CH (185): Terkucilkan Dikerumunan…

“Salah satu ciri yang melekat terhadap Gereja yang sejati adalah penderitaan”, demikian tutur John Stott, salah satu orang yang dinobatkan majalah Time sebagai 100 most influential people in the world.

Ucapan salah seorang pemikir Kristen besar abad ke-20 itu, menjadi tanda-tanya tersendiri bagi Saya. Apakah menjadi seorang Kristen haruslah hidup dalam penderitaan dan bahkan dikucilkan karena kekristenannya?

Kisah paling bersejarah tentang penderitaan yang didera oleh jemaat Kristus ada dalam bab Jemaat Kristen Mula-mula. Mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat saat itu, sudahlah cukup bagi seseorang menerima pengucilan dari kehidupan masyarakat, dan bahkan keluarganya. Deraan juga diterima oleh jemaat mula-mula dalam kekuasaan bangsa Romawi.

Disaat itulah, sejumlah cerita tentang mereka-mereka yang mati sebagai martir bertumbuh. Kisah Yustinus, seorang filsuf yang mengakui kebenaran Kristus, bersama sahabat-sahabatnya dipenggal kepalanya karena memegang teguh imannya dan menolak untuk memberikan korban kepada para dewa. Ada juga kisah penderitaan Stefanus, dapat kita baca dalam Kisah Para Rasul. Dia dilempari batu hingga mati. Lalu, Yakobus. Atas perintah Raja Herodes, Yakobus dipenggal kepalanya. Filipus disalib.

Genaplah sejumlah Firman Yesus dalam Injil, dan salah satu yang terbesar adalah ucapan-Nya seperti tercatat oleh Yohanes (15:18), “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu”. Namun, masihkan dunia membenci hingga hari ini? Ya, jemaat Tuhan masih mengalami deraan dimana-mana. Sejumlah catatan di dunia maya memperlihatkan hal itu.

Lalu bagaimana dalam kehidupan diantara jemaat Kristus sendiri? Satu pertanyaan ini sulit untuk dijawab secara gamblang. Namun untuk memudahkan, ijinkanlah Saya bercerita satu kisah saja. Begini ceritanya.

Seseorang pengikut Kristus yang bekerja disebuah lembaga Kristen mengalami “deraan” dari rekan kerja bahkan atasannya, karena dia sering memilih untuk tidak tunduk perintah pimpinan, ataupun permintaan para rekan kerjanya untuk menyimpang dari ajaran Kristus. Deraan tersebut tidaklah bersifat fisik, namun lebih ke psikologis. Seperti, secara verbal melalui ucapan-ucapan, “sok suci”, “sok alim“, dan ucapan-ucapan lain sebagainya. Dihambat karirnya. Tidak diberikan porsi kerja yang jelas. Tidak diberikan kewenangan yang seharusnya. Dengan harapan, orang tersebut tidak merasa nyaman, dan akhirnya keluar.

Sering orang tersebut berkata, “Pak, bukankah kebijakan itu bertentangan dengan iman Kristen kita?”, dengan mudah jawaban terucap, “Ah, tidak apa-apa. Kalo tidak seperti ini, kita tidak dapat ijin dari pemerintah”. Atau, “Pak, bukankah menyogok itu tidak boleh?”, jawabnya, “Kalo ngak nyogok, tidak jalan semua urusan, ya harus nyogok dong!”.

Saya tidak tau apakah kisah tersebut mampu menjawab pertanyaan, “Lalu bagaimana dalam kehidupan diantara jemaat Kristus sendiri?”. Namun yang pasti, orang itu menjadi terkucilkan diantara mereka-mereka yang mengaku mengikut Kristus. (sfm).

Referensi: Wikipedia.org; sabda.org; sarapanpagi.org; reformata.com; dan buletinpillar.org.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s