CH (242): Pak Tarno dan Saya Tidak Bangga

Fitch Ratings, sebuah lembaga pemeringkatan, memberikan kado akhir tahun bagi pemerintahan SBY, dengan menaikan Investment Grade (IG) Indonesia dari BB+ menjadi BBB-. Kenaikan IG tersebut disambut hangat oleh pemerintah, salah satunya dengan mempublikasikannya secara besar-besaran lewat iklan oleh Keluarga Besar BUMN (yang terdiri dari BRI, BNI, Bukit Asam, Semen Gresik, Pertamina, PLN, Perusahaan Gas Negara, Jamsostek, Telkom Indonesia dan Bank Mandiri), termasuk yang saya lihat di harian Kompas, 28 Desember 2011. Walaupun IG Indonesia naik, namun menurut saya dan mungkin Pak Tarno, kami tidak bangga terhadap hal itu.

Iklan di Kompas, yang mungkin seharga ratusan juta itu, tampaknya ingin meng-counter serangkaian suara-suara miring terhadap kinerja pemerintahan SBY. Walau judul besarnya bertulis, “Ha ha ha.. INDONESIA ITU MENGECEWAKAN”, namun isinya tidak lain dan tidak bukan untuk menunjukkan “kehebatan” pemerintahan SBY mencapai BBB-. Iklan itu juga membanding-bandingkan GDP Indonesia dengan 5 negara ASEAN, inflasi Indonesia dengan negara-negara Brasil, Rusia, India, dan bahkan Cina, serta rasio utang terhadap GDP Indonesia dibandingkan dengan Jepang, Amerika, Brasil, Cina, India, negara-negara ASEAN, dan Zona Euro.

Tidak Bangga!

Baiklah, secara getleman saya akan mengakui bahwa pencapaian tersebut baik adanya. Namun, apakah saya harus bangga? Saya kira saya dan mungkin Bapak Pdt. Em. Dr. Sutarno, mantan Rektor II Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), tidak bangga terhadap keberhasilan tersebut.

Pertanyaan sederhana untuk menjawab keberhasilan kenaikan IG dari BB+ ke BBB- itu adalah, “Apakah keberhasilan yang telah dicapai itu ukurannya telah sesuai dengan ukuran filosofi bangsa ini, yaitu Pancasila?” Keberhasilan kenaikan IG ke BBB-, namun pemeratan perekonomian masih timpang, yang kaya terus bertambah kaya, dan si-miskin untuk sakit pun mereka harus takut. BB+ menjadi BBB, namun masalah perilaku koruptif masih “sejahtera” di tubuh aparat negara. Prestasi hebat, mencapai BBB-, namun keberpihakan ekonomi kepada petani, buruh, dan mereka-mereka yang miskin, masih jauh dari harapan.

BB+ menjadi BBB-, Itu sebuah keberhasilan, tapi tidak patut dibanggakan, karena masih banyak koruptor bersarang di mana-mana, buruh-tani masih belum sejahtera, dan tidak berpihaknya kebijakan bagi mereka yang lemah.

Pak Tarno

Ketidakbangaan saya tersebut terinspirasi oleh tulisan Pak Tarno dalam tulisannya di saat dihantar menjelang Dies Natalis ke-55 UKSW, dengan judul, “Relevansi Pikiran-pikiran Pak Noto dalam rangka Pengembangan UKSW di 50 Tahun ke-dua”, tanggal 29 November 2011 di Balairung Universitas. Pada bagian Penutup tulisannya, Pak Tarno menyelipkan tentang ketidakbanggannya. Berikut saya kutipkan.

“Tema Dies Natalis tahun ini ialah “Sailing in the wind of Change”. Harapan saya, ketika kita harus berlayar dalam terpaan angin perubahan yang cepat dan kuat, jangan sampai angin dibiarkan menggeser arah dan tujuan-tujuan Satya Wacana sebagaimana telah dipancangkan oleh pak Noto dan diwarisi oleh para penerusnya, baik secara perorangan maupun institusional dalam motivasi, misi dan misi sebagai kriterianya, mengenai keberadaan serta perkembangan-perkembangan yang terjadi pada Satya Wacana saat ini. Apakah perubahan-perubahan yang terjadi dan telah dibuat itu masih benar-benar menunjukkan kesetian dan komitmen kepada motivasi, visi dan misi, atau jangan-jangan sudah bergeser dan melenceng jauh?

