CH (210): Prof. Mulyani Djojomihardjo, Ph.D.

M. Djojomihardjo

Ketenangan batin Saya kembali terusik pagi ini (7/10), saat Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar upacara pelantikan Guru Besar (Profesor) kembali. Setiap ada Guru Besar yang dilantik, Saya jadi teringat akan sosok seorang dosen senior (kini telah tiada) bernama Mulyani Djojomihardjo, Ph.D.

Beliau adalah alumni Departemen Bahasa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana lulusan tahun 1980. Tahun 1979, sembari menyelesaikan skripsinya, Beliau telah aktif mengajar. Kemampuannya berbahasa Inggris, medapat perhatian khusus dari Ketua Departemen saat itu, Drs. I Made Markus. Dalam suratnya kepada Rektor UKSW, I Made Markus menulis, “…Secara akademik ia (Mulyani) tergolong mahasiswa A sehingga kami yakin ia akan menjadi calon pengajar Bhs. Inggris yang baik”. Beberapa hari setelah Beliau menyelesaikan skripsinya, Beliau menerima surat keputusan pengangkatan dirinya sebagai dosen tetap di UKSW.

Sepuluh tahun kemudian, Beliau mendapat kesempatan studi lanjut strata dua di Universitas Ohio, Athens, Amarika Serikat. Gelar Doctor of Philosophy-nya (Ph.D.) juga didapat di tempat yang sama, tahun 1997. Itu berarti hingga 2011, Beliau telah mengenggam Ph.D.-nya selama 14 tahun.

Hingga akhir hayatnya (beliau menghembuskan nafas terakhirnya bulan Agustus 2011), Ibu Mulyani masih ber-Jabatan Fungsional Akademik (JAFA) Asisten Ahli (JAFA paling dasar, sedangkan JAFA Guru Besar adalah JAFA tertinggi). Lalu, apa yang membuat hal itu terjadi, mengapa tidak ada gelar Profesor di depan nama seorang Mulyani?

Mencoba memahami sosok seorang Mulyani, melalui segenap interaksi Saya dengan Beliau selama kuliah, Saya memberanikan diri untuk membuat perbicangan imajiner seputar pertanyaan itu. Berikut, perbincangan itu.

SFM       : “Ibu, mungkin banyak orang bertanya, termasuk Saya, kenapa Ibu hanya ber-JAFA Asisten Ahli hingga saat ini. Melihat kemampuan Ibu, Ibu bisa lebih dari Asisten Ahli?

MD         : “Hmmm…kenapa kamu tanyakan itu, Saam?”

SFM       : “Saya tidak tau Bu, tiba-tiba pertanyaan itu muncul, setiap kali seorang Guru Besar dikukuhkan di kampus ini. Dan Saya pikir Ibu bisa mencapainya”.

MD         : “(tersenyum simpul) tidak usah kamu risaukan hal itu, biarlah. Setiap orang memiliki cara padangnya sendiri atas apa yang ia ingin capai. Bagi Saya, Profesor bukanlah tujuan.”

SFM       : “Kenapa Ibu, kenapa itu bukan tujuan? Banyak dosen yang berharap mendapatkan gelar tersebut. Itu prestise. Itu juga berguna bagi Akreditasi, nama baik universitas, dan lain-lain?”.

MD         : “(wajahnya tampak serius mendengar ucapan itu) Saam, jika pencapaian itu hanya dimaknai sebagai hal-hal itu, lebih baik tidaklah perlu. Di tempat Saya belajar, di Universitas Ohio, gelar Profesor itu tidak seperti di sini yang by angka kum. Di sana, gelar itu diberi karena seseorang memiliki kemampuan akademik yang tinggi. Tidak sembarangan pengajar di sana bisa dikatakan Profesor. Mengenai Akreditasi, Saya pikir biarlah masyarakat yang menilai kehebatan sebuah universitas atau fakultas. Saya sangat menyayangkan jika akreditasi dilihat sebagai patokan, padahal the real education start in class, not by akreditasi. Apalah guna sebuah akreditasi yang mewah, jika itu hanya riasan saja…Saam, berhentilah memuja hal-hal yang artifisial, mulailah kembali seperti apa yang telah dilakukan Satya Wacana dulu, yaitu menjadi lembaga pendidikan yang benar-benar mendidik, dan mempertanggungjawabkan hasilnya kepada Tuhan dan masyarakat….

Perbicangan imajiner itu pun terus berlangsung, namun dari penggalan di atas Saya pun akhirnya mendapatkan penyadaran. Bahwa seorang Mulyani, tidaklah membutuhkan pengakuan atas kemampuannya dari pemerintah, namun membiarkan masyarakat yang menilai sendiri. Karena sejatinya, pengakuan itu ada dalam setiap orang yang belajar darinya. Dan Saya, adalah salah satu orang yang pernah belajar dari Beliau, tidak hanya ilmu yang saya serap, tapi sejumlah petuah bijak pun Saya serap dari seorang Mulyani. Dengan rasa bangga, Saya yang adalah bagian dari masyarakat, memberikan gelar Guru Besar Sejati (atau Prof. Sjt.) bagi Mulyani Djojomihardjo, Ph.D. Selamat Ibu, Anda telah menerima gelar itu dari seorang yang bangga terhadap Ibu Prof. Sjt. Mulyani Djojomihardjo, Ph.D. (sfm).

4 thoughts on “CH (210): Prof. Mulyani Djojomihardjo, Ph.D.

  1. Bagi saya, ibu Mul adalah sosok ibu guru yang rendah hati dan berkualitas tinggi. Jiwa pengajar yang dimiliki ibu Mul bukan didasarkan pada kebutuhan “angka” ataupun popularity need. Beliau mempunyai integritas terhadap profesi pengajar yang sejati. Tidak hanya sekedar mengajar materi, tapi juga memperhatikan psikologis murid-muridnya. Saya adalah salah satu dari sekian banyak murid yang merasakan hal itu. Dan saya yakin, tidak hanya segelintir orang saja yang merasa sangat kehilangan atas kepergian ibu Mul…

    http://ninonlove.multiply.com/journal/item/23/120_Minutes

  2. Kali pertama berada dalam satu forum ilmiah dengan bu Mul ketika beliau menjadi penerjemah dalam seminar di psikologi UKSW. setelah itu pertemuan-pertemuan selanjutnya terjadi ketika berpapasan di kantin ataupun di jalan2 UKSW. setiap bertemu dengan senyumnya yang hangat, bu Mul selalu mendorong saya untuk segera melanjutkan studi.. satu kalimat yang saya ingat hingga sekarang:
    “… kamu pasti bisa…”
    terima kasih bu Mul.. kesederhanaan penuh makna yang selalu ibu tampilkan tidak akan pernah saya lupakan dan akan menjadi teladan.

  3. sayang sekali saya belum merasakan kehangatan kasih dalam pengajaran Bu Mul, karena Tuhan sudah memanggil beliau pulang…
    Ah, andaikan saya sudah mengenal ibu secara langsung..😥

  4. Buat saya Bu Mul adalah sosok seorang guru yang menilai siswa dari kemampuan dan sikapnya, bukan dari pengetahuan fiktifnya ataupun nilai yang dia capai. Saya masih ingat ketika beliau mengajar kelas psychology in linguistics, beliau mengingatkan saya untuk berkata:
    “Maaf saya tidak tahu, dan saya akan berusaha menemukan jawabannya dalam waktu dekat”
    ketika saya menghadapi pertanyaan sukar yang tidak dapat saya jawab, daripada saya memberikan jawaban yang ngawur dan seolah-olah benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s