CH (204): Refleksi Setahun “Demo” Mahasiswa FTI

Tepat tanggal 1 September 2011 yang lalu, adalah 1 tahun terjadinya “demo” mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), gara-gara sebuah tulisan “Ospek” Ala “Fakultas Biru” di Facebook. Setahun, waktu yang cukup untuk merefleksikannya.

Sebelum berefleksi, berikut selengkapnya tulisan yang diposting tanggal 26 Agustus 2010, pukul 3:06 sore.

Sekitar 700 mahasiswa baru Fakultas Teknologi Informasi (FTI), yang aku juluki sebagai “Fakultas Biru”, pagi ini berlari-lari mengelilingi kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), sembari menyanyikan yel-yel mereka. Hari ini adalah hari pertama kegiatan FTI Days, atau bahasa gaulnya “Ospek”, bertema Unity in Diversity. Kegiatan wajib tersebut akan berlangsung di daerah dingin, Bantir, Bandungan, hingga 28 Agustus nanti.

Para “Ospeker” dibalut kaos oblong warna biru tua, celana panjang, sepatu dengan kaos kaki panjang 2 warna, satu kuning, satu lagi biru. Para “Ospekerwan” bergaya rambut cepak mirip tentara , sedangkan “Ospekerwati” berkuncir. Untuk perhelatan akbar ini, setiap “Ospeker” dikutip uang sebesar Rp. 150.000, diluar pengadaan peralatan “Ospek” yang harus mereka bawa sendiri dari rumah.

Well, semoga “Ospek” kali ini dapat berjalan dengan baik, tanpa perlu ada kekerasan (baik fisik maupun nonfisik), walaupun aku dengar kabar bahwa ada panitia yang membentak-bentak “Ospeker”, saat “gladiresik” kemarin sore (25/08) di Balairung Universitas. Semoga juga para panitia tetap menghormati para “Ospeker” yang menjalankan Ibadah Puasa.

Semoga juga, para panitia tetap tunduk dengan instruksi Rektor UKSW yang tertuang dalam Surat Keputusan Rektor UKSW Nomor: 270/Kep.Rek./2010. Kenapa semoga? Ya, karena aku tidak bisa melihat aktifitas mereka di Bantir. Lalu, bagaimana kalau mereka tidak patuh ya…?

———–
Istilah:
Ospeker: istilahku untuk orang yang di ospek.
Ospekerwan: Ospeker laki-laki.
Ospekerwati: Ospeker perempuan.

Komentar

Tulisan tersebut mengundang lebih dari 250 komen, baik dari dosen (FTI dan Non-FTI), sejumlah alumni UKSW, dan tentunya mahasiswa FTI UKSW. Ada sejumlah komen yang mengajak berdiskusi, ada pula yang memaki-maki (setidaknya itu menurut pendapat Saya). Berikut diantara sejumlah komen-komen yang masuk tersebut.

Petrus Wijayanto Bantir? angker tuh tempatnya, hahahaha

Nazarius Inri Semoga aman dan tak ada yang kesurupan dsn…

Vputhhut Rumantyo tabk saja, tendang, hajar !!! ganyang malaysia

Titus Yurial Kurnianto terlanjur bentak,eh malah “yg halus” yg dibentak.hahaha.bantir angker soalnya.ya fti tggng jwbnya brt.bw 700 anak org tu

Thomas Agus Prajitno He3, mo diajak ke Bantir ato Sembir itu terserahlah, catatanku cuma :
1. Apakah tambahan 150.000 itu sepersetujuan PRUMA (PR3 ato mo pke istilah apalah), krn apakah tlh dipikirkan utk kebersamaan katanya UNIver…
2.selama kegiatan dpt melatih mental maru utk menghadapi kehidupan mhs yg diburu wkt n tanggung jwb sih okey2 aja.
3. Yg saya tak tahu sekrang msh ada malam “mental breakdown” gak ya? Klo dulu keberhslan pan orientasi sih seakan diliat dr brp banyak maru yg nangis2/pingsan dlm acara ini, he3 yg jagoan mbuat mental breakdown dulu ya penghuni kandang bethlehem (F.Th) rasanya. Krn mental breakdown itu bkn bentak2an penekanannya tapi maru dibuat sadar akan keberadaan, tugasnya n lain2 yg menyentuh hati. Ada gak ya sekarang ?
He3….jadi ingat posma 73 nih.

