CH (268): Pembentukan Mahasiswa “Ala Kadarnya”

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryanti, menyingggung tentang mahasiswa “ala kadar” dalam menyelesaikan tugasnya, di acara diskusi Pendidikan Karakter di Tengah Problematika Pendidikan Nasional. Demikian seperti dikutip Kompas.com (15/2).

Terlepas dari kurang komplitnya tulisan sang wartawan dalam merekam hasil diskusi, ada satu hal yang patut saya sayangkan, yaitu Sang Wanmendikbud tidak menjelaskan bagaimana proses pembentukan dari Mahasiswa “Ala Kadar” yang ia maksud. Ia hanya menyalahkan sepihak kepada karakter mahasiswa yang kurang teguh dan tidak punya semangat pantang menyerah. Proses tersebut penting, sebagai upaya mencari akar permasalahan dan mencari cara mencegahnya.

Mahasiswa “Ala Kadar” tidak terlepas dari proses pendidikan di negeri ini yang juga ala kadarnya, mulai dari pendidikan dasar. Anak-anak berpakaian seragam putih-merah tersebut, sudah harus merasakan beban berat dalam sistem pendidikan negeri ini. Ditambah lagi dengan Ujian Nasional yang tolak ukurnya angka-angka sebagai parameter kelulusan. Sama hal terjadi ketika mereka mulai beranjak memasuki jenjang pendidikan menengah pertama. Tugas ini dan itu semakin menumpuk, ditambah dengan kegiatan ini dan itu, dan kerap ditambah dengan pelajaran ekstra di luar kelas, semata-mata untuk sekali lagi, yaitu nilai-nilai sebagai ujung dari proses pembelajaran akhir (UN). Setali tiga uang dengan apa yang terjadi di tingkatan menengah atas.

Jika para siswa itu dicekoki dengan parameter keberhasilan dengan ukuran angka-angka, baik dalam raport maupun UN, lalu apa gunanya kejujuran dan sikap pantang menyerah? Sekolah tidak terbisa menilai dua karakter itu dalam raport sebagai bahan pertimbangan kelulusan. Kalau begitu, para guru harus lebih awas dalam masalah ini.

Tapi, apakah para guru peduli? Menjawab pertanyaan ini sama dengan bertanya, “masih adakah guru yang memiliki idealisme?” Masihkah?

Guru-guru di negeri ini pasti akan menjadi salah-satu sasaran permasalahn ini. Tapi tentu tidak fair menyalahkan para pahlawan tanpa tanda jasa itu. Selain dikerjar-kejar dengan pemenuhan kurikulum pengajaran di sekolah, guru dituntut juga dengan proses administrasi keguruan, keruwetan hidup pribadi, ditambah lagi tuntutan profesionalismean yang entah bentuk dan caranya seperti apa. Apa masih sempat mengajarkan kejujuran dan sikap pantang menyerah? Hanya guru-guru yang memiliki idealisme tentang pendidikan sajalah yang mampu melakukan semua itu. Adakah? Mungkin.

Saat pulang kerumah setelah bergelut dengan pelajaran sekolah, siswa-siswa saat ini diperhadapakan dengan berbagai macam masalah, terutama dalam keluarga. Kadang kedua orang tua, tidak mau tahu dan tidak perduli masalah anak dan remaja saat ini, dan menutut lebih dan lebih dari anak-anaknya. Kadang waktu bermain yang seharusnya menjadi hak anak, diganti dengan pelajaran ekstra hingga larut malam, dibebani dengan tugas membantu orang tua (karena masalah finasial keluarga), dan lain sebagainya. Lalu kapan mereka belajar kejujuran dan semangat pantang menyerah dari keluarga? Masihkah ada keluarga yang mengajarkan itu? Masih. Mungkin. Tapi berapa banyak?

Ketika menginjak bangku kuliah, semua sudah sia-sia. Akan sangat sulit mengkoreksi itu semua.

Kita semua sudah disibukan dengan pencarian angka-angka dan materi dalam mengisi hidup, sehingga kadang menomorsekiankan arti kejujuran. Orientasi menuju angka-angka itu mampu mengalahkan semangat pantang menyerah, karena toh akhirnya semua ujung-ujungnya pada penilaian akhir yang terukur.

Sudah tidak ada lagi harga kejujuran dan semangat pantang menyerah. Jika masih ada, itu hanya isapan jempol dan sejarah yang akan dikenang. Karena sikap penghambaan kita kepada ukuran materi yang pasti. (sfm).

One thought on “CH (268): Pembentukan Mahasiswa “Ala Kadarnya”

  1. bisa dikatakan darah guru mengalir di dalam saya, hampir semua keluarga saya menjadi guru. saya sendiri punya idelaisme sendiri mengenai pendidikan. bagi saya anak-anak sekarang hanya berpikir bagaimana mereka bisa mendapat nilai sempurna, bahkan melupakan unsur “sosial”. misalnya saja budi pekerti, hidup sederhana, serta mempunyai keinginan belajar dalam artian bukan mengejar nilai semata tapi belajar untuk menjadi orang yang berpengetahuan.

    saya rasa pembentukan karakter harus dimulai dari taman kanak-kanak di mana nilai-nilai yang mungkin sudah terlupakan oleh pendidikan di negara ini bisa ditanamkan. dan yang harus diingat bahwa institusi pendidikan paling dasar dan paling berpengaruh adalah keluarga, jadi bagaimana sekolah, keluarga, serta mereka yang terjun dalam dunia pendidikan bisa bekerja sama untuk menciptakan suatu sistem yang bukan menciptakan intelektualitas semata, tapi menciptakan intelektualitas yang berbudi pekerti luhur. mengambil pepatah jawa janganlah mahasiswa kita menjadi orang yang “adigang, adigung, adiguna”, yaitu orang yang suka pamer kelebihan.

    mari ciptakan mahasiswa yang mempunyai kelebihan dan mau serta mampu membagi kelebihannya bagi masyarakat banyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s