CH (251): Penerbitan Kembali “Mein Kampt”-nya Hitler

Adolf Hitler

Sejumlah kutipan dalam buku karangan Adolf Hitler, Mein Kampt (MK), rencananya akan diterbitkan ulang oleh penerbit di Inggris Raya. Dibalik rencana itu, ada kasus hukum menarik, yaitu seputar copyrights(hak cipta) MK.

Situs berita online spiegel.de (16/01), melansir rencana Peter McGee, untuk membuat serial dari kutipan yang ada dalam Mein Kampt, dalam bentuk tiga halaman brosur kecil, dengan jumlah 100.000 eksemplar setiap halaman. Foto Hitler akan tampil dibagian sampul depan.

Namun rencana itu mendapat tentangan dari sejumlah pihak, terutama Menteri Keuangan Bavaria. Ia menyatakan, “…Permission to publish volumes isn’t granted in Germany or abroad…”. Pemerintah Bavaria menurut pengakuan Menteri Keuangannya menyatakan bahwa mereka adalah pemilik sah hak cipta buku MK.

Lalu apa jawaban McGee terhadap pernyataan pejabat resmi pemerintah Jerman tersebut? Spiegel.de menuliskannya, sebagai berikut, “…A book copyright expires 70 years after the death of an author. In Hitler’s case, that won’t be until 2015…”. Lalu mana yang betul, boleh atau tidak?

Argumen McGee tampaknya sesuai dengan catatan wikpedia, yang menuliskan bahwa Jerman adalah penganut life+70, maksudnya sebuah karya dilindungi sepanjang hidup si pembuat ditambah 70 tahun setelah dia meninggal. Kebanyakan negara-negara di benua Eropa dan Afrika menganut prinsip tersebut. Kalau Indonesia sendiri life+50. Jadi jika dirunut, maka dengan tanggal kematian Adof Hitler tercatat 30 April 1945, dan ditambah 70 tahun, maka setelah 30 April 2015, hak cipta MK akan kadaluarsa.

Akan tetapi ada sejumlah fakta menarik, seperti dtulis media yang sama pada 17 Juli 2007. Pertama, “…the copyright (of MK) is held by the state of Bavaria, which took over the rights of the main Nazi party publishing house Eher-Verlag — including the rights for “Mein Kampf” — after the end of World War II as part of the Allies’ de-Nazification program…”. Kedua, “…responsibility and respect for the victims of the Holocaust, for whom republication would always represent an affront … to their suffering.”

Dua fakta di atas menunjukan bahwa ada yang kita perlu diketahui, adanya the Allies’ de-Nazification program, yang kita tidak tahu isinya apa, dan pertimbangan terhadap korban kekejaman Jerman. Lalu, apakah ke-2 hal itu mampu menghalang-halangi penerbitan kembali buku MK? Saya tidak tau apakah the Allies’ de-Nazification program hanya mengatur pengambilanalih hak cipta MK dari Hitler ke Pemerintah Bavaria, ataukah ada kesepakatan lain dari sekedar pengalihan hak. Namun saya pikir life+70 yang diacu oleh Jerman saat ini seharusnyalah menjadi patokan resmi. Lalu bagaimana dengan pertimbangan korban? Yang ini menurut saya cukup pelik menjawabnya, apakah 70 tahun adalah waktu yang kurang untuk memahami semua sebagai sebuah kesalahan? Sehingga, kita perlu menuntut lebih dari itu.

Ada solusi menarik agar semua pihak bahagia, yaitu agar penerbitan buku tersebut turut disertai dengan opini ahli.

Kembali ke pertanyaan boleh atau tidak? Saya tidak tertarik menjawab pertanyaan ini, karena menurut saya secara hukum sah-sah saja McGee menerbitkan MK, dan mengatakan persetan dengan para korban kekejaman Hitler. Tapi, apakah itu bijaksana? Menggunakan hal itu untuk mengambil keuntungan? Inilah yang membuat saya tidak tertarik menjawab pertanyaan tersebut. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s