CH (Special Edition): Selembar Surat di Lustrum XI UKSW

Senin (28/11), saya menerima salinan surat dari seorang sahabat, Gerson Ahadi Sigilipoe, S.E. Surat satu halaman itu, tidak hanya diberikan kepada Saya, namun juga kepada para Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW), para pimpinan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Bapak Pdt. (Em) Dr.Sutarno, Bapak Dr. (HC) Willi Toisuta, Ph.D, dan kepada Para Pegawai Peserta dan Pensiunan DPSW. Berikut isi surat tersebut.

Salam sejahtera dalam kasih Tuhan.

Memasuki bulan November ke 55 ini, tentulah sebuah berkat yang penuh hikmat dan didikan bagi Satya Wacana. Pak Noto mengawali kerektorannya dengan menyematkan Amsal 1: 7 sebagai semboyan UKSW,“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”. Bukanlah suatu kebetulan ketika tahun 1964 Pak Noto menyempatkan diri menonton Wayang Kulit dengan lakon “Dewa Ruci” di rumah Pak Bayan, Kemiri, untuk menyambut Hari Kemerdekaan RI. Rupanya firman “berdirilah teguh, jangan goyah”, optimisme yang takut akan Tuhan adalah hikmat dan didikan budaya sangat menarik Pak Noto. Ini berkaitan erat dengan dipajangnya Wayang Kulit tokoh Bima bergumul dengan seekor Naga, di ruang kerja Pak Noto.

Hingga tahun ke 13 kepemimpinannya di UKSW, Pak Noto masih gencar menebar hikmat dan didikan, kali ini termuat di Warta Jemaat, Desember 1969, Salatiga. Apa yang diandalkan politisi sekarang tentang otokritik, rupanya telah diuraikan dengan jelas oleh Pak Noto dengan seni mengkritik diri sendiri. Jelas sekali seni dan penghalusan sifat yang wajib dimiliki seorang pemimpin yang takut akan Tuhan, setelah membaca Lukas 17: 1-6 itu sendiri. Maka sentilan ayahandanya ketika dimintai restu Pak Noto ingin menjadi pengikut Kristus, “janganlah menjadi pendeta ‘kendil’”, justru dimaknai sebagai hikmat. Pak Noto semakin sadar, rupanya pihak luar melihat, menjadi pendeta dan menjadi pengikut Kristus itu sama saja, untuk lebih takut akan Tuhan dari pada keduniawian.

Dalam kehidupan kerohanian kampus yang nyata, bahkan Pak Noto terjun langsung memberikan ‘kataksasi’! Kelak pada kerektoran Pak Tarno dan Pak Willi, fungsi kerohanian kampus ditangani oleh BKK ( Biro Kerohanian Kampus ), dari sinilah hikmat dan didikan kesatyawacanaan itu berakar. Dengan gamblang juga Pak Noto menyampaikan perencanaan dan anggaran yang takut akan Tuhan, bahwa pembangunan Perpustakaan Universitas, Balairung Universitas, LPIS, Pusat Bimbingan lebih karena berkat Tuhan, melalui hikmat cindera mata tokoh2 wayang kulit, kepada para tamu penyandang dana yang berkunjung ke UKSW.

Dengan hikmat juga, YPTKSW menunjuk yang terbaik, Pak Tarno, untuk menjadi Pengurus Dana Pensiun dan menyusun peraturannya. Sampai kepada Pak Willi dalam merencanakan pengembangan Perpustakaan menjadi 7 lantai, semakin mempertegas bahwa hikmat perencanaan dan anggaran adalah juga sebuah doa. Maka ketika selama 15 tahun, kita melihat Gedung Perpustakaan terbengkelai, pertanyaannya adalah doa apakah yang disampaikan pada Tuhan oleh pimpinan UKSW kemudian? Rupanya isyu ‘krisis ekonomi global’ tahun 95an telah merasuk pada kebijakan2 UKSW maupun YPTKSW, untuk menumpuk dana2 penghematan dari segala bidang, tetapi tidak jelas peruntukannya.

Bukan sekedar pengembangan Perpustakaan atau pendirian Dana Pensiun yang direvisi, tetapi rupanya juga penokohan wayang Bima, bahwa khawatir itu perlu sepanjang ilmiah!

Iman yang tergoyahkan semakin nyata, surplus 30% DPSW-pun diambil oleh UKSW, dan yang sangat kasat mata adalah Pegawai yang dipotong usia pensiunnya, dari 60 menjadi 56 tahun. Mungkin YPTKSW hanya terkena ‘awu anget’ ketika baru tahun lalu, setelah 15 tahun, menandatangani perubahan peraturan DPSW, Usia Wajib Pensiun 60 menjadi 56 tahun. Dikeluarkannya Biro Personalia, fasilitas perumahan dan kesehatan dari kewenangan Pembantu Rektor II, merugikan Pegawai juga bertentangan dengan Statuta 2000. Akhirnya selamat ber-Lustrum XI, semoga kita tidak sedang membangun sebuah parodi tentang perumpamaan anak hilang itu, bahwa ternyata hingga di usianya yang ke 55, belum terpikir oleh si anak hilang untuk kembali ke Rumah Bapa.

Maha Kasih Tuhan menyertai kita semua.

Gerson Ahadi Sigilipoe, SE
No. Peserta DPSW : 5711002

Selesai membaca surat itu, saya serasa diajak penulisnya untuk merefleksi sekilas perjalanan UKSW, di saat mencapai usianya yang ke-55, pada 30 November 2011. Atas seijin sang penulis surat, saya menghadirkan surat tersebut di blog saya ini. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s