CH (218): Saatnya Pendeta Masuk “Kandang”

Kemarin (19/10), sejumlah tokoh lintas agama menbacakan surat terbuka yang ditujukan kepada rakyat. “Seruan” para tokoh lintas agama itu, adalah seruan moral bagi adanya perubahan di negeri ini. Menyambut seruan tersebut, inilah saat yang tepat bagi para pendeta-pendeta Kristen untuk kembali ke fitrahnya, yaitu kembali ke gereja dan meninggalkan “kesibukannya” diluar gereja.

Kegelisahan para ulama lintas agama akan kehidupan di negeri ini yang semakin membuat rakyat menderita, sepatutnya tidak hanya dilimpahkan kepada pemerintah. Walaupun sempat diucapkan dalam poin ke-5, bahwa sebagai tokoh agama mereka, “…akan melaksanakan tugas-tugas keagamaan dan pendidikan umat sebaik-baiknya yang dapat kami lakukan…”, apakah benar para pendeta Kristen telah menjalankan tugas keagamaan dan pendidikan umat sebaik-baiknya?

Ukuran menjalankan tugas, salah satunya dapat dilihat dari proses dan hasil dari menjalankan tugas itu. Jika masih banyak orang Kristen yang bertindak koruptif, berlaku kriminal, tidak berpihak kepada mereka yang lemah, dan lain sebagainya, maka apakah para pendeta telah menjalankan tugasnya dengan baik?

Kalau saya diberikan kesempatan menjawabnya, maka dengan tegas saya katakan bahwa para pendeta telah gagal membawa domba-domba yang “tersesat” untuk kembali ke kawanannya. Domba-domba yang tersesat itu, bisa jadi adalah para pejabat-pejabat negara yang koruptif, pelaku kriminal, ataupun para penginjak hati dan nurani rakyat.

Repotnya, malah banyak pendeta lebih asik merumput di padang lain, ketimbang di padang dimana dia ditempatkan sebagai gembala jemaat. Mereka lebih asik, di dunia pendidikan, bisnis, atau bertindak sebagai aktifis lembaga masyarakat, dan lainnya. Selalu dengan alasan klasik untuk mengejawantahkan misi pelayanan ke wadah yang lain. Mereka tampak lebih bangga menjadi Profesor, ketimbang melayani doa bagi kaum kusta di desa terpelosok. Mereka sibuk dengan bisnis keduniawiaan, dengan alasan mensejahterakan umat, namun lalai melihat bahwa manusia itu tidak hanya hidup dari roti saja. Mereka terlihat nyaman duduk di kursi jabatan (entah sebagai politikus, ataupun jabatan di lembaga-lembaga lainnya), ketimbang duduk manis mendengarkan keluh-kesah penderitaan jemaatnya.

Apakah kita yakin, bahwa dalam tugas rangkap mereka itu, mereka mampu membagi waktu dan tenaga? Atau mampu menjalankan prinsip-prinsip kebenaran seperti yang diajarkan Tuhan dalam langkah kerja mereka di dunia pendidikan, usaha, ataupun lainnya? Dunia-dunia itu sangatlah rentan terhadap perilaku menyimpang dari kebenaran Tuhan. Masa sih?

Tentu, contoh sederhana begini. Seorang pendeta yang profesor, menjabat sebagai petinggi di sebuah lembaga pendidikan Kristen. Suatu saat, dia diperhadapkan dengan pilihan yang dilematis, yaitu harus menandatangani surat keputusan fiktif, agar lembaga pendidikan tersebut bisa berjalan dan tidak mengalami kesulitan dari pemerintah. Dengan sangat mudah seorang Kristen awan akan mengatakan itu tindakan yang salah, karena dikategorikan berbohong. Tidak sesuai dengan ajaran Kristus.

Sang Pendeta tidak mau kehilangan muka, diapun berkata, “Apa yang saya lakukan demi kebaikan lembaga dan dan kebaikan civitas. Jadi saya anggap ini tidak salah. Kasihan mahasiswa dan pegawai, kalau sampai pemerintah menutup lembaga ini, karena tidak memenuhi standar pemerintah”.

Sepintas, apa yang disampaikan pendeta yang profesor itu sangat terkesan baik dan benar. Namun bagi saya, Sang “Gembala” yang profesor itu sebenarnya adalah domba yang telah tersesat jalannya. Kenapa? Sudah sangat jelas, Tuhan tidak suka dan tidak pernah mengajarkan umatnya untuk kebohongan, apapun alasannya. Silahkan cari dalam Alkitab yang menyatakan bahwa hal itu diperbolehkan.

Lalu bagaimana? Apa yang terbaik buat Bapa adalah terbaik untuk manusia, jangan dibuat sebaliknya, yaitu apa yang terbaik buat manusia adalah yang terbaik bagi Bapa. Sang Pendeta telah lupa bahwa lembaga itu memasang lebel Kristen dan menuliskannya dalam keluhuran cita-cita lembaga, bahwa lembaga tersebut dibentuk atas kesadaran sebagai orang-orang percaya kepada Kristus. Mengakui bahwa Firman Tuhan dalam Alkitab sebagai landasan. Dan tugas pelayanan dalam bidang pendidikan adalah panggilan Tuhan, dan bukan panggilan manusia.

Tuhan itu ada saat di masa kelimpahan, dan tentu ada di masa lembaga itu kekurangan. Tuhan tidak akan menjauh dari umatnya, walau umatnya menderita dan kekurangan. Maka janganlah takut menghadapi beban kehidupan. Ketakutan-ketakutan hanya akan membuat alasan-alasan duniawi dan bukan surgawi, masuk ke pikiran dan hati kita, dan mengatakan, “Apa yang saya lakukan demi kebaikan lembaga dan dan kebaikan civitas…”. (Semoga Tuhan memafaakannya).

Atau mungkin Sang Pendeta itu ingin berlaku seperti Robin Hood, yang mencuri dari orang kaya dan membagikannya kepada orang-orang miskin. Tampaknya hebat. Hmm…Kenapa Sang Pendeta tidak berlaku seperti seorang perempuan yang hanya memiliki sedikit, tapi masih mampu memberi dalam kekurangannya.

Tentu kita tidak mau agar para Gembala berlaku sebagaimana dunia, karena jika ya, maka sebenarnya dia tidak pantas lagi disebut gembala, melainkan domba yang tersesat. Domba yang tersesat tidak mampu memimpin domba-domba yang lain menuju terang kebenaran.

Sudah saatnya para gembala kembali ke asalnya, yaitu focus kembali ke gereja untuk mengembalakan jemaat. Saatnya, para pendeta tidak perlu lagi disibukan dengan aktifitas mengajar, berbinis, ataupun berpolitik, dll. Alih-alih membawa umat ke jalan yang benar, mereka semakin terjerembab ke dalam perilaku duniawi.

Menjadi full-time pendeta sangatlah luhur, lebih luhur daripada menjadi pendidik, pejabat, apalagi pengusaha. Karena pendeta adalah penyuara kebenaran Tuhan, jangan cemarkan dengan kehidupan dunia yang sudah tercemar ini. Lebih baik menanggalkan jubah kependetaan, ketimbang menjadi gembala yang menyesatkan domba-domba Tuhan…amin. (sfm).

One thought on “CH (218): Saatnya Pendeta Masuk “Kandang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s