CH (222): Pentingkah Mengukur IQ Dosen?

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan mendengarkan cerita seorang teman. Ceritanya tidak jauh dari masalah psikologi, mungkin karena kebetulan dia berkuliah di Fakultas Psikologi. Saya tertegun sesaat ketika ia berucap kira-kira seperti ini, “Sebenarnya banyak dosen yang tidak cocok jadi dosen, karena tes psikologinya kurang baik”. Dalam hati saya bertanya, apakah sebegitu pentingnya ya psikotes bagi penerimaan dosen?

Sewaktu kecil, salah satu motto hidup yang saya pegang adalah “I Will is More Important Than IQ”, maksudnya adalah ketekunan akan membawa kita lebih berhasil menjalani hidup ini, ketimbang hanya berpangku kepada kecerdasan otak (baca IQ) saja. Namun, setelah bertumbuh menjadi dewasa, dan memahami banyak hal, motto itu kelihatannya perlu ditambah sedikit, sehingga menjadi, “Indeed, I Will is More Important Than IQ, but it doesn’t mean IQ doesn’t have any purpose at all “.

Ya sudah tentu, tes kecerdasan (IQ) dirancang dengan didasarkan oleh metode ilmiah. Dan tentu memiliki maksud ketika hasil tes keluar bagi seseorang, terutama dalam rekrutmen pekerja. Menurut Frank Schmidt (FS) dan John Hunter (JH) di Wikipedia sebagai berikut, “for hiring employees without previous experience in the job the most valid predictor of future performance is general mental ability…for highly qualified activities (research, management) low IQ scores are more likely to be a barrier to adequate performance…It is largely mediated through the quicker acquisition of job-relevant knowledge that IQ predicts job performance”.

Sejumlah perusahaan juga mengisyaratkan penggunaan tes IQ sebagai penerimaan pegawai, karena mereka tentu sadar apa yang utarakan oleh FS dan JH. Mereka berlomba-lomba mencari kandidat terbaik, tentu bukan tanpa maksud. Karena salah satunya mungkin karena IQ predicts job performance.

Lalu berapa skala IQ manusia? Wechlsler dan Bellevue mengukur dengan menggunakan skala sebagai berikut.

Kasparov

Menurut skala di atas, maka secara rata-rata, manusia ber-IQ diantara 91 sampai 110, dibawah itu dianggap kurang (bahkan sampai dikatakan terbelakang), di atas itu dianggap di atas rata-rata (bahkan dengan IQ tertentu di sebut genius. Pecatur kondang Garry Kasparov memiliki IQ 190, sedangkan fisikawan Steven Hawking 160.

Dengan beberapa pertimbangan di atas saja (dan mengesampingkan hal-hal lain) misalnya, sangat sulit bagi saya secara pribadi jika ada seseorang dengan IQ dibawah angka rata-rata, diterima sebagai dosen baru di sebuah perguruan tinggi. Sangat sulitkah mencari dosen dengan angka rata-rata? Tidak, karena 50 % dari populasi dunia itu berada dalam ambang rata-rata. Jika menggunakan angka terbaru populasi dunia sebesar 7 miliar, maka 3,5 miliar manusia berada dalam IQ 91 – 110. Tidak sulit sama sekali.

Lalu, kalau ada orang bertanya, “Mas, jika ada dosen dengan angka IQ dibawah rata-rata diterima mengajar bagaimana?” Wah, bingung juga saya menjawab pertanyaan itu, karena secara pemaparan di atas tentu sulit dipahami kenapa sampai hal itu terjadi. (sfm).

One thought on “CH (222): Pentingkah Mengukur IQ Dosen?

  1. Saam.. kok diawal pengantarnya ttg psiko test terus yang dibahas tiba2 IQ tes??? setauku sih ada beda antara psiko tes dan iQ tes…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s