CH (217): Meminum Cawan Pahit

Menjadi pengikut Kristus yang benar-benar mengikuti ajaran Yesus, salah satunya akan terlihat ketika kita memutuskan sesuatu masalah yang pelik. Akankah kita bersandar kepada tawaran dunia dan meminggirkan Tuhan, ataukah meminum cawan pahit itu, untuk kemudian memikul Salib-Nya. Demikian yang Saya pelajari secara mendalam hari ini (19/10).

Jangankan manusia, Tuhan Yesus pun mengalami pencobaan. Hal itu dapat diketahui dari berbagai cerita dalam Alkitab, salah satunya saat manusia Yesus berpuasa. Dalam kondisi berpuasa selama 40 hari dan 40 malam, Iblis menawarkan berbagai hal. Kitab Matius mencatat 3 hal tawaran duniawi Iblis, yaitu: (1) agar Yesus mengubah batu menjadi roti; (2) agar Yesus menjatuhkan diri dari Bait Allah; dan (3) Iblis menawarkan kerajaan dunia dan kemegahannya.

Ketiga pencobaan Iblis tersebut dijawab Yesus dengan tegas, matab, dan tentu mengedepankan keinginan Bapa. Ya, dalam keadaan berpuasa, manusia rentan terhadap godaan duniawai. Tentu Dia lapar. Tapi Yesus mau berkata, “Enyahlah, Iblis Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”. 

Satu lagi cerita besar, yaitu kisah Ayub yang mendapat cobaan. Dalam ketekunannya menerima cobaan, isterinya mengajak Ayub untuk mengutuki Allah, namun Ayub menolak melakukan itu. Para sahabatnya pun meragukan Ayub.

Yesus dan Ayub mengajarkan kepada kita bahwa dalam keadaan menderita pun, Yesus dan Ayub tidak menjauhkan diri dari ajaran, walaupun segala cacian, makian, ataupun penderitaan duniawi, menghajar diri mereka. Mereka mau meminum cawan pahit kehidupan, sebagai balasan dari kesalehan dan kepatuhannya kepada Bapa di Surga. Mereka menolak mengutuk Bapa, dan tetap memengang teguh ajaran, serta tetap beryukur kepada-Nya. Mereka menolak berpaling dari ajaran yang benar.

Allah berkenan atas kesetian dan ketekunan mereka. Allah melipatgandakan kelimpahan berkat bagi Ayub. Allah berkenan atas pengorbanan Anak-Nya.

Bagi saudara-saudaraku, jika anda di perhadapkan dengan peliknya masalah kehidupan, baik di kantor, rumah, ataupun dimana saja, jangan takut untuk tetap setia memegang ajaran, yang berarti meminum cawan pahitmu. Seperti ketekunan Ayub dan Yesus, ketika kita mampu memegang teguh ajaran, maka yakinlah Allah berkenan kepadamu dan memberimu kelimpahan berkat. Janganlah takut.

Janganlah ragu, karena sering kali dunia menawarkan sejuta alasan untuk membuat hatimu berpaling dari Tuhan. Tetaplah tekun dan tetaplah setia. Ingatlah janji-Nya dan patrilah dalam hatimu dalam-dalam: Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangankananmu dan berkata kepadamu: “Janganlah takut, Akulah yang menolongengkau.”  (Yesaya 41:13). (sfm).

One thought on “CH (217): Meminum Cawan Pahit

  1. hahahahahaha Saam . . .
    mungkin iblis jaman ayub itu kalah hebat sama saya.. lho?!
    emang manusia kalah sama iblis? profesor sama iblis pinter mana coba? . . . hahahaha *tertawa iblis😛
    aku bersaksi saam, tidak semua yang menjual yesus gagal seperti yudas . . lihat di dekatmu itu . . mereka hidup dengan kesejahteraan yang mewah berkelimpahan bukan? mereka ngaku kristen bukan? hahahaha . . nggak perlu iblis2an . . manusia juga bisa . . . . .😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s