CH (92): Learning Organization

Konsep Learning Organization atau Organisasi Belajar (OB) untuk pertama kali saya baca lewat buku pengukuhan Prof. Hendrawan Supratikno, S.E., M.B.A., Ph.D., walau buku itu terbit November 2001, namun ada sejumlah hal menarik yang dapat kita pelajari, terutama bagi individu yang saat ini ada dalam organisasi.

OB (Learning Organization) is the term given to a company that facilitates the learning of its members and continuously transforms itself.

Setiap organisasi, menurut Hendrawan, adalah depo pengetahuan dan sistem pembelajaran yang unik, keduanya terakumulasi dan terjalin melalui proses keseharian organisasi. Jika organisasi dipandang sebagai sistem pembelajaran, maka daya saing tergantung pada kapasitas organisasi dalam belajar. “The rate in wich individuals and organizations learn may become the most sustainable competitive advantage,” demikian ungkap Hodgson dalam bukunya Evolutionary and Competence-Based Theories of the Firm, seperti dikutip Hendrawan.

Daya saing organisasi, seperti reputasi, ekuitas merk, etos kerja pegawai, kesetiaan pelanggan, adalah aset tak terlihat

Hendrawan seakan memberikan penekanan ketika ia menyatakan bahwa tanpa komitmen terhadap proses pembelajaran, organisasi tidak akan mampu meningkatkan kinerjanya dari waktu ke waktu.

Ada sejumlah keuntungan ketika sebuah organisasi memiliki OB, seperti ditulis Wikipedia ada enam, yaitu: (1) Maintaining levels of innovation and remaining competitive; (2) Being better placed to respond to external pressures; (3) Having the knowledge to better link resources to customer needs; (4) Improving quality of outputs at all levels; (5) Improving corporate image by becoming more people oriented; (6) Increasing the pace of change within the organization.

Apa yang terjadi jika sebuah organisasi tanpa modal pengetahuan organisasi? Hendrawan menjawab, “strategi yang berhasil tidak lebih hanya soal keberuntungan sejarah atau suatu kejadian acak”. Tanpa belajar, organisasi akan menggulang terus kebiasaan lama, perubahan hanya bersifat kosmetik dan tidak lama.

Peran organisasi dalam kerangkan OB adalah memberikan memfasilitasi proses belajar, dengan mendorong dan memberi insentif kepada siapapun untuk terus belajar. Proses-proses yang dapat ditempuh adalah melalui diskusi, dialog, eksperimen, sharing pengalaman, ataupun lewat pengamatan. Pengetahuan baru selalu bermula dari individu.

Pertanyaan sederhana bagi kita semua yang ada dalam organisasi: Apakah kita sebagai individu telah diberikan kesempatan atau memiliki komitmen untuk masuk dalam OB? Jika belum, berarti ada masalah dengan organisasi secara lembaga dan diri sendiri sebagai bagian dari organisasi. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s