CH (Special Edition): Berbagi “Dos Roha”

Suhunan Situmorang, penulis novel SORDAM, menulis ajakan berbagi bersama kelompok teater rakyat Batak, “Dos Roha”. Berikut tulis S. Situmorang di dinding (wall) facebooknya, Jumat (9/12).

Aku ingin mengajakmu, saudaraku, berbagi kasih. Ya, berbagi kasih. Seniman tradisional, yg dekade 70-an menjadi primadona opera (teater rakyat Batak) bernama ‘Dos Roha’, begitu susah kehidupannya. Utk memperpanjang nafas kehidupan, hrs mengamen, sesekali turut menabuh taganing dng pemusik uning-uningan, manakala diajak dlm suatu hajatan.

Jutaan orang di negeri ini, memang swperti dirinya, yg sekadar memenuhi kebutuhan paling dasar, makan, pun begitu susah. Realitas yg pahit nan ironis di tengah kekayaan negara, dan kita tahu sama-sama, di sisi lain jutaan manusia hidup berkelimpahan. Bila negara diurus penyelenggara dng benar, tak akan ada cerita 30 jutaan warga yg hidup di bawah garis kemiskinan–walau biro pusat statistik coba menurun-nurunkan angka sebenarnya, agar rezim dianggap berhasil, walau rakyat yg kritis tahu ada manipulasi angka.

Rosmala Sitohang, satu di antara 30 jutaan warga paria itu, sesungguhnya bukan sekadar angka kaum papa. Ia malang-melintang sbg seniman kampung, di pentas teater yg dahulu membuat girang banyak orang. Pelosok dan kota di Sumatera bagian Utara, menjadi saksi pertunjukkannya. Sjk lahir hingga menikah dihiburnya orang-orang. Angin malam menjadi karibnya, ratusan laku dia nyanyikan, puluhan lakon sdh pula dia mainkan, tumba, serampang, hingga tari India, dng terampil ditampilkannya.

Dahulu, ia menjadi bintang panggung, diimpikan banyak pria, dikagumi lelaki dan wanita–tak kenal usia. Ia jalani kehidupan ala gipsy, tak pernah duduk di bangku sekolah sebab ayahnya begitu mengandalkan aksi pentasnya.

Sejumlah legenda dan cerita tersimpan di memorinya, lagu-lagu Batak lama demikian halnya. Itu akan hilang bila Rosmala dan seniman kampung seperti dirinya dibiarkan merana, usia dan penyakit yg menggerogoti tubuhnya, akan menghapus semuanya. Nara sumber budaya yg pernah berjaya di suatu peradaban akan tertimbun di bawah sbh pusara.

Nahum Situmorang, S Dis Sitompul, Ismail Hutajulu, Tilhang Gultom, Dariuhum Sitohang, AWK Samosir, dan puluhan seniman Tano Batak lain, telah tiada, tanpa dokumentasi, tanpa apresiasi. Marsius Sitohang, Sari Kawan Sitohang, dan Rosmala, akan menyusul. Dan Batak, di tengah zaman yg kian berkilauan dan bumi yg semakin datar, tak berbatas, masih tergiur mengaduk seni tradisional dng instrumen dan nada usungan modern, dari dangdut hingga chacha, dng adonan samba hingga ‘house music’ yg bikin kepala bergedek-gedek.

Rosmala mengais-ngais celah yg bisa menyusupkan kepalanya di tengah impitan perubahan zaman yg kian menyudutkan orang-orang sejenis dirinya. Ia siap menyanyikan lagu apa saja ketika ngamen di bus kosta, demi recehan dari penumpang yg sedia menyisihkan. Demi nasi, demi bayaran gubuk sewaan yg menunggu runtuh itu.

“Aku menyanyikan Bubuy Bulan, tapi langgamnya kemudian menjadi andung-andung, Bapa,” ucapnya semalam. Ia menertawakan dirinya, tapi memancar kepedihan yg tak bicara. Demi nasi, demi sepetak kamar yg mampu dibayar para pemulung, juga biaya satu lagi anaknya yg blm dewasa.

Rosmala tak menyerah, meski sadar penuh, tak seorangpun yg bisa diandalkannya bila dirinya tiba-tiba tergeletak di kamar kumuh itu, tanpa daya akibat tubuhnya yg kian kehilangan tenaga. “Aku tak mau mati membusuk krn tak ada yg tahu, Bapa,” ucapnya mengiba. “Sesekali hubungilah aku dng teleponmu. Bila aku tak lagi bernyawa, tolong kuburkan aku dng nisan yg bisa menjadi pertanda, agar bere-beremu bisa menziarahiku. Jng lupakan bere-beremu itu Bapa, terimakasih sdh mengurus satu beremu ke bapa par Tanjung Pinang.” (Petrus Sitohang). Walau mrk tdk seperti harapan, mrk bertiga tetap bere kalian Bapa.”

“Siapa yg tahu ajal manusia, itonan? Meski usiamu di atasku dan hidupku tak sesusah hidupmu, bisa saja usiamu lbh panjang.”

Aku berharap usia Rosmala bisa panjang, dng kehidupan yg melegakan, tak hrs mengembara di jalanan Jakarta-Bekasi seraya membopong gitar usang dan seperangkat tetabuhan gondang. Bisa berdagang kecil-kecilan sekadar memenuhi kebutuhan keseharian, sampai saat itu tiba.

Bila engkau mau kuajak berbagi kasih pd ibotoku ini, tak hanya terimaksih dan doa yg kubalaskan. Sbh album musik dari kelompok tua namun kurekomendasikan krn menurutku bermutu, akan kuberi sbg tanda terimakasih: Amores King. Semua lagu di cd/vcd (satu paket), kujamin kau suka. Bila ingin juga dihadiahi novel debutanku SORDAM, akan senang hati pula kuberi. Setulus hatiku.

Sila kirim ke rek. Bank Mandiri a/n Desy Dewi Hutabarat, No: 006-00-0690708-7. KCP Jakarta Pramuka. Desy Hutabarat itu, jangan bilang-bilang ya, “asisten pribadiku” utk urusan nirlaba/sosial, yg bisa kusuruh-kusuruh tanpa honor, paling aku disonggak kalau kudesak: “Sudah kau kirim blm yg dibilang Tulang itu? Hatop!”🙂. Silakan pula bila mau masuk ke inbox.

Mauliate godang, thanks a lot.

(sfm).

2 thoughts on “CH (Special Edition): Berbagi “Dos Roha”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s