CH (194): GKP dan Pekabaran Injil

Bulan depan, Oktober, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) akan merayakan Hari Pekabaran Injil Indonesia (HPII), dengan mengangkat tema “Terus Memberitakan Karya Pembebasan Allah bagi Semua”. Gereja Kristen Pasudan (GKP) yang adalah bagian dari PGI, melihat Pekabaran Injil (PI) lewat Wawasan.

Sejumlah atikel berhubungan dengan PI disajikan dalam Wawasan 04/Juli/2011, alat komunikasi GKP. Terselip di halaman 3, wawancara khusus dengan Sekretaris Umum Majelis Sinode GKP, Pdt. Edward Tureay, S.Th. Ada 2 tulisan Pdt. Supriatno, M.Th., tentang “Berbagi Kebaikan dalam Semangat Kegembiraan” dan “Menolak Gereja = Menolak Injil dan Yesus?”. Pdt. Hariman A. Pattianakotta turut menyumbang 2 tulisan, “Perkabaran Injil Bukan Kristenisasi” dan “Membangun Habitus Multikultural dalam Pembagunan Jemaat”. Ada pula sebuah wacana dari Kurnia A. Dani, tentang “Apa yang Dikerjakan Gereja Kristen Pasundan”. Lalu, apa kata mereka tentang PI dalam konteks GKP?

Pdt. Edward Tureay, S.Th., memberikan jawaban terhadap pertanyaan, “PI Seperti apakah yang dilakukan di GKP?”, sebagai berikut:

“Sesuai dengan semangat ”menjadi gereja bagi sesame” maka PI yang dilakukan GKP adalah PI yang mengedepankan pelayanan sosial. GKP membangun dialog dengan saudara-saudaranya, secara sadar melihat persoalan social sevagai persoalan bersama, karenanya penyelesaiannya pun harus dilakukan secara bersama dengan seluruh komponen masyarakat. Kita semua sadar bahwa PI yang kita kembangkan adalah bagaimana melahirkan gereja yang siap menghadapi perubahan-perubahan dan juga siap mengubah kehidupan kearah yang lebih baik. Perubahan-perubahan ini hanya bisa terjadi bila gereja sadar akan makna kehadirannya untuk orang-orang yang menderita, orang-orang yang mengalami ketidakadilan, orang-orang yang termajinalkan, serta memberikan perhatian pada alam yang terus-menerus dirusak oleh kerakusan manusia. Karena itu GKP terus-menerus mendorong setiap warga jemaat untuk mengambil peran secara positif di tengah masyarakat”.

Pdt. Supriatno, M.Th., sendiri melihat bahwa PI dipahami sebagai penyampaian tentang kabar gembira. Dalam konteks tersebut maka, Pi harus disampaikandalam suasana yang gembira, tidak boleh ada paksaan. Dengan demikian, PI akan menjadi sesuatu yang tidak menakutkan. Namun sayangnya, Pi yang adalah panggilan hakiki setiap gereja tersebut, kerap dipahami keliru dan kurang bijaksana. Seperti memahaminya dalam target suskes atau tidak sukses.

Dalam “Menolak Gereja = Menolak Injil dan Yesus?”, Pdt. Supriatno membuka cakrawala PI lebih luas lagi, yaitu dalam masyarakat yang majemuk. Sejalan dengan pemikiran tulisan sebelumnya, Pdt. Supriatno kembali mengajukan konsep penyampaian PI dengan nuansa gembira, namun gereja juga harus turu memahami masalah majemuk yang terjadi di luar gereja. Resistensi terhadap PI kadang diartikan sebagai kristenisasi, patutlah menjadi pembelajaran bagi gereja. “Artinya, jangan-jangan yang ditolak mereka bukan Injil”, tulis Pdt. Supriatno. Karena dalam realitas yang konkrit dalam pribadi dan sosial, Injil adalah memuliakan martabat manusia. Lihat saja, yang buta bisa melihat, yang lumpuh dapat berjalan, ataupun yang salah diampuni.

Dengan landasan Alkitab, tulisan pertama Pdt. Hariman A. Pattianakotta, menyimpulkan bahwa PI haruslah dipahami dan dihayati sebagai tindakan menyemai cinta dan kemanusiaan, atau memanusiakan manusia dengan cinta dan pengorbanan. Dengan semangat itu dan ditambah melalui proses penyadaran dan pendidikan, maka “Membangun Habitus Multikultural dalam Pembangunan Jemaat”, tampak menjadi harapan.

Mencoba menarik simpulan dari ketiga catatan di atas, maka secara umum, GKP melihat misi PI sebagai bagian dari hidup bergereja yang hakiki, dimana dalam proses PI itu dipahami dengan bijak dan benar, tanpa kekerasan, dan menunjukan keberpihakan kepada mereka yang terpinggirkan.

Relasi GKP-Satya Wacana

GKP adalah salah satu gereja pendukung Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW). Dalam organ-organ yayasan, dua wakil utusan GKP duduk, yaitu: Ketua Sinode GKP Pdt. Krisna Ludia Suryadi, S.Th. (sebagai Anggota Pembina) dan Pdt. Engkih Gandakusumah, S.Th (Ketua Pengawas).

YPTKSW sendiri adalah “pemilik” Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga, Sekolah Tinggi Bahasa Asing Satya Wacana Salatiga, Sekolah Tinggi Kristen Wira Wacana Sumba, PT Satya Mitra Sejahtera Salatiga. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s