CH (154): Dimanakah Anda? (Bag. 1 – 4)

Senin (30/05), saat menghantar firman di Balairung Universitas, Pdt. Yossi Nugraha sempat “menyentil” civitas akademik Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) tentang kehadiran mereka di Ibadah Senin. Ingat sentilan itu, saya ingat “Dimanakah Anda?”

Dimanakah Anda?  (Bag. 1)

Sudah menjadi tradisi, pelaksanaan Ibadah Senin di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) mengambil tempat di Balairung Universitas (BU) dan berlangsung setiap hari Senin, mulai jam 09.00 hingga 10.00 WIB. Semua aktifitas diberhentikan, dan semua pegawai, baik akademik (dosen) maupun pegawai nonakademik (nondosen) wajib berkumpul bersama-sama di BU.

Acuan yang menuntut kehadiran pegawai UKSW untuk ikut bersama-sama dalam Ibadah Senin terdapat dalam Statuta UKSW Tahun 2000, merupakan aturan paling tertinggi di UKSW. Pada Pasal 70 Tentang Hak dan Kewajiban Dosen, di ayat 9 ditegaskan bahwa dosen Wajib mengikuti kebaktian bersama Hari Senin dan berdoa pada pembukaan kuliah pertama dan penutupan kuliah terakhir setiap hari. Pengaturan tentang kewajiban mengikuti ibadah senin bagi pegawai nondosen tercantum dalam Pasal 75 Tentang Hak dan Kewajiban Pegawai Bukan Dosen, ayat 6 berbunyi Wajib mengikuti kebaktian bersama hari Senin dan berdoa pada permulaan dan akhir kegiatan pekerjaannya.

Pengaturan tentang kewajiban mengikuti Ibadah Senin tertera secara tegas pula dalam peraturan di bawah Statuta, yaitu Peraturan Kepegawaian di Lingkungan UKSW, yang ditandatangani tanggal 16 Februari 2005. Baik pegawai akademik maupun nonakademik wajib mengikuti kebaktian bersama hari Senin (Pasal 33).

Lalu, dimanakah anda setiap hari Senin, jam 09.00 – 10.00 WIB? Lalu kenapa masih terdengar kabar adanya perkuliahan yang dilakukan hari dan jam itu?

Dimanakah Anda?  (Bag. 2)

Pada suatu kesempatan bertatap muka dengan Pdt. Em. Dr. Sutarno, Rektor Ke-2 UKSW, dikediaman beliau di daerah Kemiri, Salatiga, pertanyaan seputar Ibadah Senin pun aku sampaikan. Awal perbicangan sebenarnya berawal dari permintaan kami dari panitia seminar untuk meminta kesediaan beliau menjadi narasumber dalam Seminar Kerohanian 2010 yang diadakan oleh Campus Ministry UKSW.

Pak Tarno, sebutan akrab Pdt. Em. Dr. Sutarno, tampak “heran” mendengar penuturanku perihal kewajiban pegawai akademik maupun nonakademik yang diatur secara khusus, baik di Statuta UKSW Tahun 2000, maupun dalam Peraturan Kepegawaian UKSW Tahun 2005. Pada jaman beliau menjabat rektor, aturan seperti itu tidak ada. Namun beliau “menekankan” bahwa aturan yang telah dibuat harus dilaksanakan. Karena jika tidak dilaksanakan, maka akan mengurangi wibawa aturan tersebut. Lebih baik tidak diatur jika tidak bisa dilaksanakan, daripada membuat preseden buruk.

“Hmmm…benar juga ucapan beliau”, kataku dalam hati. Kalau tidak diatur/diwajibkan, maka sah-sah saja ada pegawai baik akademik/nonakademik yang nongkrong di kafetaria kampus, pulang ke rumah, atau sibuk dengan urusan-urusannya sendiri, pada saat Ibadah Senin berlangsung.

Dimanakah Anda?  (Bag. 3)

“La Furia Roja” bertemu dengan “Oranje”di Balairung Univeritas Kristen Satya Wacana (UKSW), Senin, 12 Juli 2010. Tepatnya saat Ibadah Senin berlangung, antara jam 09.00-10.00. Kali ini pertemuan mereka tidak dalam suasana “perang” dilapangan hijau, namun hanya konstum yang digunakan oleh mahasiswa dan pegawai Language Training Center sebagai penyelenggara ibadah.

Tidak hanya kostum Spanyol dan Belanda yang digunakan, tapi juga kesebelas Inggris, Perancis, dan lainnya. Penggunaan beraneka kostum itu tampaknya ada hubungannya dengan tema yang diusung, “Multiculturallism in the Global Peace”.

Hadir sebagai pelayan firman, Pak Nico Likumahuwa. Selama menghantarkan kotbahnya, tidak lupa Pak Nico, sebutan akrab Nico Likumahuwa, menyelipkan lelucon-lelucon segar khasnya. Aku pun tersenyum, saat beliau bercanda menanyakan ketidakhadiran rektor saat itu kepada para hadirin.