Pinkan Margaretha ‎@M Saam: di Universitas yang memiliki berbagai bidang ilmu ini, kalau masing-masing memiliki respek terhadap kompetensi akademis dari setiap program studi/fakultas, maka tinjauan2 untuk pengembangan mahasiswa seharusnya melibatkan prodi dan fakultas yang relevan bidang ilmunya, bukan hanya orang-orang terdekat yang belum tentu memiliki kompetensi, tetapi hanya berdasar pengalaman ketika jadi mahasiswa. Lucu juga mas kalau kita yang mengaku ilmuwan, mendasarkan program atau keputusan berdasarkan pengalaman dan bukan kajian ilmu masing2.

Faber Purba sayang sekali…
banyak orang-orang yang begitu ‘pintar’ mengetahui/menganalisis apa saja yang terjadi dalam FTI Days, namun tidak tahu sebenarnya apa yang di dapat dalam FTI Days itu sendiri….ironis memang..
Tuhan Yesus Memberkati.

Meland Tetumanto Neno • ‎$Fredy: Menurut anda, apa dijemur berjam-jam di siang hari dan dibentak-bentak termasuk dalam kategori kekerasan fisik dan mental? Menurut anda, uang 150k ditambah biaya utk membeli perlengkapan tidak membebani mahasiswa? Silakan cerna sendiri🙂
Saya, Yohanes, dan Ika mengisi sesi ibadah pada FTI Days 2010 sehingga komentar kami masing2 hanya sebatas pada apa yang kami lihat selama beberapa jam kami di sana (pribadi).

$All: Kalo takut setan berlatihlah kungfu, biar kalo diserang bisa membalas serang. Kalo gag bisa kungfu, latihan sprint tiap hari, biar kalo setan menampakkan diri bisa ambil langkah seribu. Kalo gag bisa juga, perkuatlah iman masing2, yang ini paling jitu dan paling ampuh. God Bless🙂

$Faber: Kalo ada jalan rusak dan jalan mulus, tapi 22nya menuju tempat tujuan anda, jalan mana yg ‘ingin’ anda tempuh?

Sally Ridge Angie Manuputty wkakakkakakkakakakakakakakka……….

notes ini bagus juga utk sharing info yaa….
tapi jangan langsung menilai apapun diluar ketidaktahuan kita.
harapannya baik sekali pd notes ini, dan memang demikian yang diharapkan berjalan sesuai dengan kenyataannya.

mahasiswa hanya sebatas sakit, karena sakit bawaan, dan langsung ditangani oleh tim P3k, juga ada dokter yang datang khusus menangani masalah serius dlm kesehatan peserta.

saran aja ni… jangan hanya bercerita dan mengumpulkan aspirasi, tapi coba diskusikan dan bertanyalah pd pihak penyelenggara. utk lebih jelas tanyakan pd DEKAN FTI dan panitia FTI DAYS. juga tanggapan peserta FTI DAYS.. jangan hanya sebagian, seluruhnya dan semua pihak, agar ada kejelasan yg benar2 jelas. ASUMSI dari teman2 belum tentu benar adanya.

PUJI TUHAN, SEMUA PIHAK YANG TERLIBAT DALAM FTI DAYS MEMPUNYAI IMAN YANG KUAT SEHINGGA TIDAK ADA YANG KESURUPAN. peserta yang hampir 700 orang SELAMAT DLAM PERLINDUNGAN TUHAN YANG MAHA ESA!
Andreas Setya Wijaya justru keras itu enak daripada loyo gak berguna……(rak kanggo gawe)…..ayo yang ngaku punyanya keras dukung aku…….klo lembek dan loyo tentang aku……..

