CH (119): Klenik Bukan Satya Wacana

Saat menghantarkan kotbah dalam perayaan Paskah 2011 di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Senin kemarin (25/04), Pdt. Drs. Sugeng Mulyanto, S.Pd., M.A., sempat bercerita sedikit tentang perilaku kurang “ber-Satya Wacana” seorang mahasiswi.

Cerita itu dimulai saat Pak Pendeta Sugeng hendak menjemput keluarganya di stasiun, sekitar pukul 02.30 dini hari. Berangkat dari rumah pukul 02.00, saat dalam perjalanan, Pendeta Gereja Kristen Jawa (GKJ) Jatingaleh tersebut melihat dua sosok manusia berjenis kelamin perempuan sedang melintasi jalan. Pak Pendeta pun menghentikan kendaraannya, dan membatin kira-kira, “Saya kenal perempuan itu”.

Perempuan yang lebih muda menuntun perempuan yang lebih tua menuju ke suatu tempat, dan merekapun tampak membuang sesuatu. Tertarik mengetahui apa yang dibuang oleh orang yang dikenal-nya itu, Pak Pendeta turun dari kendaraan dan melihat bahwa yang dibuang adalah “sesajen”. Entah apa yang dipikirkan Pak Pendeta, beberapa benda “sajen” itu dibawa pulang Pak Pendeta, katanya mau dimasak, lalu dimakan.🙂

Suatu kesempatan, Pak Pendeta mengajak berbicara perempuan muda itu, kebetulan dia adalah jemaat di gereja Pak Sugeng. Selidik punya selidik, sang perempuan muda melakukan itu karena dia takut tidak lulus ujian skripsi yang sebentar lagi akan dihadapinya. Sang perempuan muda berkuliah di sebuah PTS di Salatiga. Pak Pendeta pun berkata kira-kira demikian, “Kanapa harus takut, kamu kan punya Tuhan Yesus”.

Demikian cerita Pak Pendeta Sugeng yang beliau sampaikan kepada kurang lebih 400 peserta Ibadah Paskah di Balairung Universitas.

Spontan Saya berbisik kepada teman sebelah saya, sembari berkata, “Ada benarnya yang disampaikan oleh Pak Pendeta itu.” Ya, sewaktu Saya kuliah pernah mengetahui sejumlah teman kuliah, baik laki-laki maupun perempuan, yang menggunakan jasa orang pintar (alias dukun) untuk “menaklukan dosen”.

Jika ada yang bertanya, “Apakah bisa seorang berpendidikan tinggi (entah Doktor, Profesor, dll) dikalahkan dengan hal-hal seperti itu?”. Jawabku, “Kenapa tidak, karena tingginya gelar akademik tidaklah selalu berkorelasi dengan tingginya keimanan seseorang”.

Tidak

Saya setuju kepada Pendeta Sugeng, bahwa perilaku perempuan muda itu, tidaklah “ber-Satya Wacana”, yang memiliki arti setia kepada Firman. Banyak ayat dapat digunakan untuk menolak perilaku itu, salah satunya, “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan…Amsal 1:7”.

Melalui cerita itu, tampaknya Pak Pendeta Sugeng ingin mengajak para hadirin untuk tidak mengalahkan Tuhan dengan perilaku-perilaku yang tidak takut kepada Tuhan. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s