CH (99): Majalah Ikasatya, Menjual “Masa Lalu”

Hari ini (31/03), saya menerima kiriman Majalah Ikastya (Ikatan Alumni Universitas Kristen Satya Wacana) edisi pertama. Majalah yang tampil lux,dan dengan jumlah halaman sebanyak 24 tersebut, menurut pendapat saya lebih terkesan menjual kenangan masa lalu sebuah lembaga bernama UKSW, atau mungkin karena memang dikhususkan untuk para alumni.

Tiga artikel yang berbicara tentang alumni UKSW kebanyakan bercerita tentang sang tokoh dan masa lalu mereka sewaktu di UKSW dan saat membangun karir di awal. Sang tokoh pertama, Elman Saragih, Pemimpin Redaksi Metro TV, bercerita dalam “Semua Karena Kuasa Tuhan”. E. Saragih yang adalah alumnus Fakultas Ekonomi, merekam dalam ingatannya, seperti tersaji dalam paragraf-paragraf awal bagaimana cerita pengalaman dari Siantar menuju Salatiga. Cerita “meminta paksa” uang dari dosen-dosen pun terselip. Dipertengahan artikel, keponakan Bungaran Saragih itu mulai merintis karir setelah lulus Sarjana Muda UKSW, mulai dari Suara Karya, Harian Prioritas, hingga di Media Indonesia. Di akhir artikel, E. Saragihmasih mengenang Salatiga dengan berkunjung ke Kota kecil itu bersama keluarga.

Lalu ada Sudhamek, Presiden Direktur GarudaFood, berkisah di “Sudhamek: Ikatan Alumni Sangatlah Penting Untuk Memberikan Masukan Kepada yang Lebih Muda”. Kalimat pertama dalam paragraf pertama dimulai dengan ide masa kuliah tidak dapat terlupakan. Semakin kuat dengan ucapan, “Selama kuliah, lebih banyak sukanya daripada dukanya…”, dan dilanjut dengan hobi gebut selama kuliah, namun tidak menyurutkan nilai kuliah. Kenangan nyolong klengkeng bapak pemilik kos bersama rekan-rekan kos-nya pun dituangkan. Setelah berhasil lulus dari 2 fakultas, Fakultas Hukum dan Ekonomi, Sudhamek menjalani karirnya di Gudang Garam. Beberapa petuah bagi para mahasiswa disampaikan lumayan panjang, setengah dari panjang artikel. Intinya adalah agar mahasiswa mencari ilmu, bukan terpatok pada nilai saja. Makna filosofinya adalah mencari ilmu tidak dibatasi dengan nilai.

Dan terakhir, Dyah Adhi Astuti, Senior Vice President, Head Human Resource Wholesale Banking and Support Permata Bank, dalam kisah “Berkomitmen Memajukan UKSW”. Mbak Tituk, panggilan akrab Dyah Adhi Astuti, menajamkan semangat kepemimpinannya sejak kuliah lewat Latihan Dasar Kepemimpinan, dan kesempatan menjadi mahasiswa pertukaran ke Jepang. Mirip Sudhamek, Mbak Tituk menyelipkan juga kenangan dan harapan untuk UKSW.

Memaknai “Masa Lalu”

Memang masa lalu adalah bagian yang tidak dapat terlupakan dan terpisahkan dari diri seseorang atau lembaga, dan sering kali hal itu “dijual”, hanya untuk sekedar mendapatkan kembali kepercayaan diri dan kadang juga harga diri, walau hanya sesaat. Bagaikan candu yang memabukkan, masa lalu adalah obat penghantar untuk mabuk kepayang. Walau sekejap, cukuplah, toh esok hari kembali candu bisa tersaji.

Memang benar kita tidak boleh melupakan sejarah, apalagi sampai “lupa kacang dari kulitnya”, namun kadang sangatlah naïf jika kebanggaan akan masa silam, hanyalah digunakan sebagai alat untuk menolak realitas masa kini yang sulit. (sfm).

2 thoughts on “CH (99): Majalah Ikasatya, Menjual “Masa Lalu”

  1. Memang benar kita tidak boleh melupakan sejarah, apalagi sampai “lupa kacang dari kulitnya”, namun kadang sangatlah naïf jika kebanggaan akan masa silam, hanyalah digunakan sebagai alat untuk menolak realitas masa kini yang sulit. (sfm).

    Apa memang realitas masa kini sulit? Apanya yang sulit? Apanya yang ditolak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s