Chyntia Sheila Elok haha. Trimakasi buat yg bikin note, telah memberi wadah diskusi yg hebat. Dg note ini, telah menjawab pikiran2 negatif akan FTI Days. Coment2 dr anag FTI di atas cukup mmbuktikan bgmna rasa prsatuan kami, rasa cinta akan fakultas kami, rasa kebersamaan km mjadi keluarga FTI. (apakah fakultas anda jg seperti ini?). Semua ini kt dpt berawal dr FTI Days.
Bukn krn sbg mahasiswa FTI ataupun krn ada jd panitia ftidays lantas mdukung kegiatan ini, tp krn kami jauh lebih tau apa yg terjadi.
Sy kurang suka dg kata ‘ospek’, knp menggunakan kata ini?istilah lama yg terkesan negatif. FTI DAYS tetap FTI DAYS, jgn samakan dg pikiran akan ospek jaman dulu. Liat kenyataan dan tujuan yg tercapai. FTI Days beda.
Mungkin yg masi berpikir negatif bisa ikut kegiatan ini taun depan, FTI DAYS 2011.🙂

Muhamad Aliet alhamdulilah saya sangat bangga ama fakultasku tercinta🙂

Anthony Tumimomor • hehehe.. rame..ketinggalan banget…
thanks for mas sam..(yang teryata “sangat perduli” dengan FTI mudah-mudahan semua kegiatan fakultas lain juga bisa dibuatkan “notenya”…heehhehe biar adil dong..masak fakultas yang lain tidak di ulas.. bisa-bisa terjadi kecemburuan sosial…)
btw bener kata mickel : kita FTI bukan “fakultas biru” mungkin dibuat “bancaan/selamatan” dulu sebelum menjuluki fakultas kami.

thanks for all : yang udah comment..makasi udah buat aku merengut, tersenyum, tertawa dan mengkoreksi diri…semoga ini menjadi masukan yang terbaik untuk fakultas kami.

Tuhan memberkati kita.
Amin.

Wahyu Agung Kristyanto satu diserang yg maju berapa…???

 

Ineke Pakereng FTI Jaya, FTI selalu di hati; Tuhan takkan pernah lepaskan FTI; Di dunia ini, selalu ada yang suka dan tidak suka; so..FTI Days tetap jalan dan tetap OK….FTI Days selalu dirindukan oleh mahasiswa….dan itu pasti….bukankah begitu mahasiswa/i ku tercinta….?🙂

William Michael Alfons ahhahahah.ini note seakan dibuat oleh penulis untuk ngetes kita anak FTI…ada apa lagi negh kawan??? Politik apa lagi yang lo mainkan????

STOP dengan penulisan2 yang ga ada guna…….
klu ga ada bukti kuat dan informasi yang dirasakan secara langsung! JANGAN BACOD……..

Enstein Wairata • anda PROVOKATOR !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

teman2, saya harap tidak perlu lagi menanggapi NOTE yang TIDAK BERMUTU ini,
TIDAK PENTING… (epen ka? )

kita klarifikasi saja F2F..

bila perlu sampai 53, tapi jangan sampai 71..
😀😀😀😀😀
apakah 86 ??

keenakan provokator ini, pesbuknya dikunjungi terus, jadi tenar dia. lihat sendiri, yg dikomentari (mungkin bukan) orang ini hanya memancing komentar yg lebih banyak lagi…
dari mahasiswa lah, dari dosen lah..
sesaat lagi akan diundang dari pihak rektorat, kemudian yayasan untuk ikut komen…

HEBAT PAK !!!!!

teman2, saya harap komentar saya ini adalah KOMENTAR YANG TERAKHIR !!!

ketua SC FTI DAYS 2010
(pinjam akun teman)
Gde Agus •lhoh… tak kira uda dihapus… ternyata masih bertahan… FTI JAYA..!!

Disini kau ukir tugu arca pada.. FTI KAU BERADA…!!!!
Ferdinand Umbu Reda Anaboeni Biasa saja note ini. Gak ada yang begitu istimewa. Kenapa sampai jadi seribet ini, aneh !!!

