CH (Special Edition): Universitas Scientiarum

(Pengantar: Pdt. Em. Judowibowo Poerwowidagdo, Ph.D., berkesempatan menyampaikan kotbah di hadapan civitas akademika Universitas Kristen Satya Wacana, dalam Ibadah Senin, 20 Juni 2011, di Balairung Universitas. Berikut adalah transkrip kotbah beliau tentang Universitas Scientiarum).

Saudara-saudara yang terkasih, Nats Alkitab yang akan kita baca diambil dari tema hari ini, yaitu dari Matius 5:6 dan nanti dilanjutkan dengan 2 Korintus 13:5-8. Injil Matius 5:6, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan”. Dan dari 2 Korintus 13:5-8, demikian bunyinya, “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji. Tetapi aku harap, bahwa kamu tahu, bahwa bukan kami yang tidak tahan uji. Kami berdoa kepada Allah, agar kamu jangan berbuat jahat bukan supaya kami ternyata tahan uji, melainkan supaya kamu ini boleh berbuat apa yang baik, sekalipun kami sendiri tampaknya tidak tahan uji. Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran”.

Demikian pembacaan kita, berbahagialah segala orang yang mendengar firman Tuhan, memeganginya dalam hati, serta menjalankan dalam kehidupannya.

Saudara-saudara sekalian, tema kebaktian kita pada hari ini adalah berbahagialah orang yang lapar dan dahaga akan kebenaran karena mereka akan dipuaskan, dengan subtema Universitas Scientiarum.

Saudara-saudara, pada bacaan yang kedua tadi, yang juga mengandung firman tentang kebenaran demikian, sekali lagi Saya baca ayat yang ke-8, “Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran”. Saudara-saudara, di dalam kitab Korintus ini tadi ayat yang ke-8, Pasal 13, di dalam bahasa Yunani kebenaran dipakai kata Aletheia. Matius 5:6 yang dikatakan berbahagialah orang yang lapar dan dahaga akan kebenaran. Kebenaran dalam teks Matius ini dalam bahasa Yunaninya dikatakan Dikaiosune, bukan Aliteia. Ada bedanya antara keduanya.

Saudara-saudara sebagai civitas warga kampus Universitas Kristen Satya Wacana tentu Saudara-saudara semua sudah memahami dan mungkin juga sudah bukan saja memahami, tapi juga mengamalkan apa visi UKSW. Saya kutip saja 1 butir 2 Visi UKSW, yang pertama ialah menjadi Universitas Scientiarum, untuk pembentukan persekutuan pengetahuan tingkat tinggi yang terikat pada pengajaran kebenaran. Aletheia, berdasarkan pada Alkitab. Yang kedua, menjadi Magistrorum et Scholarium, untuk pembentukan minoritas yang berdaya cipta, atau menjadi creative minority, bagi pembangunan dan pembaruan masyarakat dan negara Indonesia.

Nah, untuk itulah Saudara-saudara, komunitas Universitas Kristen Satya Wacana perlu menuntut ilmu dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk mengejar dan mengajar kebenaran berdasarkan Alkitabiah. Dikatakan karena kami tidak berbuat apa-apa melawan kebenaran, kebenaran Aletheia, yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran atau artikan. Aletheia dalam bahasa Inggris diterjemahkan the truth. Kebenaran. Jadi, menurut Nats Alkitab Matius 5:6, menyatakan kebenaran dalam arti Dikaiosune. Dua Korintus, kebenaran adalah Aletheia atau truth. Kebenaran juga.

Nah, di dalam kitab bahasa Indonesia terjemahan lalu lembaga Alkitab Indonesia, Matius 5:6 sekali lagi, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan”. Haus akan kebenaran, haus akan Dikaiosune, haus akan righteousness, berarti ingin melakukan kebenaran Allah dan kebenaran Allah adalah bahwa Allah itu kasih. Allah itu adil. Itulah kebenaran menurut Matius.

Didalam Alkitab The New English Bibble Matius 5:6 diterjemahkan demikian,”Blessed are those who hunger and thirst to see right prevail; they shall be satisfied”. Perkataan to do the right prevail itu berarti atau sama dengan to do what is wright, melakukan apa yang benar, melakukan yang Dikaiosune, melakukan kasih, melakukan keadilan Allah. Sedangkan di dalam kitab suci The New Rivised Standart Version dikatakan. “Blessed are those who hunger and thirst for righteousness, for they will be filled”. Jadi lebih tegas lagi dikatakan those who hunger and thirst for righteousness, bukan truth, bukan Aletheia, tapi righteousness. Kebenaran Allah. Kasih Allah. Keadilan Allah.

Saudara-saudara di dalam kitab Suci bahasa Jawa, Matius 5:6 dikatakan, “Rahayu wong kang kaluwèn lan ngelak marang karsané Allah, awit iku kang bakal padha kawaregan”. Yang haus yang lapar akan kehendak Allah. Kehendak Allah ialah mengasihi. Kehendak Allah kita berbuat adil.

