CH (228): Makna Mahasiswa Dewasa

Sabtu, 18 Agustus 1990, Harian Suara Merdeka, menurunkan hasil wawancara 2 orang wartawannya, Anto Prabowo dan Duto Sri Cahyono dengan Dr. Arief Budiman (AB), dan diberikan judul,”Wawancara dengan Dr. Arief Budiman: Mahasiswa yang Tidak Dewasa Membahayakan Masa Depan Bangsa”. Ada beberapa hal menarik yang dapat kita pelajari dari hasil wawancara tersebut.

Wawancara itu dilakukan setelah pada tanggal 21 Juli 1990, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendkbud) menurunkan Keputusan No. 0457/U/1990 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi. Selain dimaksudkan untuk semakin meningkatkan peran mahasiswa, keputusanitu juga secara otomatis menghapuskan lembaga NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan).

Ada sejumlah nasihat secara umum yang menurut saya disampaikan AB untuk mahasiswa pada masa itu, dan saya yakin masih relevan bagi mahasiswa masa kini. Berikut poin demi poinnya.

Pertama,  AB tidak mempermasalahkan aturan yang dikeluarkan oleh Mendikbud. Namun dia lebih melihat, apakah aturan tersebutmampu membuat mahasiswa dewasa, dengan memberikan kepercayaanyang besar kepada mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Jika ada permasalahan dalam kegiatan, mereka patut bertanggung jawab. Pertanggungjawabantersebut harus dimaknai bukan hanya karena ada aturan, namun lebih karena mereka adalah pribadi-pribadi yang dewasa.

Kedua, AB melihat bahwa tidak perlu ada pola khusus dalam pembinaan mahasiswa, dengan catatan mahasiswa telah dewasa dalam bersikap, sehingga pemerintah atau pihak-pihak lain, tidak perlu takut apabila mahasiswa diberikan kebebesan. AB menolak cara-cara pengekangan mahasiswa dengan alasan menjaga stabilitas politik, karena menurutnya selain itu mematikan kreativitas mahasiswa, pengekangan juga bentuk represif yang didasari dari asumsi yang keliru.

Ketiga, gerakan mahasiswa dalam kacamata AB adalah gerakan yang lebih mengarah untuk menelanjangi sikap-sikap korup yang menyeleweng. Tindapakan represif dan pengekangan yang dilakukan kepada mahasiswa dilihat AB sebagai upaya menutupi perilaku korup yang terjadi.

Keempat,  pengekangan terhadap mahasiswa tidak hanya terjadi saatitu saja, namun sejarah negeri ini juga mencatat pengekangan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap mahasiswa-mahasiswa bumi putera saat itu. Namun yang menjadi pembeda adalah terletak pada kepastian hukum, “Hindia Belanda itu hukumnya berjalan lebih baik, meskipun anti gerakan nasional. Tetapi saat itu ada kepastian hukum…”.

Kelima,  disaat menjawab pertanyaan, “Apakah mahasiswa yang dieal adalah mahasiswa yang selalu peduli dengan perkembangan masyarakat?”, AB menyimpulkan bahwa untuk menjadi intelektual, mahasiswa harus multi disipliner. “Kalau orang mau menjadi spesialis tetapi juga generalis, harus multi disipliner. Diskusi ke mana-mana dan selalu berfikir kritis. Ia harus kritis terhadap kehidupan pada zamannya, karena masa sekarang adalah das sein yang harus diarahkan ke suatu das sollen. Dan menghindari pola berfikir yang sektoral”.

Mahasiswa Dewasa

Mencoba mendefinisikan arti dari lima poin di atas, Mahasiswa Dewasa (MD) adalah mahasiswa yang bertanggung jawab terhadap segala aktifitas yang dilakoninya, baik intra maupun extra kampus (melalui gerakan mahasiswa). Menumbuhkan semangat bertanggung jawab itu dapat dengan memberikan kebebasan, tidak perlu ketat dengan aturan, karena itu malah mengekang. Jika pun ada aturan, maka aturan tersebut haruslah memberikan kebebasan kepada mahasiswa, dan memberikan kepastian. Dan terakhir, mahasiswa yang dewasa adalah mahasiswa yang kritis terhadap diri dan lingkungannya.

Melihat hal di atas, maka pembentukan mahasiswa yang dewasa tentu melalui proses yang sangat berat. Tidak saja menyiapkan mahasiswa yang cerdas secara intelektual, namun juga bertanggung jawab. Selain menyiapkan mereka melalui kelas-kelas dalam proses belajar-mengajar, institusi perguruan tinggi dituntut untuk lebih memberikan kebebasan yang bertanggung jawab kepada para mahasiswanya. Intervensi-intervensi yang berlebihan dan terkesan disengaja (dengan maksud tertentu), sama saja dengan mengekang dan mendikte (walau dengan alasan klasik, demi kebaikan mahasiswa). Sebagai contoh, tidaklah perlu pimpinan perguruan tinggi sampai mengurusi masalah pemilihan Ketua Senat Mahasiswa Universitas/Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa. Hal itu sama saja mendikte kebebasan dan proses bertanggung jawab mahasiswa.

Diharapkan dengan tampilnya sosok-sosok mahasiswa yang dewasa, maka terbentuk pula sosok-sosok kuat akan karakter (anak bangsa) berintelektual tinggi yang bertanggung jawab. (sfm).

2 thoughts on “CH (228): Makna Mahasiswa Dewasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s