@ Sam : Kubaca di scientiarum kau didemo dan diminta klarifikasi ya. Tak usahlah kau beri klarifikasi, kau tak salah apa-apa. Karena justifikasi dalam setiap kata dan kalimat di note ini tak ada sama sekali (murni opini menggunakan kata “semoga”).

Yang perlu kau ingat hanyalah, jika sudah jadi forum diskusi seperti ini, setiap komentar selayaknya kau tanggapi tanpa kau kesampingkan (setiap komentar). Belajarlah pada note2 saudara Satria Anandita dan Frangkie Tomasua (Bung Frankie). Karena apa ? Karena itulah dampak dari sebuah opini yang kebenarannya belum tentu benar dan perlu cek dan ricek, hehe. . . ^_^

Ini penting (tanggapan komentar dalam setiap note kamu), jangan sampai lupa .. !! (tips ini kudapat dari Frankie Tomasua).

Charles Hadi Sebayang saya sepakat dengan komentar dari rekan N Julian Fery Situmorang saya rasa anda tidak perlu mengklarifikasi tulisan anda krena tidak ada satu pun unsur provokatif di tulisan anda. jika ada yang tidak puas silahkan tempuh saja jalur Hukum. begitu juga dengan Saam Fredy Marpaung bila anda mengalami intimidasi dari pihak mana pun juga silahkan tempuh jalut hukum, jangan takut untuk bersuara ini negara Demokrasi semua ada aturan hukum nya.
salam…

Ricardinho Da Silva tulisannya saam biasa aja, ga ada yang menjelek-jelekan salah satu pihak.. kasian yang ikut demo, mereka dikerjain kali yah…abis baca tulisannya sepotong-sepotong sih, trus tidak dicerna dengan baik.

Ai Ijōna Anisti Riris : Keep Writing Saam ! LIKE THIS

Scientirum

Lembaga Pers Mahasiswa(LPM) UKSW Scientiarum pun tertarik membuat sebuah berita tentang “demo” tersebut, dengan judul “Gara-gara Notes FB, Staf YPTKSW Didemo”, dipublikasikan tanggal 5 September 2010. Berikut Saya sarikan.

Rabu 1 September 2010 sekitar pukul sembilan pagi, puluhan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi (FTI) mendatangi kantor Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana. Sayangnya saat itu Saam Fredy tidak berada di tempat karena sedang melayat, sehingga akhirnya para mahasiswa berdialog dengan pengurus YPTKSW.
Mahasiswa yang datang menyampaikan keberatan mereka atas notes yang ditulis oleh Saam Fredy. Mereka menganggap notes tersebut telah memancing pandangan-pandangan negatif dan memojokkan FTI. Mereka juga beranggapan bahwa Facebook bukan tempat yang tepat untuk melakukan pemberitaan seperti ini.
Ketua YPTKSW Judowibowo Poerwowidagdo meminta maaf atas nama Saam Fredy Marpaung. Ia mengatakan bahwa mungkin yang stafnya tersebut lakukan tidak sengaja hingga menimbulkan ketidaknyamanan seperti ini.
Saam Fredy mengaku belum mengetahui perkara kedatangan mahasiswa-mahasiwa FTI. Akan tetapi ia beranggapan tidak ada kesalahan dalam tulisan “Cari tiga orang independen yang ahli dalam hal tulis-menulis yang menyatakan tulisan saya ada yang salah. Saya merekomendasikan tiga orang tersebut berasal dari Scientiarum, Fiskom, dan FBS. Jika mereka bersepakat bahwa ada kesalahan dalam tulisan saya, saya akan minta maaf,” demikian kata Saam.

Refleksi

Merefleksi apa yangterjadi dalam kehidupan adalah salah satu bagian yang penting dalam kehidupan manusia ataupun sebuah institusi. Melalui jalan refleksi diharapkan timbul sebuah pemahaman yang lebih baik, sehingga ada manfaat bagi introspeksi. Lalu apa refleksi Saya tentang permaslaah itu? Berikut butir-butirnya.

