CH (259): Pengabdian 25 Tahun Seorang Maria

Menginjak tahun 2012, ada banyak hal yang ingin saya rayakan. Salah satunya merayakan 25 tahun pegabdian seorang Ibu bernama Maria Yosephine. Dia adalah Guru Bimbingan Konseling di Sekolah Menengah Atas (SMA) Katolik Santo Aquino Tulungagung, Jawa Timur.

Perkenalan saya dengan Ibu Maria terjadi di 2009. Wanita asal Salatiga itu, memberikan pelajaran kepada saya tentang ketekunan mengabdi sebagai seorang guru. Berikut petikan tulisan dengan sedikit revisi dari situs resmi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).

Dra. Maria Yosephine telah menjadi Guru Bimbingan Konseling (BK) selama 23 tahun di Sekolah Menengah Atas (SMA) Katolik Santo Aquino Tulungagung, Jawa Timur. Berkesempatan bertemu dengannya, Rabu (18/03/09), sejumlah hal ia sampaikan.

“Asli Saya dari Salatiga Mas,  daerah Pancuran,” ucap Maria menjawab pertanyaanku. Setelah lulus dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG) yang pada jamannya ada di Jl. Kartini, Maria muda yang tadinya tertantang untuk masuk pendidikan Guru Luar Biasa di Solo, harus mengurungkan niatnya. “Orang tua tidak berkehendak saya tinggal jauh-jauh dari Salatiga,” katanya memberikan alasan.

Ketidaksetujuan tersebut akhirnya membawa Maria muda mendaftar di UKSW Tahun 1982. Kecewa? “Ya, kecewa juga, tapi sebenarnya Saya juga memiliki keinginan untuk menjadi Guru BP,” jelas Ibu dari 4 orang anak tersebut. Maria teringat dengan Pak Bakri, Guru BP disekolah semasa SPG, yang sangat sabar namun tidak tanggap terhadap permasalahan-permasalahannya.  Malah teman-temannya yang sering membantu dirinya sewaktu kesulitan. “Saya waktu itu berfikir, alangkah senangnya apabila Saya dapat membantu persoalan-persoalan yang dihadapi oleh siswa,” ungkap Maria. Tahun 1986, dia pun berlabuh di SMAK Santo Aquino Tulungagung atas tawaran Pak Bukit.

Sudah 23 tahun menjadi guru BK tidak membuat Maria merasa jenuh, sebaliknya sangat kerasan. “Resepnya apa Bu”,  aku bertanya. Dengan kalem Maria menjawab, “Rasakan dalam hati bahwa menjadi guru BK merupakan panggilan, dan bukan keterpaksaan. Hal itu dapat membuat kita bekerja dengan baik,” ucapnya. Tidak terlepas dari suka, duka pun pasti ada. “Ada siswa yang sulit diajak maju. Dia mengerti jalan keluar, tapi tidak dilakukan”.

Menutup pembicaraan, saya meminta masukan darinya untuk para mahasiswa BK yang akan terjun ke lapangan pekerjaan.  “Cintailah pekerjaanmu sebagai guru BK, sehingga tugas-tugas dapat dihadapi dengan senang hati. Rasakan dalam hati bahwa menjadi guru adalah panggilan,” jawab Maria dengan senyum mengembang dibibirnya.

Jawaban-jawaban sederhana yang diberikannya, menunjukan kesahajaan pikir seorang Maria. Menjalani dan menerima tugas seorang guru sebagai panggilan hidup. Namun, masihkan semangat sederhana dan kesahajaan seorang Maria ada dalam hati lulusan Satya Wacana? Terlebih ketika Pdt. Em.Sutarno mengucapkan, “…berhasil meluluskan para mahasiswa dengan mutu akademik yang tinggi, tetapi para lulusan itu hanya ingin dan mau bekerja di perusahaan yang memberikan gaji besar saja. Itu juga bukan keberhasilan yang patut dibanggakan…” (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s