CH (260): PR III Pilihan Mahasiswa, Bisakah?

Pada umumnya, Pembantu Rektor (PR) atau Wakil Rektor III mengurusi bidang kemahasiswaan di sebuah Universitas. Jika demikian, kenapa tidak memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memilih pejabat yang membidangi diri mereka? Bisakah?

Kalau saya diijinkan memberikan pandangan, maka kenapa tidak mencoba satu hal yang baru dalam proses seleksi kepemimpinan di sebuah universitas. Saya pikiritu bukan hal yang luar biasa, tapi lebih untuk melihat dua hal. Pertama, mengedepankan demokratisasi, dalam hal ini mahasiswa memiliki hak untuk memilih PR III-nya sendiri. Kehidupan demokrasi sangat penting diterapkan dalam kehidupan kampus.

Kedua, mahasiswa sebagai elemen terpenting dalam sebuah universitas akan lebih di-“uwongke” (istilah jawa, diorangkan). Selama ini menurut saya, mahasiswa hanya menjadi obyek pelengkap yang selalu menderita. Sering saya mendapat curhat sejumlah mahasiswa tentang bagaimana mereka selalu dikejar-kejar masalah kewajiban (keuangan, dll), namun disisi lain kadang “hak-hak”-nya sebagai mahasiswa selalu dinomorsekiankan.

Tentu, jika hal itu bisa dilakukan, maka perlu disiapkan mekanisme untuk menunjangnya. Jangan sampai pemilihan PR III yang dilakukan oleh mahasiswa hanya pemilihan “dagelan” (guyonan) karena sudah di-setting sedemikian rupa, untuk menguntungkan pihak ataupun kelompok tertentu. Perlu kampanye-kampanye dialogis, kalau perlu sampai adakan debat calon PR III. Adakan kontrak politik dengan mereka, untuk menjaga janji-janji manis, agar tetap manis dikemudian hari. Dengan demikian, PR III tidak sekedar terpilih, namun siap meletakkan jabatan apabila lalai menjalankan janji-janjinya itu.

Mampu menerapkan pemilihan PR III yang LUBER (langsung, umum, bebas, dan rahasia), dengan disemangati oleh jiwa kejujuran dan keadilan, tentu menambah nilai positif bagi universitas tersebut.

Akhirnya semua kembali kepada dua hal, yaitu (1) aturan main pemilihan kepemimpinan di universitas tersebut; dan (2) niat baik dan jiwa besar dari para “pembesar”. Bagi saya, jika pemilihan dekan saja bisa menyerap aspirasi mahasiswa, kenapa tidak pemilihan PR III. (sfm).

2 thoughts on “CH (260): PR III Pilihan Mahasiswa, Bisakah?

  1. Wah.. kalo saya malah punya pandangan lain bang! PR III itu bagian dari komponen Rektorat yang MEMBANTU REKTOR untuk mengurus mahasiswa. Mereka berjalan dengan aturan yang ada di pihak universitas. PR III juga bukan tempat buat adu politik. Ga’ perlu lah kontrak politik. Kalau memang PR III itu bekerja tak bekerja sesuai dengan dunia per”kampus”an maka bisa disampaikan aspirasi lewat jalur2 yang ada. Kalau masalah dikejar keuangan? itu bukan cuma dari PR III bang! itu memang sudah ada dalam aturan kemahasiswaan jadi kalau tidak sejalan yah pantas dong dikejar daripada nnti mereka ga’ diberikan Ijazah? Hayoo??
    pertanyaannya sekarang mahasiswa yang sering curhat sama abang itu siapa?
    Terima Kasih Abang Ganteng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s