CH (165): Aksi Mahasiswa untuk TKI

Sejumlah mahasiswa yang menamakan dirinya Kesatuan Pergerakan Mahasiswa Salatiga (KPMS) bergerak dari dalam kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), untuk menggelar Aksi Peduli Tenaga Kerja Indonesia (TKI), pagi ini (30/06). Seperti biasa, jumlah mahasiswa yang ikut sedikit dan momen yang diusung telah “kadaluarsa”.

Menurut informasi, sejumlah elemen pergerakan mahasiswa di Salatiga bergabung dalam tubuh KPMS, seperti Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Salatiga, Himpunan Mahasiswa Islam, dan beberapa elemen pergerakan lainnya.

Dalam selembar rilis yang dibagikan, KPMS mengeluarkan 13 butir “tuntutan”, diantaranya adalah: (1) pemerintah memprioritaskan perlindungan dan keselamatanTKI; (2) menuntut pertanggungjawaban Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi; (3) mendesakagar DPR menggunakan hak interpelasinya; dan (4) mengawal perlindungan hukum dan memperjelas kekuatan negara hukum di Indonesia.

Aksi yang bergerak dari dalam kampus UKSW tersebut, hanya diikuti kurang lebih 15 mahasiswa saja. Jumlah “kecil” ini, tidak jauh berbeda dengan aksi-aksi sebelumnya. Walaupun kuantitas bukanlah patokan “suksesnya” sebuah aksi, namun melihat terlalu seringnya keikutsertakan mahasiswa UKSW yang minim ini, membuat saya bertanya dalam hati, “Apakah mahasiswa UKSW sudah tidak tertarik ikut kegiatan aksi ya?”

Sama seperti sebelumnya, momen aksi selalu “terlambat”. Saat yang tepat seharusnya awal minggu lalu, seperti telah dilakukan sejumlah elemen mahasiswa lainnya di berbagai daerah di Indonesia. Lihat saja, aksi mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah di Jakarta, Rabu (22/06), kemudian demonstrasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia di Jakarta, Jumat (25/06), dan aksi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Solo, di Bundaran Gladag Solo, Sabtu (25/6). Walaupun “keterlambatan momen” bukan halangan, namun ibarat nasi, terlalu lama didiamkan tentu akan menjadi basi.

Apresiasi

Walaupun minim peminat dan jauh dari momen, aksi ini perlu diapresiasi. Karena menunjukkan masih pedulinya mahasiswa terhadap TKI yang sedang dirundung masalah. (sfm).

One thought on “CH (165): Aksi Mahasiswa untuk TKI

  1. nasi klo tidak dihabiskan jadi basi. Lalu kenapa nasi bisa basi? Berarti tidak ada yang menghabiskan. Nasi yang menurut mas basi ini kami jemur dan jadi beras aking. Makanan rakyat Indonesia. Kami mau menjamah nasi basi ini, kalau tidak akan muncul belatung. Siapa yang mau menyingkirkan belatungnya? Tetap semangat teman2… Semua perjuangan kita belum terlambat. Lihat ibu Siti Sulastri tadi, yang selama 4 tahun bekerja di Dubai, bukannya digaji tapi dikasih bonus anak dr hasil pemerkosaan anak majikannya. Sampai sekarang gaji dan asuransi belum ada di tangan beliau. Belum terlambat kawan untuk berjuang. Masih banyak ibu Siti sulastri Siti Sulastri yang lain…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s