Tidak hanya rektor yang tidak hadir, para pembantunya pun tidak hadir, dan sekian banyak pegawai akademik maupun nonakademik.

“Mungkin mereka kecapaian karena habis nonton final Piala Dunia semalam, sehingga tidak sempat hadir,” ujarku dalam hati.

Hmm… nulis-nulis tentang final piala dunia, aku jadi teringat headline berita beberapa media elektronik dan cetak beberapa hari yang lalu, tentang menteri yang ngantuk dan tertidur saat rapat dengan Pak SBY. Patrialis Akbar, saat ditanya memberikan alasan “…secara manusiawi bapak-bapak itu habis nonton bareng, pagi-pagi sudah ke kantor tidur satu jam. Yah goyang-goyang dikit wajarlah, melayang sedikit,” ucap Patrialis Akbar seperti dikutip suaramedia.com.

Dimanakah Anda?  (Bag. 4)

Terus terang, sampai detik ini saya kehabisan ide untuk membuat tulisan di bawah judul “Dimanakah Anda”. Untuk mengisi kekosongan, dan supaya tidak berfikir tegang terus, ada baiknya diisi dengan joke (lelucon) hasil karangan saya sendiri. Berikut dibawah joke itu.

Tiga orang pekerja berbondong-bondong menghadap kepada sang pemberi kerja. Mereka ingin protes akan masalah kepegawaian yang mereka hadapi. Tampak ekspresi geram diwajah mereka. Setelah dipersilahkan duduk, mereka pun mulai menyampaikan permasalahannya.

Pekerja 1, Dr. S.Pd., M.Si. : Gimana nih Pak, sudah hampir satu bulan saya tidak menerima surat keputusan kenaikan pangkat saya. Wah, itu kan akan berpengaruh kepada jumlah gaji yang saya terima. Padahal saya ini punya banyak utang yang harus dibayar. Gimana nih Pak, ini kan hak saya sebagai pekerja!

Pekerja 2, S.H., M.Hum. : Lah, saya ini binggung Pak. Saya ini mau berangkat ke Jerman, mewakili tempat kita di seminar internasional. Kenapa hingga H-1 saya belum mengantongi surat jalan? Padahal sudah lama saya mohonkan. Sebenarnya apa masalahnya Pak? Jangan-jangan Bapak tidak suka sama saya, sehingga saya dihambat. Ini sangat tidak profesional!

Pekerja 3, Prof. Ph.D. : Ini bagaimana Pak. Tunjangan guru besar kok kecil sekali, berbeda dengan di tempat lain. Ini sangat merugikan saya. Harusnya lembaga ini lebih memikirkan kami, karena kami yang mendatangkan uang bagi lembaga ini.

Pemberi kerja : Baiklah Ibu dan Bapak. Saya minta maaf jika terjadi permasalahan terhadap pemenuhan hak-hak Ibu dan Bapak semua. Tidak ada maksud apa-apa, ini semua adalah kesalahan kami. Kami akan segera memperbaikinya. Ngomong-ngomong, ini kan hari Senin, dan hampir jam 10.00, mari kita berkumpul di ruang pertemuan untuk mengikuti ibadah awal kerja.

Pekerja 1 : Waduh Pak, saya sudah ada janjian dengan walikota di Restauran “Joglo”. Ngak penting ibadah Pak, tentu lebih penting pertemuan dengan walikota. Ato ada baiknya ibadah itu kita streaming Pak, sehingga dapat dilihat melalui layanan internet. Jadi kalo saya ada meeting dengan orang-orang penting di luar kota, dalam perjalanan saya dapat tetap mengikuti ibadah.

Pekerja 2 : Maaf Pak, ini saya belum makan pagi. Saya punya maag, jadi kalo terlambat bakal kumat maagnya. Lagi pula saya tidak mendapatkan apa-apa dari ibadah. Apalagi si pembawa firman selalu berbusa-busa, tidak “turun ke bumi” gitu Pak, jadi kadang-kadang saya binggung, pembawa firman itu ngomong apa ya…

Pekerja 3 : Wah, ibadah tidak menarik Pak. Mbok ya sekali-kali itu pake bintang tamu gitu Pak, biar banyak yang hadir. Kalo perlu pake doorprice Pak, biar rame gitu. Lah, kalo seperti sekarang ya monoton.

Pemberi kerja : Loh, ibadah ini kan kewajiban Bapak dan Ibu sekalian. Kan sudah tercantum dalam aturan kerja kita.

Pekerja 1 : Ah, bapak. Masalah ibadah kok dimasukkan sebagai kewajiban dalam aturan kerja. Itu malah membuat kita tertekan dan tidak bisa khusuk dalam beribadah. Masalah ibadahkan urusan saya sama Tuhan bukan dengan aturan.

