CH (93): Christianity “For Sale”

Seorang atau kelompok yang beragama Kristen yang “menjual” identitas ke-Kristenannya untuk mencari keuntungan diri sendiri dan/atau untuk kelompoknya. Demikian makna Christianity “For Sale” (menjual ke-Kristenan) yang saya maksud. Fenomena ini, menurut pandangan pribadi saya, berkembang cukup pesat terutama di lembaga-lembaga yang berlebel Kristen.

Tidak hanya materi ataupun jasa yang dapat dijadikan barang jualan di sepanjang masa kehidupan umat Kristen, namun sering kali identitas ke-Kristenan dijadikan barang dagangan yang mampu mengeruk keuntungan. Lihat saja sejumlah lembaga Kristen yang dengan giat menggalang dana untuk kegiatan atau untuk bencana. Bukan berarti penggalangan dan aitu salah, namun yang perlu dipastikan adalah niat dan komitmen lembaga tersebut dalam melakukan proses penggalangan dana. Ketika niat dan komitmen hanya didasarkan pada semangat menaikkan citra lembaga, mendapat pemasukan untuk diri sendiri, ataupun disalurkan hanya untuk kelompok/orang-orang tertentu dengan maksud kepentingan, maka lembaga tersebut telah menjual ke-Kristenan.

Ada juga embel-embel Kristen yang digunakan untuk mencari kerja. Tidak salah sih menjadi Kristen dan bekerja, tapi ketika identitas ke-Kristenan ditonjolkan hanya saat melamar/mencari kerja, tapi setelah diterima perilakunya sama saja dengan orang serakah dan senang dengan uang, itu sama saja menjual ke-Kristenan.

Begitu juga dengan institusi pendidikan. Berlebel Kristen, namun sayang berperilaku seakan-akan tidak pernah mengenal Tuhan.Tidaklah salah menggunakan nama Kristen sebagai nama institusi pendidikan, namun ketika Kristen hanya dipakai sebagai papan nama saja, dan tidak dilakukan secara patut dan layak oleh civitas akademikanya (terutama para pemimpin institusi), maka itu sama saja dengan menjual ke-Kristenan. Padahal jelas banyak ayat yang mengingatkan lembaga pendidikan Kristen untuk patuh dan tunduk kepada ajaran, ambil contoh Amsal 1:7 “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”. Jelas, ayat ini dengan sangat terang benderang mendasarkan pencapaian kesempurnaan ilmu pengetahuan ada ketika orang-orang yang ada dalam proses belajar mengajar tunduk terlebih dahulu kepada Tuhan.

Dan masih banyak lagi dan lagi, dari cara-cara menjual ke-Kristenan dalam kehidupan masyarakat Kristen. Terus berkembang, sepanjang Kristen ada. Terus ada, selama uang tetap menjadi tujuan. Akan ada, selama manusia tidak pernah takut kepada Tuhan. Dan selalu ada, ketika ajaran hanya dikecap seujung bibir saja…(sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s