CH (249): Nasib PKL Depan Kampus UKSW

Pasca pengosongan yang dilakukan oleh Pedagang Kaki Lima (PKL) di sepanjang bantaran sungai di Jalan Kartini, Salatiga, muncul kepermukaan tentang isu serupa bakal dialami oleh para PKL yang membuka lapaknya di depan kampus Universitas Kristen Satya Wacana. Terlepas dari benar atau tidaknya “kabar burung” tersebut, ada beberapa pertimbangan yang perlu dipahami oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga.

PKL di Depan Kampus UKSW

Pertama, PKL di depan kampus ikut berperan memberikan pemasukan daerah bagi Pemkot Salatiga dalam bentuk retribusi yang ditarik oleh dinas terkait.

Kedua, keberadaan PKL tersebut memberikan dukungan kepada mahasiswa, serta masyarakat umum, dalam hal menyediakan makanan dengan harga terjangkau.

Ketiga, para PKL adalah warga negara yang memiliki HAM dalam ekonomi, maksudnya mereka berhak menjalankan aktivitas perekonomian demi kelangsungan hidup mereka dan tentu keluarganya.

Walaupun sudah ada Peraturan Daerah (Perda) Tentang Pedagang Kaki Lima, dan melarang PKL berjualan di sepanjang jalan utama di Salatiga, termasuk Jalan Diponegoro, namun memahami poin-poin tersebut di atas, adalah sangat bijaksana apabila Pemkot turut memikirkan kelangsungan kehidupan mereka juga. Tidak hanya perlu dipikirkan tentang tempat relokasi bagi PKL, namun yang terlebih penting adalah pascarelokasi.

Strategi pascarelokasi yang patut dimiliki oleh Pemkot menjadi sangat penting, karena pada kondisi pascarelokasilah keberlangsungan kehidupan para PKL sebenarnya dipertaruhkan. Ketidakmampuan Pemkot memikirkan masa itu, akan berbuah “matinya” kehidupan para PKL, tentu ini nantinya akan banyak disayangkan. Selain, menunjukkan ketidakmampuan Pemkot dalam mensejahterakan warganya, hal itu juga semakin menunjukkan bahwa Pemkot tidak bisa berfikir secara cerdas dalam mengelola permasalahan kotanya sendiri.

Jika Pemkot belum memiliki solusi relokasi dan pascarelokasi, lebih baik Pemkot menahan diri untuk “menggusur” para PKL depan Kampus. (sfm).

One thought on “CH (249): Nasib PKL Depan Kampus UKSW

  1. Saam, jamanku masih kuliah dulu (pertengahan – akhir tahun ’80an), hanya ada 1 PKL saja di depan kampus – jualan Bakwan Malang. Mangkalnya pun gak tepat di depan kampus tapi lebih di batas antara kampus & Warung Bali. Lha di halaman Warung Bali situ ada PKL (bapak2 dan istrinya, yang sering ditemani anak-anak mereka setelah mereka pulang sekolah – SD), yang jualan Tahu Campur kalau siang – seporsi hanya Rp250 waktu itu, & mak nyuss tenanan rasanya. Boleh ditemani tahu, tempe ataupun kerupuk yang beliau sediakan juga. Tahu & tempe hanya Rp50 per potong! Kerupuknya mbuh berapa, daku sudah lupa. Mungkin Rp25.

    Para PKL tuh membantu daku dan teman-teman lain menyelesaikan study kami; memberi kami makan dengan harga yang terjangkau. Pilihan kami untuk makan pada saat itu gak sebanyak sekarang, jadi para pedagangnya biasanya juga hafal dengan muka, bahkan nama2 kami yang sering makan di lapak mereka. Sedih banget deh rasanya kalo mereka ini digusur/relokasi begitu saja tanpa dipikirkan dulu akibatnya . . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s