CH (138): Dosen “Ala Kadarnya” UKnD

Universitas Kelakuan nDeso (UKnD) yang sangat disegani seantero negeri pada era 80 dan 90an, dikenal dengan sekumpulan sumber daya pengajar (dosen) yang “jempolan”. Tidak sembarangan orang mengajar di UKnD waktu itu, tidak terkecuali para lulusan perguruan tinggi paling top milik pemerintah yang ingin mengajar di UKnD.

Pimpinan UKnD saat itu mengerti benar bahwa dengan menjamin sumber daya dosen yang berkualitas, maka mutu lulusan dapat dijamin. Hal itu terbukti, lulusan UKnD malang-melintang diberbagai perusahaan besar, baik milik swasta maupun pemerintah. Bahkan salah satu perusahaan top pertambangan multinasional di dunia, kerap turun “menjemput” lulusan UKnD melalui recruitmen on campus. Intinya, lulusan UKnD dihargai dan disegani dunia kerja.

Tidak hanya menjaga mutu lulusan, dengan kualitas dosen yang jempolan itu, penelitian-penelitian unggul pun dihasilkan. Berbagai jurnal, baik yang berstandar nasional dan internasional, menjadi langganan tulisan mereka. Tak pelak, UKnD menjadi terkenal dengan pemikir-pemikir ulung dan menjadi bahan referensi nasional. Sejumlah instansi negara sering mengundang pakar-pakar UKnD untuk memberikan masukan.

Ketat

Seleksi ketat calon dosen UKnD saat itu diberlakukan. Tidak saja aras pimpinan fakultas ataupun universitas, mahasiswa melalui Dewan Kehormatan Mahasiswa (Dekam) punya “hak” untuk memberikan penilaian. Satu catatan penting, penilaian yang dilakukan Dekam tidak dipandang sebelah mata oleh pimpinan UKnD.

Dosen yang telah diterima pun tidak lolos dari penjaminan mutu. Ada sejumlah dosen yang melakukan “pelacuran akademik” mendapatkan vonis tegas, yaitu harus hengkang dari UKnD. Ada dosen yang bertindak sewenang-wenang terhadap mahasiswa, disambut dengan demonstrasi mahasiswa dan “panggilan” dari pimpinan.

Salah satu fakultas yang sangat ketat menjaga mutu dosennya adalah Fakultas Perteknikan (FP). Entah sudah berapa banyak dosen bermutu rendah “ditendang” keluar dari FP.

“Ala Kadar”

Namun cerita hebat tersebut hanyalah cerita masa lalu. Semenjak UKnD mengalami gesekan di pertengahan tahun 90an, sejumlah dosen berpredikat “pendekar wahid” harus angkat kaki karena tidak puas dengan kebijakan antidemokrasi pimpinan UKnD. Kekuatan dosen berkualitas hilang hampir separuh lebih.

Kekosongan posisi dosen di UKnD waktu itu, tampaknya disikapi serampangan (tidak terencana) dan kurang bijaksana oleh yayasan dan pimpinan UKnD. Sejumlah pegawai bukan dosen dialihfungsikan menjadi dosen, tanpa seleksi yang jelas. Lebih parah lagi, kebijakan asal terima calon dosen tanpa melalui saringan yang ketat, membuat faktor kualitas dosen tidak mendapatkan perhatian. “Yang penting mereka mau ngajar dan patuh kepada pimpinan yang berkuasa saat itu,” demikian ucap seorang saksi sejarah yang enggan disebut namanya.

Gumpalan bola salju menggelinding kian membesar. Sejumlah dosen asal “comot” (Asmot) dan asal terima (Asma), saat ini menjadi dosen senior dan banyak yang menduduki posisi strategis di UKnD. Para Asmot dan Asma inilah yang mendominasi kehidupan baik akademik maupun nonakademik UKnD saat ini. Dengan standar yang Asmot dan Asma, mereka menjalankan roda akademis di UKnD.

Salah satunya adalah standar yang digunakan Asmot-Asma ketika melakukan seleksi calon dosen. Berbeda dengan UKnD tempo dulu (yang terkenal ketat), standar yang digunakan sekarang adalah asal kenal (Asnal) dan asal suka (Assu), atau istilah kerennya nepotisme. Dengan standar Asnal dan Assu, seorang calon dosen UKnD tidak perlu yang berkualitas. Karena pimpinan bergaya Asmot dan Asma, bukan berpatokan kepada kualitas, namun lebih kepada membangun imperium. Dan ini mengarah ke hegemoni satu kelompok dalam kehidupan akademik UKnD yang plural.

Jadi tidak heran jika, ada dosen UKnD yang hanya memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dibawah 2,5. Atau ada dosen UKnD yang tidak bisa mengajar, apalagi menulis untuk jurnal penelitian. Jangankan jurnal penelitian, menulis untuk dipublikasikan di media cetak pun, minta ampun sulitnya. Demikianlah dosen “ala kadar”.

Dosen “ala kadar” ada karena memang diperlukan dan diadakan, dengan alasan yang kadang mengelikan logika akal sehat manusia (karena memang tidak punya akal sehat?). Lalu, siapa yang akan dirugikan? Tidakkah pimpinan UKnD sadar, bahwa dengan cara-cara itu mereka sedang menggali tidak hanya kubur mereka sendiri, namun kubur segenap civitas akademika UKnD?

Kusak-kusuk ditingkat mahasiswa akan hadirnya dosen “ala kadar”, tampaknya hanya menjadi konsumsi mahasiswa yang punya kepedulian, namun sayang jumlahnya hanya sedikit. Karena kebanyakan mahasiswa UKnD, tidak terlalu ambil pusing dengan mutu dosen, yang penting adalah lulus dan dapat ijasah.

Dekam yang berubah wujud menjadi Lembaga Mahasiswa (Lemas), tampaknya acuh tak acuh saja akan permasalahan itu. Mungkin mereka sudah capai dan letih untuk mengingatkan pucuk-pucuk pimpinan UKnD, atau memang tidak punya keberanian?

Kedepan

“Saya hanya bisa berdoa mas, agar Tuhan memberikan ampun-Nya”, ucap seorang pegawai bersih-bersih dengan nada bergetar ingin menangis. Menurut pegawai yang enggan disebut namanya itu, UKnD telah tercabut dari akar historis dan melenceng dari visi dan misi awalnya.

Menatap masa depan UKnD dalam balutan kekuasaan Asmot, Asma, Asnal, dan Assu, banyak pihak yang meragukan eksistensinya. Jikapun UKnD akan tetap berdiri, itu bukan karena hasil kejeniusan pemikiran para awak dosennya atau visi dan misi luhur para pendirinya, akan tetapi karena kepentingan pemenuhan pundi-pundi kekayaan, serta melanggengkan kekuasaan yang telah dibina. (sfm).

Baca juga:
CH (117): Tragedi Spanduk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s