CH (270): Menimbang Jumlah Pembantu Rektor

Berapa banyak sih jumlah Pembantu Rektor (PR) sebuah universitas? Kalau Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, hanya memiliki 2, Universitas Darul Ulum yang berada di luar ibukota negara, Jombang, mempunyai 5, sehingga jawabannya tentu relatif, tergantung banyak hal.

Apakah jumlah PR yang besar adalah jawaban untuk tantangan dari perkembangan dunia pendidikan yang melaju cepat? Ataukah sebaliknya, jumlah yang ramping lebih menunjukan efesiensi dan bentuk yang ramping dari sisi birokrasi, sehingga dapat berjalan sangat dinamis dan lentur?

Tentu, kalau kita bicara seputar jumlah, maka akan semua akan benar dengan segala argumentasinya. Lalu apa yang mau diketengahkan dalam tulisan ini? Sederhana, berapapun jumlahnya, harus ada evaluasi kinerja para PR.

Kita harus mengeleminir pemikiran yang mengatakan bahwa kinerja seorang PR (bahkan rektor sekalipun) tidak perlu dilakukan, karena dengan alasn relasi rektor-PR dengan otoritas diatasnya bukanlah hubungan buruh-majikan (dengan acuan argumen bahwa rektor-PR adalah akademisi dan bukan buruh). Ini adalah pemikiran sempit yang harus dibuang jauh-jauh. Evaluasi adalah hal yang wajar dalam berbagai aspek kehidupan. Apakah dengan menjadi rektor-PR yang akademisi itu menghilangkan aspek penting dalam organisasi, yaitu evaluasi?

Evaluasi penting, karena hal itu mampu: (1) melihat faktor-faktor penghambat ataupun keberhasilan; (2) potensi yang tersimpan dalam kerja; (3) melakukan perubahan terhadap prioritas kerja; dan (4) mencari solusi dan peluang, demi tercapainya program kerja.

Repotnya selama ini adalah evaluasi kerja hanya dilakukan saat akhir masa jabatan, atau bahkan tidak ada sama sekali karena hanya menyampaikan memorandum akhir masa jabatan, dan kadang itu hanyalah formalitas, demi menjaga stabilitas suksesi kepemimpinan di universitas tersebut. Lalu apa gunanya ya evaluasi kerja diakhir periode?

Pertanyaan selanjutnya, siapa yang seharusnya mengevaluasi kinerja PR? Ini pertanyaan menarik, apakah cukup seorang Rektor yang melakukan evaluasi kerja PR ataukah juga mengikutsertakan civitas? Atau dinilai oleh para pembesar di yayasan yang menjadi payung berdirinya universitas tersebut (kalau swasta).

Bagi saya, evaluasi dengan turut mengikutsertakan pihak diluar rektor-PR (terutama internal universitas) adalah hal yang baik. Selain mencari masukan-masukan dari pihak lain, upaya itu bisa dimaknai sebagai upaya membangun akuntabilitas walau terbatas, dan tentunya meretas jalan bagi kehidupan yang lebih demokrastis.

Akhirnya, bukan pada masalah jumlah berapa banyak PR yang menarik untuk dibicarakan, melainkan bagaimana membuat jumlah itu efektif dan efesien, sehingga 2, 3, 4, 5, atau 10 sekalipun jumlah PR, bukanlah hal yang luar biasa. Karena jumlah itu hanya menunjukan kuantitas, dan belum kualitas. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s