CH (115): Sepenggal Bait Puisi (yang) Hambar

Sudah lama tidak melihat pertunjukkan teater di kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), membawa langkahku menonton Gebyar Pentas Teater Tilar Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), semalam (19/04). Jika diijinkan berterus terang, maka apa yang disajikan selama kurang lebih dua jam tersebut, bagai merasakan “sayur tanpa garam”.

Sinopsi

Lakon yang diusung pentas Tilar kali ini berjudul, “Sepenggal Bait Puisi Hampa”. Bercerita tentang sosok laki-laki bernama Sanjay yang mengalami depresi berat, hingga berujung masuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Pangkal depresi Sanjay karena tekanan akibat penolakan orang tua kekasihnya atas hubungan mereka, diperparah dengan meninggalnya sang kekasih. Alasan klasik penolakan akibat perbedaan status.

Sanjay memiliki seorang sahabat dekat, selalu ada dekat dengan Sanjay, Karim namanya. Perhatian Karim yang berlebihan terlihat dari monolog dan dialog yang terjadi. Yang cukup menggagetkan adalah pengakuan Karim kepada seorang perempuan yang “sayang” kepada Karim, Mitha. Karim mengaku dia “Gay”, dan mencintai Sanjay.

Di RSJ, hari-hari Sanjay diisi dengan halusinasi akan sang kekasih, hingga suatu saat Sanjay bertengkar hebat dengan seorang penghuni bertubuh besar dan kasar. Tak terhindar perkelahian, dan berujung tewasnya Sanjay.

Pada bagian akhir, penonton dibawa dalam pemandangan “alam akhir”. Sukma Sanjay yang hendak masuk, ditolak oleh sosok-sosok hitam. Namun tidak lama, Sesosok putih menolong Sanjay, dan akhirnya sukma Sanjay mampu masuk, dan bertemu dengan sukma sang kekasih. Mimik bahagia tampak dari kedua wajah mereka.

Hambar

Sering melihat dan pernah merasakan pentas teater di masa lalu, membuat aku menilai apa yang ditampilkan teman-teman dari Teater Tilar terasa hambar. Hambar pertama, tampak performa para pemain tidak total. Hal ini diperparah dengan penggunaan wireless microphone, yang menggangu karena suara kadang terdengar kadang tidak.

Kedua, tata lampu yang buruk. Tilar tidak serius menggarap tata lampu, hal itu dapat terlihat dari jenis lampu yang digunakan, bukan untuk pertunjukan teater, tapi musik. Baru kali ini, saya mendapati pemain keluar dari panggung, setelah akhir dari pentas, tanpa ditutup dengan black out. Tentu sangat membinggungkan, apakah cerita telah selesai, atau masih berjalan.

Ketiga, alur cerita yang bertele-tele. Saya sulit menemui klimak dalam cerita ini. Ada klimak-klimak kecil, namun itu tidak mampu membawa greget bagi penonton.

Terakhir, waktu yang molor. Menurut info, seharusnya acara dimulai pukul 17.30, namun “tirai baru dibuka” sekitar pukul 20.00. Walau disuguhi dengan lagu dari band-band mahasiswa-alumni, namun mood penonton lumayan terganggu. Ibarat harus menunggu makan malam, sayang sang koki baru menyajikan makanan dua setengah jam setelah memesan.

But Anyway

Sehambar-hambarnya sayur, akan tetap dimakan, karena tau kebaikan sayur bagi tubuh. Mula-mula, saya mengapresiasi sikap penonton yang mulai dewasa. Penonton cukup baik untuk menahan sorakan-sorakan yang tidak perlu, cukup patuh mengikuti tata-tertib panitia, berbeda seperti yang terjadi dalam pementasan-pementasan teater yang pernah saya tonton di kampus.

Saya juga sangat mengapresiasi eksistensi Teater Tilar yang mampu tetap eksis hingga hari ini, mengingat sejumlah teater mahasiswa baik yang ada di tingkat universitas maupun fakultas telah mati, ataupun mati suri. Saya pun berterima kasih, karena Tilar mampu menghadirkan tontonan yang berbeda di kampus ini, bukan sekedar seminar, musik, ataupun olah raga. Dan semoga, pementasan tersebut mampu menjadi penyemangat bagi teater-teater lain di UKSW untuk kembali eksis, dan memberikan persembahan lakon-lakon bagi civitas dan tentu masyarakat umum. Salam Budaya. (sfm).

7 thoughts on “CH (115): Sepenggal Bait Puisi (yang) Hambar

  1. Mas mas mengkritik teater mana itu teater Tilar????
    Yang kemaren main itu teater TiLaR….
    Nama TiLaR mengandung filosofi yang sangat kuat di dalam jiwa kami…
    jadi tidak hanya sekedar nama lowh… ^^

    Terus Mitha itu kekasih Sanjay yang mati…
    Pengakuan karim itu kepada wanita bernama Naryowati…

    Hal pertama yg perlu diketahui, BU bukan gedung teater, jadi harus pake microphone untuk menambah volume suara. Mengingat juga tembok BU didesain kedap suara
    Terima kasih untuk evaluasinya

    Hal kedua soal tata lampu, apakah anda tau bagaimana tata lampu yg baik?
    Sekali lagi kami tidak pentas di gedung teater sehingga harus memakai lampu yg bukan lampu teater
    Terima kasih untuk evaluasinya

    Hal ketiga dalam teater interpretasi penonton memang selalu berbeda jadi saya maklumi itu

    Hal keempat soal waktu molor, bagaimana pertunjukan dimulai tanpa penonton???
    Sekali lagi terima kasih atas evaluasinya

    Kami teater TiLaR adalah sekelompok mahasiswa pecinta seni
    Bahkan kmi juga berdiri di bawah Fakultas Ekonomika dan Bisnis
    Yang sama sekali tak mengandung unsur seni
    Dimana didalamnya juga banyak mahasiswa fakultas lain
    Kami juga tidak punya mata kuliah pertunjukan
    Kami pure belajar sendiri dengan pengetahuan yang kami cari sendiri

    Terima kasih ^^

  2. saya baca…isinya belum begitu menyentuh jiwa saya.. ya untuk yang masih pemula isi puisinya sangat baik untuk menentukan karakter pribadi homo sapien….dimana untuk sekarang ini sifat karakter homo sapiens sudah hilang ditelan oleh peradaban yang tidak jelas…Untuk saudara saam dilanjutkan terus puisinya jangan lelah bekerja di bidang seni oce…semangat..juang…merdeka..mejuah-juah kita kerina….cayo..gbu…

  3. kritikan yang membangun..
    terima kasih sudah memberi masukan dan pendapat..
    dengan tulisan di wordpress ini semoga temen2 tilar lebih maksimal lagi dalam berperan..
    dari waktu, penggarapan naskah, dan memaksimalkan tata lampu..
    terima kasih.. salam budaya..

  4. mas,saya pny lagu untuk anda..

    Sedikit ngerti ngaku udah paham
    Kerja sedikit maunya kelihatan
    Otak masih kaya ‘TK,
    Koq ngakunya Sarjana
    Ngomong-ngomongin orang
    Kaya udah jagoan…

    Tonk kosong nyaring bunyinya
    Klentang-klentong kosong banyak bicara
    Oceh sana-sini ngak ada isi
    Otak udang ngomongnya sembarang

    mgkn ini pas..
    mksh untk evaluasinya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s