CH (114): Jelang Penerimaan Mahasiswa Baru

Minggu ini, Siswa-Siswi Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan (SMA/K) seluruh Indonesia mengikuti Ujian Nasional (UN). UN menjadi tahapan akhir sebelum masuk ke tingkat pendidikan tinggi, tentu bagi mereka yang akan meneruskan pendidikannya. Walaupun banyak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) telah berpromosi sebelum, namun setelah mengakhiri tahap tersebut akan mampu menaikan jumlah pelamar.

PTS memang sangat memberikan fokus kepada penerimaan mahasiswa baru, hal ini dapat dipahami karena banyak PTS sangat bergantung kepada dana yang didapat dari mahasiswa, selain tentu ini masalah gengsi antar-PTS yang menurut saya sudah salah kaprah. Ketergantungan PTS, jika tidak ditangani dengan baik, tentu akan berdampak terhadap cara-cara PTS mempromosikan “dirinya” kepada masyarakat peminat.

Tidak ayal, ketergantungan itu mampu menurunkan derajat PTS, sehingga akan menerima siapa saja yang mendaftar. Walaupun ada tes dan semacamnya, itu hanya alat pengabur kepentingan yang sebenarnya (menerima semua). Memang benar, bahwa setiap warga negara berhak atas pendidikan yang layak, sesuai dengan amanat konstitusi, namun patulah kita secara jernih memahami maksud bijak yang terkandung dalam kalimat tersebut. Apalagi jika semakin dibalut dengan kepentingan Hak Asasi Manusia dan ayat-ayat suci, semakin membuat PTS (yang tidak mampu secara bijak melihat permasalahan tersebut) sangat tidak berdaya.

PTS akan terjebak mempromosikan kebesaran masa lalu, dan tentu menutupi realitas sulit yang terjadi saat ini, dan mungkin yang akan terjadi di masa depan. Ini cara lama dalam dunia marketing, sangat tradisional, namun jurus yang sangat efektif. Apalagi ditambah dengan memasukan profil alumnus, dengan jabatan-jabatan yang telah mereka genggam. Dari sudut lain, perpaduan kebesaran masa lampau dan kemampanan alumnus, mampu menjebak calon mahasiswa untuk masuk dalam perangkap sempit itu. Karena mereka tidaklah begitu mengenal sejarah, dan tidaklah memahami tentang pencapaian seseorang terhadap jabatan tidak semata-mata dilihat dari tempat dimana dia kuliah. Ada banyak faktor yang menentukan keberhasilan seseorang setelah lulus dari perguruan tinggi.

Ditengah dunia yang mulai pragmatis ini, maka tonggak keberhasilan seseorang banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya yang tidak pernah diajarkan dibangku kuliah. Seorang alumnus yang menjadi kepala daerah misalnya, apakah dia bisa dikatakan dapat meraih jabatan sebagai kepala daerah karena dia berkuliah di PTS A atau PTS B? Tentu tidak. Ketika seorang alumni mampu menjabat diposisi tinggi dalam pemerintahan, pernahkah kita bertanya, “Apakah dia menjabat karena kinerja atau karena kolusi-nepotisme, atau karena dia kuliah di PTS Z?” Ketika ada alumnus menjadi seorang hakim, apakah kita yakin itu karena kemampuannya berolah pikiran ketika memutuskan sebuah perkara, ataukah karena mampu “menyogok” untuk pencapaiannya itu, atau karena dia kuliah di Fakultas Hukum PTS SW? Jika demikian, apakah promosi berbasis masa lalu dan profil alumni telah cukup bijak untuk dilakukan?

Selain cara tersebut, banyak PTS menggunakan berbagai media untuk beriklan. Tak pelak, banyak media, baik elektronik, cetak, dan lainnya, menawarkan program-program khusus dan menggiurkan bagi perguruan tinggi jelang penerimaan baru. Dominan, dalam iklan-iklan tersebut, dihiasi dengan berbagai keunggulan perguruan tinggi, baik dari sisi fasilitas, kehebatan proses belajar-mengajar, ataupun beasiswa yang ditawarkan. Semua sangat menjanjikan, namun sayang kadang itu hanya janji manis  saja.

Tentang fasilitas, apakah itu gratis atau harus membayar? Bagaimana dengan aturan pemakaiannya? Bagaimana dengan proses belajar mengajar, apakah semua dosen dalam perguruan tinggi itu akan sebaik yang ada dalam iklan? Apakah sudah tidak ada lagi gaya-gaya dosen yang asal mengajar, asal memberi nilai? Asal mencari materi? Lalu beasiswa, siapa yang mendapat beasiswa? Apakah beasiswa itu diperuntukan bagi mahasiswa tidak mampu (lalu kenapa kuliah kalau tidak mampu), atau bagi mereka yang memiliki prestasi akademik yang tinggi? Berapa besar beasiswa yang akan di dapat? Adakah ketentuan-ketentuan bagi penerima beasiswa?

Tentu akan banyak yang menjawab, “Kan kita tidak perlu banyak detail saat beriklan Mas!”, saya pun setuju, bahwa kita tidak perlu detail dalam beriklan, karena space terbatas, harga mahal, dan cukup pada poin-poinnya, namun sayangnya adalah masyarakat kita masih kurang peduli dengan detail, sehingga tanpa bertanya lebih dalam melalui berbagai saluran yang telah disediakan, mereka sangat mudah memutuskan, dengan berkata, “Anak-ku, nanti kalo kamu kuliah di PTS A, kamu bisa dapat beasiswa, karena mereka menawarkan 2.000 beasiswa”. Lebih parah lagi ketika sang marketing menambahi dengan bumbu-bumbu, “Iya, kamu kan pinter, tuh lihat raportmu bagus-bagus, pasti nanti dapat beasiswa akademik, makannya masuk saja PTS kami”. is it fair?

Dan ketika jawaban-jawaban terhadap pertanyaan itu, baru di dapat saat sang mahasiswa telah masuk dalam “perangkap”, maka sulit untuk menagih kembali umbaran “bibir manis”, jawabannya cuman dua, yaitu (1) keluar mencari PTS lainnya, atau (2) diam dan menerima keadaan. Kalaupun ada alternatif ketiga, memperkarakan masalah itu ke pihak terkait, misalnya lewat lembaga kemahasiswaan atau Badan Eksekutif Mahasiswa, apakah akan ada gunanya? Skeptis, gamang, entahlah, kenapa? ketika sistem yang dimulai saat penerimaan mahasiswa baru saja penuh dengan buaian, dan bukan menyuguhkan realita, apakah kita masih memiliki keyakinan bagi penyelesaian masalah itu? Aku masih teringat ketika masih aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, dan memiliki kesempatan untuk bertanya kepada pimpinan PTS, “Kemana larinya uang mahasiswa, kenapa tidak ada dana bagi kegiatan kami?”, dengan mantab sang pimpinan berucap, “Uang yang kalian setor masuk ke rekening kami, itu uang kami, kalian tidak perlu tau!”.

Bagi adik-adikku calon mahasiswa baru, pesanku untuk anda-anda semua, “Janganlah berfikir bahwa glamour-nya sebuah PTS, atau masa lalu yang prestisius, atau iming-iming indah, dan lainnya, menjadi satu-satunya acuan bagi pengambilan keputusan. Berfikirlah dengan jernih dan kritis. Bertanyalah. Dan tentu tidak lupa untuk berdoa mohon petunjuk yang terbaik.” (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s