Saudara-saudara kebenaran apakah yang perlu kita tuntut? Yang perlu kita ajarkan di dalam kampus universitas ini? Sebagai kampus Scientiarum. Apa yang kita ajarkan. Kebenaran yang mana? Jadi ada beberapa kebenaran. Memang selain kebenaran yang dikatakan Alkitab itu ada kebenaran-kebenaran yang lain. Misalnya kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah adalah kebenaran ilmu pengetahuan. Namun kebenaran ilmu pengetahuan inipun ada bermacam-macam. Misalnya kebenaran matematis, 2 x 2 = 4, ayau 4 x 4 = 16. Itukan satu kebenaran. Kebenaran matematis. Kebenaran matematis adalah kebenaran menurut definisi, karena memang didefinisikan angka. 2 x 2 = 4, itu betul. Benar menurut definisi. 4 x 4 = 16, itu juga benar, menurut definisi matematika. Namun 2 Apel + 2 Mangga, apakah sama dengan 4 Mangga atau 4 Apel? Tidak. Tentu 2 Mangga dan 2 Apel. Selain kebenaran matematis, kebenaran ilmiah yang demikian, ada juga kebenaran alami. Kebenaran empiris, contohnya Matahari terbit dari sebelah Timur, benarkah? Benar atau salah? Benar, Ya! Hari ini Matahari terbit dari sebelah Timur. Dan besok pagi juga Matahari akan terbit dari sebelah Timur. Itu satu kebenaran, yang pasti kebenaran alamiah. Kebenaran empiris.

Kalau habis hujan, tanah menjadi basah. Benar atau salah? Benarkan? Itu juga satu kebenaran. Satu fakta kebenaran empiris, karena setiap hujan kita membuktikan tanah menjadi basah. Itu kebenaran juga.

Lalu, ada kebenaran yang lain, yaitu kebenaran historis. Contohnya: bangsa Indonesia telah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Benar atau salah? Ya, benar? Belum tentu. Kenapa belum tentu? Karena itu perspektif bangsa Indonesia. Kalau perspektif Pemerintah Belanda, tidak mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, baru Desember 1949 negeri Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia.

Jadi kebenaran sejarah itu berdasarkan perspektif. Perspektif siapa atau perspektif mana yang menjadikan kebenaran historis. Namun ada lain lagi, fakta historis bahwa Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Itu adalah suatu kebenaran. Bukan kebenaran sejarah,fakta sejarah, the truth. Kebenaran.

Nah, kebenaran-kebenaran ini masih ada lagi kebenaran-kebenaran lainnya, misalnya kebenaran hukum ekonomi, teori supplay and demand. Lebih banyak supplay dan kurang demand, akan menurunkan harga, tetapi sebaliknya terlalu banyak demand, dan kurang supplay, maka harga komoditas ini menjadi tinggi. Itu satu kebenaran dalam ilmu ekonomi. Bagaimana dengan ilmu hukum? Apakah kebenaran hukum? Hukum pidana misalnya, siapa yang melanggar undang-undang hukum pidana pasti dihukum dengan pidana. Betul? Betul tidak Prof. Teguh? Betul? Di Indonesia, orang yang melanggar hukum pidana korupsi, bebas, banyak yang dibebaskan oleh hakim Syafrudin. Banyak mafia hukum. Yang benar disalahkan, dan yang salah dibenarkan. Merupakan satu fakta. Truth. Kebenaran. Kenyataan. Fakta yang senyatanya terjadi di negara kita ini.

Memang kita di kampus Universitas Kristen Satya Wacana ini sebagai Universitas Scientiarum. Ingin dan harus mengajarkan kebenaran-kebenaran berbagai ilmu pengetahuan tadi, maupun ilmu-ilmu yang lain, seperti ilmu bahasa. Ilmu sejarah. Ilmu kesehatan, dan sebagainya.

Namun menurut Saya tidak cukup kita mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni budaya itu saja. Kita juga harus mengajarkan dan melakukan kebenaran-kebenaran yang Alkitabiah.

Tema kita yang mengatakan kebenaran Alkitabiah, yaitu melakukan apa yang benar, melakukan Dikaiosune. Kebenaran Allah. Kehendak Allah, yaitu kita mengasihi, Tuhan dan mengasihi sesama. Tetapi tidak boleh satu diperlakukan lebih baik dari yang lain, itu namanya tidak adil. Kita juga perlu melakukan kehendak Allah, mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Kita harus, sekali lagi, bertindak adil terhadap Aletheia. Yaitu kebenaran dalam arti senyata-nyatanya. Faktanya, menurut kenyataan, menyatakan kebenaran yang senyata-nyatanya, the truth. Sebagai komunitas Magistorum et Scolarium. Kita mengajarkan berbagai kebenaran. Tujuannya apa? Untuk mengembangkan suatu kelompok creative minority. Suatu kelompok minoritas, kelompok kecil berdaya cipta tinggi dan yang mendasarkan kehidupan pada kasih Allah. Berdasarkan pada keadilan Allah. Untuk apa? Untuk membantu mensejahterakan bangsa dan negara kita.

Di dalam melaksanakan misi kita untuk melakukan tri darma perguruan tinggi, kita selalu mendasarkan kegiatan-kegiatan pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat kita pada kebenaran firman Allah dalam Alkitab. Yaitu kebenaran berdasarkan kasih dan keadilan Tuhan Allah.

Amin.

Tuhan kiranya memberkati kita sekalian. (sfm).

Baca juga:
CH (153): Lebih Dekat dengan Bapak Pdt. Yudo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s