CH (178): Ada Maaf, Syarat Dimaafkan?

Sebagai orang Kristen, kadang kita diperhadapkan dalam dilema saat akan memaafkan seseorang yang bersalah. Rujukan resmi bagi pengikut Kristus dalam memaafkan seseorang, dapat didasarkan kepada Alkitab. Lalu, apakah ada prasyarat bagi pengampunan?

Alkitab banyak mencatat kisah-kisah luar biasa tentang pemberian maaf. Salah satunya ada di dalam Injil Matius 18:21-35, Perumpamaan Tentang Pengampunan. Dalam kitab itu, Rasul Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”. Yesus pun menjawab, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali…”. Banyak yang mengartikan bahwa itu maksudnya pengampunan yang tidak memandang kuantitas, namun kualitasnya.

Dan menurut Saya, pengampunan yang paling masyur dalam Injil adalah saat Yesus memohonkan belas kasih Bapa untuk memaafkan mereka-mereka yang telah menyalibkan-Nya, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat…”. Demikian seperti dituturkan oleh Lukas dalam Pasal 23. Sebenarnya ada satu tanya yang tebersit dalam benak Saya, yaitu, “kenapa Yesus memohonkan maaf Bapa-Nya, kenada Yesus tidak memaafkan mereka saja langsung, padahal dalam kisah-kisah lain, Yesus mengajarkan agar kita saling memaafkan (seperti dalam Matius 18:21-35)?”.

Begitu juga saat Sang Yesus mengajarkan orang-orang percaya agar berdoa untuk memaafkan orang lain, seperti terlukis dalam Doa Bapa Kami di Lukas 11:1-13, pada kalimat, “…dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami…”. Secara terang-benderang, Yesus mengajarkan kepada pengikut-Nya untuk memohon maaf kepada Bapa.

Namun bukan masalah tersebut yang ingin Saya ketengahkan. Saya memandang bahwa memberikan pengampunan kepada sesama adalah prasyarat sebelum kita meminta ampun atas dosa-dosa kita kepada Bapa di sorga. Hal itu tercermin dari Doa Bapa Kami, dan pertanyaan Rasul Petrus tentang pengampunan. Kedua bagian dari tersebut, dan masih banyak lainnya.

Lalu bagaimana jika seorang yang bersalah itu tidak memiliki rasa penyesalan terhadap apa yang telah dilakukannya dan tidak memohonkan maaf kepada sesamanya, apakah ketika dia memohonkan maaf kepada Tuhan, maaf itu dapat diterima? (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s