Pertama, Saya tetap berfikir bahwa tidak ada yang salah dari tulisan Saya. Tulisan tersebut hanyalah sebuah informasi apa yang dilihat, ada juga semacam harapan-harapanyang disampaikan. Tidak ada niatan buruk terhadap objek tulisan, jika ada maka itu wilayah pembaca, bagaimana mereka merespon tulisan itu. Saya sangat menghormati wilayah para pembaca, mereka dapat memilih suka ataupun tidak suka, bahkan mereka dapat memilih untuk tidak membaca saja pun sangat Saya hargai. Jika terjadi diskusi, itu baik, namun jika terjadi caci-maki, lebih baik tidak perlu Saya komentari. Diskusi yang diharapkan adalah diskusi yang positif dan membangun, sehingga tercipta perbaikan ataupun penyempurnaan.

Kedua, niat agar ada kajian akademis tidak dapat terwujud. Ini tentu sangat Saya sayangkan, mengapa? Tentu sebagai sumber ilmu ditanam, dikreasi, disemai, maka adalah layak dan wajar (dan bahkan seharusnya), menyelesaikan permasalah apalagi yang berhubungan kehidupan civitas akademika, maka kajian akademik adalah sebuah kewajiban, dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Sudah tentu kalo kita masih mengatakan diri kita sebagai bagian dari cicitas yang berilmu. Mencoba mengurangi dominansi “Otot”, dan lebih memberdayakan “Otak”.

Ketiga, ijinkan Saya menyayangkan “permohonan maaf yang dilakukan oleh pimpinan YPTKSW”, karena menurut Saya, hal itu tidaklah pas. Sederhana saja analoginya, seorang dosen yang menulis opini di sebuah surat kabar tentang penolakannya terhadap kebijakan pemerintah, dan mengharapkan adanya perlawanan dari para stake holder, apakah perlu rektor dari dosen tersebut meminta maaf kepada pemerintah karena tulisan staf dosennya tersebut?

Keempat, Saya tidak mengharamkan “demo”, karena saya pun pernah menjadi aktivis mahasiswa dan beberapa kali turun berdemo, dan pernah sekali berdemo penolakan kebijakan kenaiakn BBM di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, tahun 2004. Namun yang menurut Saya patut dipahami adalah “demo” bukanlah aksi gagah-gagahan apalagi sekedar ikut-ikutan, demo adalah salah satu jalan, jika terjadi sumbatan komunikasi dalam proses pencarian solusi.

Kelima, dalam kesempatan ini juga Saya ingin memberi sangahan atas sejumlah suara miring yang berkata bahwa Saya di-“depak” dari Humas UKSW, karena kinerja Saya buruk. Menurut Saya, itu hanya isu yang tidak berdasar, kenapa? Karena menurut Saya, apa yang telah Saya berikan kepada UKSW adalah yang terbaik.

Akhirnya…

Setahun telah berjalan, Saya pun tetap menulis hingga hari ini. Di-“Demo” bukan alasan untuk berhenti menulis, walau pernah terpikirkan waktu itu. Media yang Saya gunakan bukan lagi facebook, tapi blog. Fb saya gunakan sebagai aggregator saja.

Menulis di dunia maya, tidak hanya membuat diri Saya tercatatkan dalam sejarah perjalanan manusia (paling tidak untuk diri Saya sendiri), namun yang lebih penting adalah dengan menulis Saya mau menjadi pribadi yang teru-menerus bergumul, berfikir, dan menjadi lebih berdewasa. Demikianlah seperti Saya pahami melalui ciri khas almamater Saya UKSW, menjadi lulusan yang “berdaya cipta” (creative minority). Personal yang memahami karakteristik daya cipta, adalah personal yang terus dan terus ingin berubah, yang mengarah kepada kebaikan. Tidak akan mundur walaupun tembok menghalangi, karena seorang dengan karakter berdaya cipta akan berfikir, “bagaimana melewati tembok, dan bukan menghancurkannya”. Itu berarti tidak perlu cara-cara keras untuk melewati tantangan dalam kehidupan, namun lebih dituntut untuk semakin kreatif menyiasati/melawan tantangan.