Dengan kata lain, apa yang dapat kita sebut sebagai keberhasilan dari apa yang telah kita capai ukurannya adalah seberapa jauh itu menunjang atau mewujudkan visi dan misi. Jadi, misalnya, keberhasilan membangun kampus yang besar dan megah, namun menutup kemungkinan untuk mereka yang berasal dari golongan ekonomi lemah untuk masuk dan menikmati pelayanan yang diberikan, itu bukan keberhasilan yang layak dibanggakan. Atau, berhasil meluluskan para mahasiswa dengan mutu akademik yang tinggi, tetapi para lulusan itu hanya ingin dan mau bekerja di perusahaan yang memberikan gaji besar saja. Itu juga bukan keberhasilan yang patut dibanggakan. Atu lagi, berhasil memperoleh pujian dari masyarakat mengenai berbagai prestasi yang dicapai, tetapi kehidupan moralitas dan etika dari warga civitas academica menjadi omongan negative dan keluhan dari masyarakat luas, itu juga bukan keberhasilan yang dapat dibanggakan.

Jadi dalam melakukan evaluasi terhadap pencapaian-pencapaian UKSW, pertanyaan-pertanyaan seperti berikut rasanya perlu dikemukakan. Dalam hal-hal apakah jatidiri UKSW yang khas itu dinampakkan? Apakah keberadaan dan kegiatan yang diselenggarakan itu benar-benar melayani kebutuhan nyata dari masyarakat luas dan Gereja. Apakah norma-norma etika dan moralitas dalam kehidupan dan kegiatan civitas academica, baik sebagai perorangan maupun institusional? Apakah prinsip-prinsip kebenaran, keadilan dan kejujuran telah ditegakkan dalam kehidupan dan kegiatan-kegiatan akademis maupun non-akademis Upaya dan program-program khusus apakah yang dilakukan dalam rangka pembentukan kelompok creative minority?

Secara sederhana, maka dapat kita sarikan bahwa Seorang Sutarno tidak bangga akan pencapaian keberhasilan yang sifatnya artificial saja, seperti diwujudkan dalam bagunan kampus yang luas, prestasi akademik, atupun pujian. Karena menurut Sutarno keberhasilan lebih dari itu, keberhasilan manakala pendidikan tinggi itu dapat dinikmati oleh mereka yang miskin, para lulusannya mau melayani dimana saja bahkan hingga kepolosok negeri yang mungkin terpencil, dan moralitas civitasnya yang tinggi.

Keberhasilan yang sifatnya tidak artifisial itulah sejatinya sebuah keberhasilan. Saya setuju dengan apa yang dipahami oleh Pak Tarno. Itu mengapa, saya tidaklah bangga dengan IG BBB- pemerintahan SBY, itu hanyalah artifisial, namun masih banyak perlaku koruptif aparat negara, kebijakan yang tidak berpijak ke mereka yang terpinggirkan, dan lainnya. (sfm).

3 thoughts on “CH (242): Pak Tarno dan Saya Tidak Bangga

  1. bahasan dalam tulisan ini menarik. Menjadi seorang yang berani untuk berbeda ditengah-tengah dominasi “angin” kehidupan sekarang ini kenyataannya sudah jarang ditemui. Kalo ini yang menjadi ke-khas-an dari UKSW, niscaya dapat menjadi “angin segar” bagi masyarakat Indonesia.

