CH (246): Campus with the Best Class Discussions

Princeton Review (PR) menobatkan Sarah Lawrence College, yang berada di New York, sebagai kampus dengan diskusi kelas terbaik di negeri Paman Sam. Penilaian tersebut cukup mengangetkan saya, kenapa bukan kampus-kampus prestisius seperti Yale, Havard, ataupun Princeton yang bertengger di peringkat paling wahid? Berikut daftar The 5 Colleges with The Best Class Discussions di Amerika Serikat, versi PR.

Sarah Lawrence College

  1. Sarah Lawrence College.
  2. Eugene Lang College.
  3. Champlain College.
  4. Wagner College.
  5. University of Redlands.

Terus terang daftar tersebut mengelitik saya, kenapa? Rupanya budaya diskusi dalam kelas tidak terlalu kental di kampus-kampus tenar di sana. Hal itu menjadi pemikiran saya, bagaimana dengan kampus-kampus di negeri kita ya? Apakah mirip-mirip seperti di Amrik atau tidak (kampus tidak terlalu terkenal memiliki budaya diskusi kelas yang hebat, ketimbang kampus beken).

Loh memang apa pentingnya diskusi, kan kuliah di Universitas Indonesia atau Universitas Gadjah Mada misalnya, adalah kebangaan tersendiri ketimbang kuliah di sebuah perguruan tinggi yang tidak terkenal? Well, kalau saya pikir bukan masalah kampusnya, tapi harus didudukan bahwa diskusi kelas adalah spirit dari kehidupan akademik di tingkatan kecil (kelas). Kalau budaya diskusi di kelas saja tidak ada, hmm…saya pikir, kurang greget kampus tersebut.

Namun sayang, tidak banyak kampus di negeri ini (mugkin) menggunakan “etalase” budaya diskusi sebagai bagian dari promosi kampus tersebut. Karena kebanyakan diisi dengan prestasi, fasilitas, ataupun beasiswa. Memang bukan hal yang salah, namun seberapa banyak sih mahasiswa yang berprestasi ataupun menerima beasiswa dari total mahasiswa di kampus tersebut? Jawabannya, hanya sedikit. Namun dengan memiliki budaya diskusi yang kuat dampaknya bukan saja kepada satu atau dua mahasiswa saja, manun seluruh kelas. Dan itu menurut saya lebih beharga dari pada hanya peduli kepada 1 atau 2 mahasiswa berprestasi saja. (sfm).

Sumber inspirasi: huffingtonpost.com.

3 thoughts on “CH (246): Campus with the Best Class Discussions

  1. Sharing pengalaman selama kuliah di UI, ya Saam.
    Sebenarnya, diskusi kelas, selama saya kuliah di sana, itu tidak berjalan dengan baik. Beberapa mahasiswa memang sempat “memancing” para pengajar untuk berdiskusi di kelas. Tapi pada kenyataannya, diskusi yang ada hanyalah ajang bagi para pengajar untuk mempertahankan egonya.
    Bahkan, pernah suatu ketika, ketika ada diskusi antara salah satu teman seangkatan dengan dosen, ketika dosen tersebut tidak dapat memberikan argumentasi yang tepat, dan ia telah “terpojok”, lalu ia berkata, “You may going with your argument. But, don’t ever say that you are my student”.
    Sebenarnya, dosen tersebut tidak perlu berkata demikian, bukan? Justru, pada saat saya kuliah, diskusi yang berkembang adalah, diskusi yang dilakukan di kost masing-masing, membahas pelajaran yang baru saja diberikan, dan juga diskusi di kelas, tetapi yang dilakukan hanya oleh antar mahasiswa saja, tanpa kehadiran dosen. Walaupun telah diundang, tapi tetap saja tidak datang dengan seribu satu macam alasan.

  2. Satu lagi pengalaman saya waktu berdiskusi dengan dosen di kelas, adalah pada saat kami kuliah mengenai terorisme. Dosen tersebut lalu mengatakan bahwa ada beberapa kota di Jawa Tengah yang termasuk sebagai sarang terorisme, dan salah satunya adalah Salatiga.
    Sebagai orang yang lama tinggal di Salatiga, rasanya cukup aneh apabila Salatiga dikatakan sebagai sarang teroris. Kalau sasaran teroris, masuk akal, dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi selama ini (upaya pengeboman kampus UKSW, ditangkapnya seorang teroris yang akan menyerang rumah rektor).
    Tetapi dosen saya tetap bersikeras bahwa Salatiga adalah sarang teroris, dan ia mengatakan bahwa info tersebut dari buku Sydney Jones. Kebetulan, setelah saya lulus, ada seminar dengan Sydney Jones sebagai pembicara. Dalam seminar itu, hadir juga ketua Progdi S2 HI, dan dosen-dosen FISIP UI lainnya.
    Dalam acara tanya jawab, saya bertanya kepada Sydney Jones, apakah benar ia menuliskan dalam bukunya, bahwa Salatiga adalah sarang teroris. Ya tentu tidak lupa, saya menyebut nama dosen itu sebagai orang yang “bertanggung jawab” atas info yang saya dapat. Dan jawaban Sydney Jones cukup mengejutkan, karena ia mengatakan bahwa, ia tidak pernah menuliskan bahwa Salatiga adalah sarang teroris, tetapi menurutnya, Salatiga adalah sasaran teroris, dengan mengacu pada peristiwa yang saya sebut di atas tadi.
    So, kalau dosen saja sudah enggan untuk berdiskusi dengan seribu satu alasan, bagaimana diskusi di kelas akan berjalan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s