CH (79): Konflik Warga Vs Mahasiswa di Salatiga

Sejumlah media sempat menayangkan berita tentang bentrok antara oknum mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dengan warga Kemiri, Salatiga, yang terjadi Sabtu (5/3). Gesekan warga dan mahasiswa, Sabtu lalu bukanlah kali pertama, namun sudah yang kesekian kali. Adakah solusi cerdas, sehingga konflik warga-mahasiswa tidak perlu terjadi?

Suara Merdeka Cybernews menjelaskan bahwa bentrok terjadi berawal dari pemukulan yang dilakukan oknum mahasiswa yang diduga dalam keadaan mabuk terhadap seorang warga Kemiri. Tidak terima dipukul, yang bersangkutan melaporkan kepada orang tuannya. Orang tua bersama warga Kemiri pun akhirnya terlibat bentrok dengan oknum mahasiswa yang dibantu rekan-rekannya itu. Syukur aparat kepolisian sigap, sehingga bentrok tidak melebar kemana-mana. Tujuh orang diamankan oleh polisi, lima diantaranya merupakan mahasiswa UKSW.

Yang Lalu

Sebelum-sebelumnya, walau tidak terliput oleh media, konflik antara warga Kemiri dan mahasiswa telah menjadi buah bibir antarwarga. Tidak hanya masalah minuman keras yang menjadi pangkal masalah. Hal lain dipicu karena ketidakmampuan mahasiswa pendatang untuk memahami budaya warga, contohnya mahasiswa seenaknya asik masyuk dengan pasangan lain jenis di kamar kos ataupun kontrakan. Ada juga mahasiswa begadang hingga malam dan menggeluarkan suara-suara keras, sehingga mengganggu warga yang sedang istrahat malam.

Dua tahun yang lalu, sempat juga warga ditempat saya bernaung dibuat emosi lantaran sejumlah orang dari latar belakang etnis tertentu tiba-tiba beramai-ramai menyatroni kontrakan mahasiswa dari etnis lainnya. Diantara penyatron bahkan ada yang membawa senjata tajam. “Kalau mau ramai-ramai, jangan di kampung kami,” beberapa warga mengingatkan kedua etnis tersebut. Tidak mau ambil resiko, ketua rukun tetangga, menilpun polisi.

Tentu kita semua tidak ingin letupan-letupan yang terjadi belakangan ini, sampai merembet ke bentrok antarsuku seperti yang diklaim beberapa orang dan terjadi pada tahun 89-90an. Berawal dari ricuh dipertandingan sepak bola dalam kampus UKSW, merembet ke bentrok antara warga dan Etnis Papua. Jam malam pun sempat diberlakukan oleh aparat keamanan.

Solusi?

Beberapa kali pihak kampus pernah mengadakan pertemuan dengan warga, khususnya pemilik kos-kosan di Salatiga. Terakhir, kalau tidak salah, diadakan sarasehan Kos-Kosan, Senin 25 Oktober 2010 di kampus. Hadir dalam acara tersebut pemilik kos-kosan, pihak kampus, Polres Salatiga, dan Pemkot Salatiga. Dalam acara tersebut berujung rencana pembentukan paaguyuban kos-kosan. Ini bisa dikatakan sebagai salah satu awal yang baik untuk membina hubungan kampus dan warga, walau bukan satu-satunya. Entah, apakah rencana itu sudah terwujud atau belum. Jangan sampai, pertemuan-pertemuan ini hanya bersifat temporer, dan diadakan kalau mau saja, namun harusnya menjadi agenda yang kontinu.

Disisi lain, walau pertemuan dengan pemilik kos sudah cukup baik, namun spektrum silahturahmi dengan warga tidak bisa diwakilkan dengan pemilik kos saja. Hal itu dikarenakan banyak pemilik kos-kosan di Kemiri banyak yang bukan warga asli.

Duduk Bersama

Memahami bahwa konflik warga-mahasiswa bisa saja ditunggangi ataupun menjalar ke konflik etnis, maka pencarian solusi cerdas berkesinambungan diperlukan. Semua pemangku kepentingan (Masyarakat, UKSW, Pemkot Salatiga, Mahasiswa, Pihak Keamanan, dll) harus duduk bersama, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Tidak perlu ada yang merasa paling dibutuhkan, apalagi paling berkuasa untuk menyelesaikan.

Walaupun Pembantu Rektor III UKSW menyatakan bahwa jika sudah berada diluar apalagi bertindak kriminal, bukan lagi menjadi tanggung jawab UKSW, seperti beliau sampaikan saat memberikan pengantar di Seminar Kerohanian Kampus hari ini (8/03), namun himbauan Kapolres Salatiga AKBP Susetio Cahyadi SIK MH, seperti dikutip Suara Merdeka, agar pimpinan UKSW terus membina mahasiswanya, patut diresapi.

Tentu anda dan saya sebagai warga Salatiga, ataupun yang tinggal sementara di Salatiga, tidak mau keadaan yang sudah damai ini, berubah menjadi ladang konflik etnis seperti yang terjadi di sampit. Karena sangat mudah sekali konflik-konflik kecil menjadi bentrok etnis ataupun agama. (sfm).

6 thoughts on “CH (79): Konflik Warga Vs Mahasiswa di Salatiga

  1. dulu tahun 2007 aku dan temen2 termasuk ketua SMU sekarang juga pernah ribut hebat dengan warga kemiri, penyebabnya adalah salah paham. Tapi memang masalah seperti itu perlu solusi yang baik, terutama pihak kampus sebaiknya mencri solusi untuk masalah tersebut.

  2. Jadi aku dan ketua SMU yang sekarang, dulu satu kost2an, dan pada tahun 2007 kami juga bermasalah dengan warga kemiri (perkelahian) sampai kami kena denda yang lumaya. Masalahnya adalah salah paham antara kami dan warga kemiri sehingga berakhir pada bentrok. dan sebagai hukumannya, selain kami didenda oleh warga kami juga diusir dari kost2an. gt mas.

  3. Pingback: CH (102): Terulang, Warga Vs Mahasiswa | saam fredy marpaung

  4. Dahulu tahun ’85 sampai 90-an mahasiswa UKSW aman-aman saja tanpa ada bentrok dengan warga, yang ada waktu itu cuman antar etnis yaitu mahasiswa sumba dengan Timtim gara-gara biliard, itupun cepat teratasi oleh kampus dan pihak keamanan terkait, namun akhir2 ini mahasiswa UKSW yg katanya “Satya Wacana” apalagi dari Indonesia Timur, tidak bisa beradaptasi dengan baik dengan lingkungannya, pada era saya kita berbaur dengan segala lapisan masyarakat mau itu tukang ojek, tukang becak, tukang andong, preman pasar dll, kita sering kumpul di tempatnya mba usrek tempat jual miras di bawah jembatan penyebrangan jl.jensud, kita minum sampai mabuk tapi ga ada keributan2, bahkan kita yang kala itu mau dibilang “nakal/bandel” semuanya dapat berhasil tamat dengan baik dari UKSW, itu semua tergantung pribadi mahasiswa itu sendiri dan tergantung pihak kampus naupun aparat keamanan yang harus tegas mengambil tindakan dengan men-drop out kan mahasiswa yang liar dan tidak berprestasi serta memproses hukum para oknum mahasiswa “liar” tersebut, sehingga nama kampus kembali jadi baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s