CH (252): Iman Kristen Vs HAM

Perbicangan antara Hak Asasi Manusia (HAM) dan Pengakuan Pengikut Kristus terhadap ajaran Sang Mesiah telah lama terjadi, namun mencermati beberapa berita di situs berita di Amerika Serikat dan daratan Inggris, tampaknya perlu penyelarasan kembali tentang hakekat keduanya.

Saya mulai dengan silang pandangan antara John Sentanu, Pendeta Gereja Anglican, dan Pater Tatchell, Aktivis HAM Inggris. Berikut kutipan dari guardian.com.

John Sentanu:

“Asking someone to leave their belief in God at the door of their workplace is akin to asking them to remove their skin colour before coming in to the office: faith in God is not an add-on or optional extra”.

Peter Tatchell:

“Faith can never be a legitimate reason to seek exemption from the law and the moral obligation to treat other people with respect and equality”.

Satu kasus yang menarik dimana dua pendapat itu dapat dipertemukan adalah dalam kasus Lillian Ladele dan kasus Nadia Eweida.

Menurut Roger Trigg, Profesor Emeritus di bidang filosofi dari Oxford, dalam buku terbarunya, “Equality, Freedom and Religion, “There has been a clear trend for courts in Europe and North America to prioritise equality and non-discrimination above religion, placing the right to religious freedom in danger”.

Trigg berfikir bahwa seharusnya setiap hak dilihat secara imbang, memandang hak-hak tertentu dianggap lebih penting dari hak lainnya, merupakan sumber konflik.

Di sisi lain, George Pitcher, Pendeta di Santo Bride, London, menganggap bahwa permasalahan Iman Kristen Vs. HAM belakangan ini hanyalah bentuk ketakutan (phobia) pengikut Kristus terhadap demokratisasi.

Lembaga Kristen Indonesia?

Itu silang pendapat yang terjadi di negeri barat, lalu bagaimana dengan di negeri kita terutama di lembaga-lembaga Kristen? Bagaimana mereka mampu melihat Iman Kristen dan HAM dalam perspektif visi-misi, dan lebih lagi dalam menjalankan dan mengelola lembaga (yang selalu dikatakan sebagai) “lembaga milik Tuhan” tersebut?

Saya jadi teringat sebuah cerita tentang seorang pegawai yang bekerja di lembaga Kristen yang menolak perintah pimpinannya untuk membuat surat fiktif untuk digunakan dalam pengurusan adminstrasi di lembaga pemerintah. Si pegawai menyatakan melalui surat kepada pimpinannya bahwa hal itu adalah tindakan yang salah sesuai dengan iman pegawai tersebut. Lalu apa yang dilakukan sang pimpinan? Surat fiktif tetap dibuat dengan sejumlah alasan, tapi bukan oleh si pegawai, dan menghargai sikap pegawai tersebut.

Kalau ingat hal itu, saya jadi ingat apa yang diucapkan oleh John Sentanu, “…faith in God is not an add-on or optional extra”. Semoga semangat Kristen para pimpinan karyawan tersebut bukan sekedar an add-on or optional extra. Semoga… (sfm).

sumber inspirasi: guardian.co.uk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s