Saya yakin, akan terjadi perbedaan cara pandang tentang “cara Saya mencintai kampus ini”. Namun yang patut dipahami adalah bahwa cara padang yang berbeda itu adalah wajar dan normal-normal saja. Bisa kita bayangkan bersama, Satya Wacana ini penuh dengan lulusan dari berbagai fakultas yang berbeda, datang dari daerah yang berbeda juga, dan tentu cara berfikir yang unik dan menarik. Karena itulah sejatinya Satya Wacana, seperti yang diajarkan oleh para pendirinya. Kalau tidak ada perbedaan, kampus ini tidak akan pernah besar seperti ini. Namun, tidak perlu memperuncing perbedaan padang, karena yang perlu ditekankan ialah bagaimana mensinergikan cara padang yang berbeda itu menjadi kekuatan yang luar biasa bagi Satya Wacana. Lihatlah bagaimana Seorang Notohamidjojo, Sutarno, ataupun Willi Toisuta, memimpin keberagaman Satya Wacana. Contohlah mereka, jadikan mereka teladan, dan bukan sekedar tau saja.

By the way, selamat ulang tahun ke-8 untuk FTI UKSW. (sfm).

6 thoughts on “CH (204): Refleksi Setahun “Demo” Mahasiswa FTI

  1. Terima kasih atas refleksinya. Teruslah menulis, sebab hanya dengan tulisan – tulisanlah saudara akan dikenang (walaupun di dunia maya). Hanya dengan tulisanlah kita bisa mengenal apa yang disebut “firman Tuhan” di dalam agama – agama. Jika tidak ada tulisan, maka tidak akan ada kitab suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, di dalam Alkitab-nya orang Kristen. Dengan demikian, Tuhan pasti memberkati setiap penulis, apalagi bila ditulis dengan terlebih dulu memohon hikmat dari-NYA. Salam.

  2. sy khawatir, ospek itu hanya sekedar “ritual” kosong belaka. ajang gagah2-an, tok. di tempat lain sampai ada yg meninggal, bahkan. mogo ngga terjadi.

    • Kekawatiran anda memang betul ! Memang kenyataanya terjadi kekerasan verbal pada ftidays 2010. adik saya adalah maba angkatan 2010, dia cerita pada saya bahwa ia sering dibentak – bentak oleh panitia fti days 2010 saat gladi resik maupun saat kemah di bantar bandungan

  3. yah…selama saya kuliah di UKSW,memang bisa dikatakan bahwa banyak pandangan negatif terhadap fakultas2 yg ada. berkaitan dgn tulisan di ats saya rasa sah2 saja menulis sebuah artikel, tetapi tidak bisa disalahkan pula bila ada reaksi yang ekstrim. yang harus diingat bahwa ini lah dunia media kita bisa menuliskan fakta, opini, dan harapan kita tapi kita juga harus siap dengan feedback yang muncul.

  4. ketika saya membaca alur dari note bang Sam dan setiap komen sampai dengan kesimpulan yang dibuat bang Sam. seharusnya tidak ada unsur provokatif sama sekali. seringkali dengan adanya hal – hal seperti ini yang perlu dipertanyakan kenapa sampai ada demo? siapakah provokator yang sebenarnya. mentalitas seperti apakah ini sehingga hal ini sangat disayangkan sekali bisa terjadi dikampus tercinta UKSW.. nilai seperti apa yang amau dibawa dalam demo tersebut? cukup membuat tertawa karena Fakultas sekelas FTI menelaah masalah ataupun komen dengan menggunakan massa.
    sepertinya kepuasaan untuk dihormati dan merasa benar masih menjadi wacana yang perlu dikaji dalam segala lintas ilmu.
    semoga UKSW tetap damai, dan semakin dewasa dalam bersosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s