karena sudah melenceng dari garis nasihat “orang tuanya”. Para orang tua yang telah menanamkan kasih dan sayang, serta peghormatan kepada integritas dan moralitas dalam masyarakat pendidik, serta ditambah dengan balutan doa akan kemuliaan akhirat. Si Gadis telah tercabut dari prinsip-prinsip kesejatian manusia yang harusnya tawakal kepada Tuhan, dan bukan kepada manusia, materi ataupun kepentingan sesaat. Dia telah menghilangkan semangat si kecil yang kreatif. Ahhh….alangkah sayangnya.

Duhai Gadis Manis,…

Mentari tidak terbit selamanya,..

Begitu juga dengan hidup,…

Kembalilah bersujud memohon ampunnya,…

Membasus diri dari kepentingan sesaat,…

Sebelum asa kembali kepada-Nya,… (sfm).

2 thoughts on “Catatan Harian (67): “Si Gadis Manis” dalam Pemilukato

  1. Pingback: CH (111): Gelar “Pemilukada Salatiga” di Satya Wacana | saam fredy marpaung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s