Pekerja 2 : Lah kan ngak ada sanksinya Pak. Jadikan bisa datang dan tidak dong. Banyak loh Pak yang ngak datang…. Gimana kalo Bapak buatkan semacam sanksi atau petunjuk teknis bagaimana supaya bisa hadir di ibadah.

Pekerja 3 : Wah aturan ini melanggar HAM Pak, karena memaksa saya untuk beribadah. Kalo Bapak masih memaksa, maka saya akan laporken ke KOMNAS HAM nanti…

Pemberi kerja : (sambil menghela nafas, pemberi kerja berucap dalam hatinya) ….

Oh Tuhan, ada apakah gerangan dengan kami semua?
(kami selalu menuntut hak kemanusiaan kami, namun memiliki seribu alasan untuk menjauh dari kewajiban kami)

Apakah ilmu yang kami raih setinggi-tingginya ini, tidak mampu membuat kami semakin merendah dihadapan sesama dan diri-Mu?
(kami semakin pandai berkilah, kami semakin pandai membuat argumen).

Apakah gelar-gelar kami, membuat semua hal harus terpola, terstruktur, tertulis, dalam memandang suatu permasalahan, termasuk untuk menghadap hadirat-Mu yang kudus.
(kami semakin cerdas memainkan setiap kata, setiap ucapan, dan setiap tulisan yang kami buat).

Apakah keteladanan kepemimpinan yang diajarkan Yesus telah hilang dalam diri kami, sehingga kami menuntut agar orang lain dulu berbuat, orang lain dulu yang jadi teladan, kenapa tidak kami saja anak-anak-Mu yang memiliki kepintaran dan posisi tinggi di tempat ini yang menjadi teladan bagi mereka yang menjadi bawahan kami?
(kami adalah sekumpulan domba, tanpa pengembala).

Ya Tuhan…maafkanlah hambamu ini.
Catatan (Bag. 4): ini hanya lelucon, tidak perlu dimasukan hati. Jika ada kejadian yang mirip/serupa, itu hanya kebetulan saja.

Pdt. Yossi Nugraha adalah Pendeta Gereja Kristen Jawa 55 Salatiga, alumni Fakultas Teologi UKSW.

(sfm).

(Dimanakah Anda?  (1-4), diposting di facebook saya, pertengahan tahun lalu).

3 thoughts on “CH (154): Dimanakah Anda? (Bag. 1 – 4)

  1. persembahkanlah tubuhmu, itulah ibadahmu yang sejati..
    begitu yang ada di ayat kitab suci…

    mungkin perlu BTSI men-streaming kebaktian Senin itu.., sehingga “dimanapun saya”, tetap bisa mengikuti kebaktian itu,
    bahkan kalau perlu, semua komputer kampus yang terhubung di jaringan, Senin jam 9-10, hanya bisa (dipaksa) akses siaran kebaktian itu. (sama seperti blokir Facebook pada jam-jam tertentu),
    kalau perlu di ‘archieve’, sehingga jika sangat terpaksa Senin jam 9-10 itu, tidak bisa mengikuti kebaktian,
    bisa diikuti manakala sempat.

    Dimana anda?
    (jawab saya: saya disini)

  2. di zaman globalisasi n modernisasi IT yang begitu pesat ini, perilaku kehidupan religius seseorang semakin tertantang. Cepat atau lambat YESHUA HAMASEA akan datang, tidak perduli manusia modern sekarang mau terlelap karena kelelahan, mau pesta pora, mau lebih rational karena IPTEK, mau menyangkal YESUS KRISTUS sekalipun. Tidak usah pusing atau kecewa, ilah ilah zaman ini akan semakin menarik dan menyesatkan banyak orang. Bagi yang masih haus akan pengenalan terhadap Yesus Kristus dan ingin sama seperti DIA pasti akanterus haus akan mendengar FIRMANNYA. Bahkan 1-2 orang sekalipun mengikuti ibadah Senin di UKSW sudah cukup bagi kemulian TUHAN. TUHAN tidak pernah memaksa kehendakNYA terhadap manusia termasuk UKSW & civitas academiknya.

  3. Pada tulisan ke-3, kalau tidak salah, foto seseorang yang sedang duduk di kursi belakang, dengan kepala berambut putih (nomor dua dari belakang) adalah Prof Kris Timotius, mantan rektor UKSW. Apa betul? Kalau betul, di manakah beliau sekarang? Sayang kalau beliau harus “terdepak” dari UKSW, almamaternya.

    Lebih sayang lagi kalau dalam tulisan ke-3 tersebut diberitakan kalau rektor UKSW, Prof Jhon Titaley tidak hadir, bersama dengan para pembantunya. Apa memang hanya kebetulan saja terjadi, justru pada saat Prof Kris Timotius hadir di dalam ibadah senin? Dan bagaimana mungkin seseorang bisa berani maju lagi untuk menjadi rektor periode ke-3, padahal dia dan para pembantunya pernah “kompak” tidak setia dalam ibadah senin, yang jelas-jelas melangkahi statuta UKSW yang ada? Prihatin…😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s