CH (193): “Talenta” Bagi Profesor

Pendeta Kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Wellem Sairwona, M.Th., memberikan penekan kepada sivitas yang hadir saat Ibadah Senin (5/9) di Balairung Universitas, tentang arti pentingnya mengembangkan dan mempertanggungjawabkan Talenta yang Tuhan beri, termasuk gelar profesor.

Mandasarkan kotbahnya dari Injil Matius 25 Perumpamaan Tentang Talenta, Pdt. Wellem membuka dengan cerita seorang dosen yang baru saja menerima Jabatan Fungsional Akademik (JAFA) Guru Besar. Menurut Guru Besar baru tersebut, pencapaian itu dapat diperoleh atas karunia Tuhan. Karunia itu dapat dipahami sebagai Talenta yang Tuhan percayakan kepadanya.

Seperti tergambar dalam Matius 25, setiap penerima Talenta wajib mengembangkan Talentanya. Lihatlah hamba yang menerima 5 dan 2 Talenta, pergi dan menjalankan Talenta itu hingga berlipat dua. Talenta dipahami sebagai perkara dan bagaimana bertanggung jawab dengan sungguh-sungguh atas perkara itu (Mat 25:21 dan 23). Bagi hamba yang tidak mau menanggung perkaranya, seperti yang dilakukan oleh hamba dengan 1 Talenta (menyembunyikannya di dalam tanah), maka dia tidak berhak atas kelimpahan yang diberikan kepadanya.

Memahami secara Kristiani bahwa gelar Profesor adalah Talenta yang Tuhan beri, maka haruslah disadari dengan mengembangkan Talenta itu sesuai dengan seharusnya. Dan mengacu pada Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, seorang professor memiliki kewajiban khusus untuk menulis buku dan karya ilmiah serta menyebarluaskan gagasannya untuk mencerahkan masyarakat.

Karya ilmiah seperti yang dimaksud di atas adalah karya ilmiah yang dipublikasikan dipublikasikan di jurnal internasional dan yang masuk dalam daftar ”Scopus” atau yang setara.

Cuplikan pertanyaan kecil yang dikutip oleh Pdt. Wellem dari Tulisan Syamsul Rizal Direktur Program Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, di Kolom Opini Kompas, sangat menarik dengan mempertanyakan, “Lalu untuk profesor yang masih aktif dan masih jauh dari usia pensiun, apakah harus melahirkan karya ilmiah seperti itu juga? Kalau tidak tercapai, apa akibatnya? Apakah tunjangan kehormatan dan sertifikasi pendidik yang dinikmati profesor selama ini akan dicabut?” Jika memang tunjangan para profesor itu dicabut, maka gelar itu hanya ”pepesan kosong” saja.

UKSW

Demikian sebagian kecil kotbah Pdt. Wellem. Mecoba merefleksikan kotbah itu dengan cermin diri sendiri sebagai alumni UKSW, maka sejumlah dosen dengan gelar profesor yang ada di UKSW patutlah mengembangkan Talentanya dengan menulis buku dan karya ilmiah serta menyebarluaskan gagasannya untuk mencerahkan masyarakat. Siapa sajakah mereka, dapat dilihat dalam CH (132): Para Guru Besar UKSW, Unika, dan Unissula dan CH (180): Sutarto, Profesor Baru UKSW.

Jika para profesor tersebut tidak mampu mengemban “Talentanya”, maka dia tidaklah layak atas “kelimpahan berkat” yang telah Tuhan beri. Bagaimana menurut anda? (sfm).

One thought on “CH (193): “Talenta” Bagi Profesor

  1. Wah, sebuah khotbah yang menarik…
    Tapi, apakah memang tema ibadahnya tentang “Talenta” Bagi Profesor?
    Sayang sekali, saya dan teman – teman tidak bisa lagi mengikuti Ibadah Senin, sebab setiap hari Senin kami melakukan ibadah sendiri di fakultas, dan dilanjutkan dengan ‘briefing’ dari pimpinan fakultas.
    Trus mas Saam, apakah ada profesor yang hadir saat ibadah tersebut? Dan, bagaimana reaksi mereka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s