CH (81): Kristen (yang) Protes(t)-an

Catatan dalam Kitab Suci dan buku sejarah manusia menunjukkan bahwa orang Kristen Protestan adalah orang-orang yang suka protes. Namun, yang perlu digarisbahwai bahwa protes disini bukan sekedar protes tanpa maksud, tapi menyampaikan buah pikiran secara kritis dan didasarkan dari pembaruan budi dan kekuatan iman, dan bukan dengan amarah, apalagi demi kepentingan tertentu.

Menurut Wikipedia, secara etimologi kata Protestan berasal dari bahasa Latin berarti protes, protes disini merujuk kepada apa yang dilakukan oleh Martin Luther.

Martin Luther merupakan seorang professor dan Rabi Gereja katolik. Pada tahun 1517, Ia yang melayangkan protes kepada Gereja Katolik terhadap perilaku korup. Protes Martin Luther dilakukan dengan menempelkan 95 buah-buah pikirannya di gerbang gereja di Universitas Wittenberg. Secara umum, dalam 95 buah pikirannya itu ia mengkritik Gereja Katolik yang menjual surat pengampunan dosa. Dengan membayar sejumlah uang, orang akan menerima surat pengampunan dosa. Sudah tentu, hanya orang berduit saja yang bisa membelinya. Uang yang terkumpul diguanakan untuk membangun Kathedral St. Peter’s Basilica. Hal itu menurut Martin Luther sangat bertentangan dengan ajaran Alkitab. Tak pelak, pro-kontra di masyarakat Eropa terjadi. Bahkan sampai berujung kepada perang.

Yang perlu dicatat adalah tanpa sikap kritis dan tentu keimanan yang tinggi, tentu Marthin Luther tidak akan mampu melakukan itu.

Jauh sebelum Martin Luther, Alkitab juga mencatat bagaimana Allah mengirimkan nabi-nabinya untuk menata kembali perilaku menyimpang umat-Nya. Dalam perjanjian baru juga dapat kita baca sepak terjang para Rasul. Paulus mengirimkan surat-suratnya kepada jemaat Tuhan, berintikan memberikan arahan, bimbingan, ataupun kritik atas umat yang mulai terlena dengan kemapanan.

Sikap kritis dikalangan umat pemeluk Kristen Protestan juga dapat dilihat dari perkembangan sejarah bangsa ini. Terkhusus bagaimana mereka memainkan peran sebagai cendekiawan Kristen dalam proses kemerdekaan. Jika kita lupa, masih ingatkah sejarah yang menunjukkan bahwa para cendekiawan Kristen ikut membangun negeri ini kearah republic, sebut saja T.B. Simatupang, Slamet Riyadi, W.R. Supratman, R.W. Monginsidi, Leimena, A.A. Maramis, Sam Ratulangi, dan masih banyak lainnya.

Terakhir, dapat dicatat keberanian tokoh-tokoh agama Kristen Protestan yang ikut kritis terhadap pemerintahan SBY.

Dari catatan sejarah tersebut, dapat kita pahami bahwa Kristen Protestan tidak lepas dari sikap kritis. Namun sikap kritis seperti tertulis dalam sejarah dan Kitab Suci tersebut bukanlah timbul dengan sendirinya. Salah satu dari ayat Alkitab menuliskan sebagai berikut:

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2).

Ada 2 hal yang dapat kita tangkap dari ayat tersebut: (1) pembaharuan budi; dan (2) kehendak Allah. Kata budi di sini berarti pikiran. Pikirian yang  akan berkembang  jika diisi dengan ilmu yang berkenan di mata Tuhan. Sedangkan kehendak Allah akan dapat kita ketahui dalam Alkitab. Dan semua terbalut dalam doa kepada-Nya.

Ketika kita diperhadapkan dengan masalah, dimana saja di lingkungan kerja, keluarga, dan kehidupan berbangsa, ketika kita mengalami dilema kehidupan yang menutut jawaban, ketika kita melihat perilaku menyimpang di depan mata kita. Maka kita akan memutuskan dengan sikap yang kritis, dengan bertanya:

a. Apakah wacana kritis/masalah/perilaku itu bersifat membangun diri sendiri dan orang lain?

b. Dan yang terpenting: apakah wacana kritis itu tidak bertentangan dengan firman Tuhan dalam Alkitab?

Dua kalimat Tanya di atas, dapat gunakan dalam pengambilan keputusan menghadapi berbagai macam pilihan/masalah, ketika ingin bertindak, ataupun ketika melihat kejadian-kejadian yang tampak dimata saya.

Ketidakmauan kita sebagai orang-orang penganut Kristen Protestan, untuk memahami ataupun mengkritisi apa yang terjadi dalam diri sendiri, masyarakat, tempat kerja adalah bentuk ketidakmampuan kita untuk memahami hakikat perubahan budi diri sendiri sebagai upaya untuk memahami keimanan kita kepada Tuhan. Amin. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s