CH (195): Ketika Mereka Menegurmu

Tuhan mengirim Natan untuk menegur Raja Daud, atas perilakunya yang tidak berkenan di mata-Nya. Sang Raja pun tersadar, dan dengan tulus mengaku bahwa ia bersalah. Namun tetap, walaupun Daud telah memohon maaf dengan berpuasa, Tuhan memberikannya hukuman.

Apakah yang membuat Sang Daud jatuh dalam dosa dan menuai murka Tuhan? Dalam catatan di Kitab 2 Samuel, Daud berzinah dengan Batsyeba, Istri dari Uria, yang adalah bawahannya. Dengan licik, Sang Raja mengirimkan Uria berperang dan terbunuh, atas “perintah Daud sendiri”.

Lalu apa yang dituai oleh Daud? Ada 3 hal, yaitu (1) …Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya,…; (2) ….malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu…; (3) …anak yang lahir bagimu itu akan mati. Demikian ditulis dalam 2 Samuel 12:10, 11, dan 14.

Menarik, seorang yang pernah menumbangkan Goliat itu, tidak mengeraskan hatinya terhadap teguran Natan. Daud tidak menunjukan egonya sebagai penguasa negeri Israel dan tidak membantah ucapan Natan. Daud tidak malu kehilangan muka, bahkan sebaliknya mau mengaku bersalah. Dia berusaha menawarkan hati Tuhan dengan berpuasa. Harap Daud, “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup”, 2 Samuel 12:22.

Hikmat apa yang dapat kita ambil dari cerita di atas? Pertama adalah bahwa melalui kuasa-Nya, Tuhan menegur anak-Nya yang berbuat salah. Berbagai cara dapat dilakukan oleh Tuhan untuk menegur, entah melalui sahabat dekat, keluarga, ataupun lainnya.

Kedua, akan selalu ada dampak dari perbuatan salah tersebut kepada diri sendiri, atau bahkan kepada keluarga,atau lainnya. Sederhana saja, jika seseorang dari anggota keluarga akhirnya harusmasuk penjara akibat perbuatan salah, tentulah anggota keluarga lainnya akan turut bersedih.

Ketiga, kita tidak akan pernah bisa lari dari “murka” Tuhan.

Janganlah keraskan hatimu, jika seseorang tiba-tiba menegurmu dengan halus, sembari berkata, “Mas/Mbak, bukankah apa yang Anda lakukan adalah tidak baik dan tidak sesuai dengan perintah Tuhan?”. Karena bisa jadi, Tuhan menegurmu melalui orang tersebut, atau bahkan melalui orang yang lebih kecil darimu. Maknailah bahwa teguran itu adalah bentuk dari kasih Tuhan kepada anak-Nya.

Jadi, bersyukurlah jika kita masih diberikan kesempatan untuk mendapat teguran. Berubahlah, dan menjadi lebih baiklah, walaupun itu tidak akan melepaskan kita dari dampak-dampak akibat perbuatan kita, namun sebagai manusia yang tunduk kepada pencipta-Nya, kita wajib menerima resiko itu, dan selalu kembali ke yang benar. (sfm).

3 thoughts on “CH (195): Ketika Mereka Menegurmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s