CH (181): Belajar dari Liam Burns

Senin (8/08) lalu, bertempat di Balairung Universitas, Pimpinan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) melantik kepengurusan Lembaga Kemahasiswaan (LK) aras universitas dan fakultas periode 2011-2012. Ingat kejadiaan itu, saya tiba-tiba jadi teringat dengan Liam Burns.

NUS

Liam Burns beberapa bulan lalu terpilih sebagai Presiden National Union of Students (NUS) di daratan Inggris Raya, dan berkantor sejak 1 Juli 2011. Sebelumnya, Burns adalah Presiden NUS Skotlandia. NUS adalah konfederasi dari serikat mahasiswa didaratan Inggris. Sekitar 600 serikat mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di daratan Inggris terdaftar sebagai anggota NUS. Itu berarti NUS mewakili kepentingan lebih dari 7 juta mahasiswa diseluruh Inggris. NUS sendiri terbentuk dari sebuah pertemuan di Universitas London pada tahun 1922.

NUS mengemban misi untuk mempromosikan, mempertahankan, dan memperjuangkan hak-hak mahasiswa dan serikat mahasiswa. NUS juga mengembangkan dan menciptakan serikat mahasiswa yang kuat, sebagai upaya untuk menguatkan kapasitas dan efektif pada tataran lokal, membentuk secara berkelanjutan organisasi yang berorientasi pada kehidupan mahasiswa yang lebih baik.

Terpilihnya Burns

Selain Burns, dalam pemilihan Presiden NUS, diikuti kandidat lainya, yaitu Mark Bergfeld dan Shane Chowen. Di pemilihan akhir antara Burns dan Chowen, Burns memperoleh 60% suara pemilih.

Surat kabar online The Guardian melansir bahwa kemenangan Burns dikarenakan rekam jejak Burns selama ini. Burns berhasil menolak kenaikan biaya pendidikan tinggi, dia juga mampu menjaga komitmen politikus Skotlandia agar kenaikan biaya pendidikan tidak menjadi angenda di sidang parlemen Skotladia.

Baru-baru ini, Burns menyuarakan kepada 7 juta anggota NUS untuk ikut dalam aksi tanpa anarki “National Manifestation of Anger”. Hal tersebut diungkapkan karena dia melihat adanya kenaikan amarah dan mulai frustasinya mahasiswa terhadap rencana pemerintah memotong anggaran dan reformasi pendidikan.

Anda?

Melihat hal itu, maka kita bisa membayangkan begitu besarnya dan mungkin sulitnya mencapai kedudukan sebagai seorang Presiden NUS, dengan jumlah pengikut lebih dari 7 juta mahasiswa. Jika kita membaca sejumlah artikel mengenai terpilihnya Burns, maka terpilihnya Burns bukan karena dia pandai berbicara, namun lebih kepada aksi nyata mendukungnya terhadap hak-hak mahasiswa. Burns bahkan tidak segan untuk turun kejalan bersama-sama dengan mahasiswa lainnya. Itulah yang dilihat 60% pemilih Burns.

Lalu, apa hubunganya dengan  LK UKSW? Ada nilai-nilai universal yang dapat kita pelajari dari NUS dan seorang Burns, yaitu keberpihakan kepada mahasiswa. Bukan sekedar ucapan retorik saat pemilihan. Keberpihakan itu diwujudkan dengan aksi sunguh-sunguh dan dikawal. Itulah yang dilakukan Burns, sebagai Presiden NUS Skotlandia, saat membawa aspirasi dan mengawal penolakan kenaikan biaya pendidikan di Skotladia. Misi dan Visi yang “membumi”.

NUS dan Burns bukan organisasi “kepanjangan tangan” penguasa. Dia berdiri sejajar dengan mahasiswa yang termarjinalkan akibat kebijakan yang tidak berpihak kepada mahasiswa. Itu yang dia suarakan kepada lebih dari 7 juta anggotanya untuk menentang rencana pemerintah Inggris memotong anggaran dan reformasi pendidikan di negerinya.

Lalu, beranikah anda untuk berdiri sejajar dengan mahasiswa, dan mengusung keutamaan kepentingan mahasiswa? (sfm).

Referensi: guardian.co.uk, wikipedia.org, timeshighereducation.co.uk, dan leftfutures.org.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s