CH (126): “Kucing” dan Butet Kertaradjasa


Pentas Teater Monolog Butet Kertaradjasa dengan lakon “Kucing” karya Putu Wijaya, Jumat (29/03), menjadi ajang “reuniku” dengan Butet, selain tentunya menikmati suguhan akting monolog pemain teater dengan jam terbang tinggi. Namun dibalik itu, ekspektasi penonton tidak sepenuhnya terpenuhi.

Sebelum hadir dengan “Kucing” arahan sutradara Whani Darmawan, Putra Seniman Bagong Kassudiardja itu pernah berkunjung ke Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), tahun 2006, membawakan lakon monolog “Matinya Toekang Kritik” (MTK), karya Agus Noor. Aku turut menonton bersama kira-kira 1.500 penonton malam itu. Berbeda dengan MTK, lakon “Kucing” lebih sederhana. Hal itu dapat dilihat dari setting maupun dalam tema lakon.

“Kesederhanaan” itu tidaklah masalah bagi penikmat teater seperti aku, bukan itu sih yang paling utama. Karena menurut aku yang penting adalah kualitas akting bermonolog. Pria yang mulai aktif berteater sejak 1978 itu, mampu memainkan dengan apik, sosok laki-laki sederhana dengan masalah-masalah keseharian. Pesan yang disampaikan tentang “masalah sehari-hari” adalah bagian yang riil ada dalam diri manusia, mampu aku tangkap dengan sempurna.

Bagi yang mendadak suka Butet, mungkin karena pernah melihat sentilan-sentilun di Metro TV, ataupun karena nama besar Butet yang indentik dengan dagelan politik, pasti rada kecewa. Kenapa? Karena mereka tentu menunggu-nunggu umbaran kritik/dagelan/sindiran politik selama pertunjukkan. Namun sayang, Butet hanya menyinggung itu sesekali saja, tidak terlalu dominan, tidak sedominan ketika ia bermain dalam MTK.

Sesekali itupun bagi aku semacam memberikan pesan kepada “penonton dadakan”, bahwa benar yang bermain dalam “Kucing” itu adalah Butet, yang mereka kenal dalam sentilan-sentilun, dll, yang kesemua identik dengan banyolan politik.

Well, saya haturkan terima kasih ke Mas Butet dan kru, Djarum, serta Fiskom UKSW, yang mampu merealisir kehadiran Butet di UKSW. Selain memberikan tontonan yang berbeda bagi civitas serta masyarakat Salatiga, pentas monolog kemarin semakin memperkaya referensiku. Salatiga sendiri menjadi tempat pertama bagi road show “Kucing”, selanjutnya Semarang, Solo, Kudus, Pekalongan, Tegal dan Purwokerto, akan dikunjungi. (sfm).

3 thoughts on “CH (126): “Kucing” dan Butet Kertaradjasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s