CH (171): Thomas, Benarkah?

Membaca tulisan Bapak Yosafati Gulo di blognya berjudul, “Thomas Benar”, sebagai tanggapan tulisan Saya, CH (167): Kebenaran Bermula dari “Sepotong Informasi”, Saya menyimpulkan bahwa Pak Yos setuju dengan tulisan saya, walaupun beliau mencoba untuk “berkelit”.🙂

Hal itu terlihat dalam paragraf akhir tulisan, berikut saya kutipkan sedikit, “Seratus persen saya setuju bahwa tanpa sepotong informasi, manusia akan menemui kesulitan besar dalam hidupnya. Bayangkan saja betapa sulitnya seseorang yang disuruh ke suatu tempat tanpa diberitahu nama tempatnya dan letaknya di mana…Saya juga mengaminkan bahwa menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan sepotong informasi belumlah cukup…”.

Yang menarik dalam tulisan Pak Yos adalah Pak Yos mencoba membawa arah diskusi dengan mempertentangkan antara “Kebenaran atas dasar Kepercayaan (KK) dengan Kebenaran Ilmiah (KI)”. Demikian saya membahasakannya. Satu hal yang menurut Saya tidak pas untuk dipertentangkan. Kenapa tidak pas? Karena menurut Saya, seharusnya KK menjadi dasar bagi KI.

Saya sejalan dengan arah berfikir Bapak Pdt. Judowibowo Poerwowidagdo, Ph.D., ketika beliau menyampaikan kotbahnya berjudul, “Universitas Sceintiarum”, dalam Ibadah Senin, di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), 20 Juni 2011. Dapat dibaca selengkapnya di CH (Special Edition): Universitas Scientiarum”. Dalam simpulan kotbahnya, beliau berucap, “Di dalam melaksanakan misi kita untuk melakukan tri darma perguruan tinggi, kita selalu mendasarkan kegiatan-kegiatan pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat kita pada kebenaran firman Allah dalam Alkitab. Yaitu kebenaran berdasarkan kasih dan keadilan Tuhan Allah”. Pernyataan beliau tersebut, sesuai garis kekuatan iman Satya Wacana, yang dengan tegas mengatakan “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan…(Amsal 1:7a)”. Dengan kata lain, kekuatan Tuhanlah (yang tidak terlihat itu) menjadi sumber akal manusia.

Hal tersebut menyadarkan bahwa tidak semua KI sesuai atau sejalan dengan KK. Penemuan bom atom oleh ilmuwan di negeri Amerika Serikat waktu itu adalah sebuah penemuan dengan KI, pada titik ini belumlah menjadi masalah. Namun, saat bom itu digunakan untuk membunuh manusia di Hirosima dan Nagasaki, saat itulah KK telah tercabut dari KI. “Science without religion is lame, religion without science is blind”, demikian Sang Genius, Albert Einstein mengambarkannya.

Lalu?

Jika menurut Pak Yos, Thomas (tidak percaya jika tidak melihat Yesus) telah benar dengan mengajukan argumen bahwa Thomas telah menggunakan KI, maka sebenarnya Pak Yos secara sadar telah mencabut KK yang sebenarnya tidak bisa dijelaskan dengan menggunakan akal sehat manusia.

Thomas ataupun Sheng Ren Kong Zi, bukanlah seorang Yosafati Gulo, yang mengedapankan cara berfikir ilmiah yang dikenal Yosafati Gulo di jaman modern ini. Apakah hanya dengan melihat sebuah fenomena, telah dianggap berfikir secara ilmiah? Tentu tidak, melihat hanyalah satu tahap saja dari berfikir ilmiah.

Apa yang “diimani” oleh Thomas dan ajaran Sheng Ren Kong Zi, adalah KK yang tidak memerlukan pembenaran ilmiah. Segala daya upaya untuk menghadirkan wujud “Tuhan” dengan menggunakan “akal manusia”, sama saja membagun menara Babel ke-2, dan membangkitkan murka Tuhan. Sederhana saja, anda percaya atau tidak? (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s