CH (167): Kebenaran Bermula dari “Sepotong” Informasi

Menarik membaca tulisan Yosafati Gulo berjudul “Jangan Berlaga Tahu”, yang diposting pada tanggal 24 Juni 2011, dalam blognya yosafatigulo.blogspot.com. Dalam simpulan, Yosafati bertutur agar kita tidak cepat mengambil kesimpulan dan menghakimi dengan bermodal “sepotong” informasi. Tidak bermaksud menilai, namun ada satu hal yang perlu diluruskan.

Thomas, dalam catatan Alkitab, meragukan kebangkitan Yesus, walaupun para sahabatnya sendiri yang memberikan informasi tersebut (ada keraguan dalam diri Thomas terhadap informasi para sahabatnya). Thomas ingin melihat dan merasakan sendiri kehadiran Yesus yang telah bangkit itu. Yesus pun berkenan, dan Thomas pun akhirnya percaya karena informasi secuil telah dilengkapi. Yesus berucap, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yohanes 20:29). Demikianlah konstruksi kejadian yang digambarkan oleh Yohanes, lebih dari 2000 tahun yang lalu.

Siapa yang sangka, seorang yang dekat dengan Yesus pun masih meragukan kebangkitan Yesus. Lalu bagaimana dengan anda sendiri? Ketika anda diberikan kesempatan hidup pada jaman itu, apakah anda akan ragu seperti Thomas, atau punya tingkat keyakinan tinggi seperti para para murid yang lain? Seorang sahabat saya yang kebetulan beragama Kristen, ketika saya tanya berkata, “Bisa jadi, Saya juga mengalami keraguan seperti Thomas”.

Mengatakan seseorang dengan sepotong informasi adalah orang yang sok tahu saja bisa memasukan diri kita dalam kategori “menghakimi orang lain”. Kenapa? Karena kita, yang sebelumnya tidak tahu dan kemudian tahu (setelah menerima sepotong informasi itu), telah bersikap arogan, karena tanpa informasi yang sepotong tadi (entah itu negatif atau positif), kita sebenarnya tidak tau apa-apa.

Kebenaran bisa dimulai dari sepotong informasi, entah itu negatif atau positif. Karena esensinya adalah informasi. Tanpa secuil informasi, manusia bagai hidup di dalam “kepompong”, yang artinya tidak tau apa-apa. Dan ketika dia keluar dari “kepompong” itu, maka dia harus siap merasakan panasnya sinar matahari, dan tentu dinginnya malam hari. Karena sejatinya, itulah hukum alam. Satu paket, tidak hanya panas, tapi juga dingin.

Lalu bagaimana? Tentu, ini menuntut kedewasaan kita sebagai manusia untuk memilih dan memilah berbagai informasi yang disajikan oleh berbagai pihak dan media. Semakin dewasa, semakin kita mampu secara bijak menentukan pilihan. Ingat, kita hidup di jaman dengan kemajuan teknologi tinggi dan kemampuan manusia yang juga semakin tinggi. Terjebak cara “menghakimi”, sama saja mengatakan tidak akan ada malam setelah sang mentari terbenam di ufuk barat. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s