CH (Special Edition): Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air Danau dan Peran Kelembagaan Informal

Sutarwi

Judul diatas adalah judul disertasi Dr. Sutarwi, lengkapnya “Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air Danau dan Peran Kelembagaan Informal (Menggugat Peran Negara atas Hilangnya Nilai Ngepen dan Wening dalam Pengelolaan Danau Rawa pening di Jawa Tengah)”.

Selama 3 tahun Sutarwi menulis disertasi saat berkuliah di program Doktor Studi Pembangunan, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), dengan Promotor, Prof. Daniel D. Kameo, S.E., M.A., Ph.D., dengan 2 ko-promotor Prof. Dr . Ir. Kutut Suwondo, M.S., dan Prof. Dr. Kris Herawan Timotius. Berikut resume disertasi tersebut.

Berdasarkan indikator pembangunan berkelanjutan yang meliputi indikator ekonomi, ekologi, dan sosial, serta institusional menunjukkan adanya ketidakberlanjutan fungsi sumber daya air Danau Rawa Pening di Jawa Tengah (Jateng). Kegagalan pengelolaan sumber daya air danau ini tidak dapat dilepaskan dari proses kebijakan pemerintah yang kurang tepat. Berbagai kebijakan peemrintah telah ditempuh baik dalam konservasi, pendayagunaan, maupun pengendalian daya rusak air Danau Rawa Pening.

Sejak bergulirnya reformasi, berkembang tuntutan keterlibatan masyarakat dalam berbagai kebijakan publik termasuk kebijakan pengelolaan sumber daya air Danau Rawa Pening. Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa pelibatan masyarakat dalam proses kebijakan yang tidak seimbang dengan kapasitas masyarakat tidak menunjang keberlanjutan fungsi Danau Rawa Pening tetapi lebih mempercepat ketidakberlanjutan. Nilai Ngepen dan Wening telah ditinggalkan baik oleh masyarakat di sekitar Danau Rawa Pening maupun oleh negara.

Hasil penelitian mengungkapkan bagaimana proses kebijakan pengelolaan sumber daya air Danau Rawa Pening selama ini telah gagal menjamin keberlanjutan fungsi sumber daya air danau. Dalam pengelolaan kawasan Danau Rawa Pening yang menyangkut lintas sektor lintas wilayah, memiliki multi fungsi dan stakeholders yang beragam serta kondisi masyarakat sekitar danau yang miskin, mengugat kepada negara untuk berperan lebih kuat tanpa mencegah berkembangnya civil society dan tanpa meninggalkan nilai Ngepen dan Wening.

Perlu “Otoritas” Rawa Pening

Berbagai permasalahan yang timbul dalam penanganan Rawa Pening saat ini, diungkapkan oleh Sutarwi dalam disertasinya. Salah satunya mengenai penanganan Rawa Pening. Menurutnya perlu melibatkan banyak bidang dalam pemerintahan. “Kesemuanya berada dalam koordinasi Bappeda, dan selama ini itu tidak efektif,” ucap Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Pendidikan dan Latihan Provinsi Jawa Tengah tersebut. Berawal dengan permasalahan tersebulah akhirnya Sutarwi secara tegas mengatakan perlunya sebuah badan yang secara serius menangani Rawa Pening, “Seperti Otoritas”, ujar Alumni Fakultas Pertanian UKSW Tahun 1981 itu.

Lembaga itu akan menjalankan fungsi perencanaan dan pelaksana, atas konservasi sumber daya air, pendayagunaan, dan pengendalian daya rusak air. “Selama ini para pejabat di berbagai instansi hanya berfikir bagaimana memanfaatkan Rawa Pening,” kata Sutarwi.

Ketika ditanya siapa yang dapat duduk dilembaga tersebut? Sutarwi memberi jawaban, “Perlu orang dengan komitmen tinggi. Kalau bisa bukan birokrat”.

Pendanaan akan menjadi masalah tersendiri bagi lembaga penanganan Rawa Pening, itu memang diakui. “Jika pemerintah pusat menilai Rawa Pening merupakan wilayah startegis nasional, maka ia adalah tanggung jawab Pusat,” jawab Sutarwi dengan tegas. Keseriusan pemerintah pusat perlu ditunjukkan juga dengan mengeluarkan peraturan hukum minimal sebuah keputusan presiden terhadap Rawa Pening, “Tidak sekedar Perda,” lanjutnya

Sutarwi

Sutarwi lahir di Pati, Jawa Tengah 17 Oktober 1956. Memperoleh gelar sarjana pertanian dari Fakultas Pertanian UKSW Salatiga tahun 1981. Pada tahun 1989 memperoleh gelar Master of Science in Development Management dari The American University Washington DC Amerika Serikat.

Mengikuti Program Doktor Studi Pembangunan (Development Studies) di UKSW sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2008. Sutarwi mengawali karir sebagai PNS di Bappeda Kabupaten Blora pada tahun 1980. Pada tahun 2008, Sutarwi telah mencapai jabatan fungsional tertinggi yaitu Widyaiswara Utama IV/e pada Badan Diklat Provinsi Jateng.

Sutarwi bertugas mendidik, mengajar dan melatih PNS terutama pada Diklat PNS jenjang utama baik di tingkat Daerah maupun Nasional. Beristri Helly Indria Sakti dan dikaruniai tiga putra yaitu Willi, Koko, dan Anto, bertempat tinggal di lereng Gunung Ungaran Semarang, Jawa Tengah. (sfm).

sumber: klik di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s