CH (109): The Immortal Law

Para pakar hukum Indonesia “menggugat” keberadaan hukum yang sekarat melawan keserakahan manusia. Kasus Gayus dengan sangat gamblang memperlihatkan kepada kita ketidakberdayaan itu. The Law is dying. If the law is dying, is there any justice? Tentu masih ada, selama hayat masih dikandung badan, akan selalu ada keadilan dalam diri the Immortal Law (IL).

Immortal berarti keabadian, sehingga IL menunjuk akan keabadian hukum. Mirip dengan filosofi manusia dalam konteks kehidupan, IL bersemayam dalam setiap jiwa dan pikiran manusia, dan bukan raganya. Raga adalah materi hukum dalam bentuk konkret, terlihat. Walaupun raga harus didera dengan aniaya, hingga berdarah, lalu menemui ajal, namun spirit, jiwa, buah pikir, akan selalu ada dan dikenang, immortal.

Esensi The spirit of IL akan selalu sama dari jaman ke jaman, dan waktu ke waktu, berbeda dengan raga yang selalu berubah mengikuti perkembangan waktu dan jaman. IL berbicara tentang keadilan manusia yang hakiki, sedangkan raga memaknai secara subjektif cara pandang tersendiri.

IL melampaui aras pemikiran manusia, terangkum dalam jasad alam yang telah lama ada, bahkan jauh sebelum manusia. Karena sejatinya, IL ada dalam cahaya keagungan Sang Pencipta. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s