  2. Saya bangga dengan seorang Pak Tarno (mantan rektor UKSW). Beliau adalah sosok dari seorang yang berani berkata benar di atas benar, salah di atas salah! Beliau berani berkata apa adanya. Saya saksikan hal itu dengan mata kepala sendiri di depan khalayak umum yang hadir pada seminar di acara LUSTRUM KE-11 UKSW di BU. Pada saat itu beliau menyatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Pak John A. Titaley (rektor UKSW sekarang) adalah “tidak benar” dan “tidak dapat percaya” bahwa Pak Notohamijdojo pernah mengatakan bahwa yang layak / pantas menjadi dosen atau pimpinan di UKSW hanyalah seorang alumni UKSW. Kalau bukan alumni itu orang itu tidak cocok. Semua hadirin yang hadir di BU terkesima dan memberikan applaus terhadap tanggapan Bapak yang “to the point” tersebut. Sebab hal itu merupakan peristiwa yang sangat langka, bahkan tidak pernah terjadi di hari – hari terakhir ini di UKSW.
    Dan mungkin tidak akan terulang lagi. Makanya saya pun menjadi mengerti mengapa seorang mantan Rektor UKSW, Doktor Etika Kristen (tamatan dari Belanda) seperti Bapak tidak “terpakai” di fakultas Teologi UKSW, padahal dari sisi fisik dan intelektual Bapak masih sangat kuat. Hal ini dibuktikan dengan mobilitas kesibukan Bapak di Sinode GKJ, GKJ 55, dan di Jakarta yang masih sangat tinggi. Mungkin juga karena Bapak berani “berbeda” dengan mainstream (baca: arus angin) yang ada di UKSW saat ini, maka sejak OMB (Orientasi Mahasiswa Baru) tahun 2010, tenaga dan pikiran Bapak tidak lagi dibutuhkan untuk menjadi narasumber dalam pemaparan Visi-Misi-Motivasi UKSW sepanjang OMB berlangsung. Panitia OMB memakai narasumber yang katanya adalah tokoh sejarah, padahal yang bersangkutan mengakui di depan BU bahwa dia bukan tokoh sejarah! Aneh memang… Tetapi itulah UKSW pada masa kini. Nampaknya pluralitas hanya diakui dalam hal agama dan suku saja, sedangkan perbedaan pikiran, pendapat, prinsip, semakin menjadi sesuatu hal yang ditabukan. Lalu bagaimana suasana ilmiah yang kritis dan penuh debat/diskusi bisa berkembang di kampus ini? Apakah UKSW ke depan hanya akan menghasilkan para “Yes Man/Women” saja, khususnya ketika berhadapan dengan para penguasa, baik di dalam dan di luar kampus? Kecendrungan ke arah tersebut bisa dipahami bila kita membandingkan UKSW dulu dan sekarang. UKSW sekarang telah sangat “jinak”, bahkan jauh berbeda dengan UKSW pada jaman Soeharto, yang sangat “galak” dengan pemerintahan Orde Baru pada saat itu. Padahal kondisi pemerintahan SBY sekarang tidak lebih baik dari jaman Soeharto. Tapi dimanakah suara kenabian dari UKSW yang dulu dikenal sangat kritis tersebut? Nampaknya kekritisan itu telah mulai dinetralisir dari dalam kampus, sejak mahasiswa/dosen baru diterima.
    Terima kasih pak Tarno buat teladan yang Anda beri, sebab UKSW telah kehilangan sosok seperti Bapak. Benar apa yang dikatakan orang bahwa “macan itu telah ompong”. Mungkinkah “giginya” tumbuh lagi?!

  3. I ABSOLUTELY AGREE!!!! memang kita bisa sedikit bangga dengan kenaikan status “BB+” menjadi “BBB-“, namun juga jangan terbuai dengan status baru tersebut. ketimpangan di bidang ekonomi dan hukum, serta penegakan HAM yang bisa dikatakan masih belum berjalan semestinya harus menjadi evaluasi bagi pemerintahan SBY.

    berkaitan dengan apa yang dikatakan oleh PakTarno saya juga melihat bahwa banyak dosen UKSW bahkan mereka yang merupakan alumni juga tidak memahami dengan baik esensi dari magistratum et scholarium (saya agak lupa semoga aja benar..) serta pemahaman takut akan Tuhan hanya sebatas di mulut saja.

    mahasiswa UKSW lebih memikirkan bagaimana mereka terlihat keren. bahkan seorang teman saya bangga dengan fakultasnya yang sering membuat heboh,mulai dari kasus penculikan sampai dengan pembunuhan. saya jadi berpikir apakah materi visi misi UKSW serta berbagai materi lainnya yang disajikan selama OMB hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan?!

    belum lagi biaya perkuliahan yang tiap tahunnya meningkat tapi tidak dibarengi dengan peningkatan fasilitas dan pelayanan mahasiswa…mahasiswa yang kritis pun seringkali hanya berorasi tanpa memberikan solusi. saya memang hanya lulus dari fakultas kecil yang terancam ditutup serta bahkan belum terakreditasi prodinya,namun saya berusaha memahami esensi dan nilai yang dulu diberikan ketika pertama kali masuk ke UKSW.

    saya rasa semua lapisan yang ada di UKSW harus bahu membahu menjaga serta membangun UKSW seperti yang dulu menjadi landasan ketika pertama kali didirikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s