CH (273): Contempt of Court (CoC) Tweet

Perbicangan yang terjadi semalam (21/2), di acara Jakarta Lawyers Club (JLC) TVOne, salah satunya memunculkan istilah Contempt of Court (CoC). Jika ingat CoC, saya ingat kasus menarik seputar hal itu di daratan Inggris Raya belakangan ini.

Sebelum menginjak ke kasus yang saya maksud, arti dari CoC sendiri adalah, “…behavior that opposes or defies the authority, justice, and dignity of the court. Contempt charges may be brought against parties to proceedings; lawyers or other court officers or personnel; jurors; witnesses; or people who insert themselves in a case, such as protesters outside a courtroom”.

Walaupun CoC berada dalam kebiasan sistem hukum Common Law, rupanya istilah CoC juga dipahami di negeri ini yang menganut sistem hukum berbeda, yaitu Civil Law. Salah satu sumber menguatkan dengan menyatakan bahwa istilah CoC untuk pertama kali ditemukan dalam penjelasan butir 4 alinea ke-4 dari Undang-undang No. 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung. Berikut saya kutipkan, “… maka perlu pula dibuat suatu undang-undang yang mengatur penindakan terhadap perbuatan, tingkah laku, sikap dan/atau ucapan yang dapat merendahkan dan merongrong kewibawaan, martabat, dan kehormatan badan peradilan yang dikenal sebagai “Contempt of Court”.

Jika CoC yang dibicarakan oleh para advokat kelas wahid tersebut berlangsung di acara TVOne dan disiarkan secara langsung, dan mungkin dilihat jutaan pasang mata, maka kasus yang terjadi di Inggris berbeda. Berbeda karena media yang digunakan bukan TV, melainkan media jejaring sosial.

Kasus tweet-nya Joey Barton, pemain klub liga Inggris Queens Park Rangers, berbunyi, This John Terry saga, has turned into one of the most hideously managed spectacles I have ever known. WTF is going on”, Jumat 3 Februari 2012. Seperti kita ketahui John Terry, pemain Chelsea, terkena masalah hukum sehubungan perilaku rasisnya di lapangan hijau. Tidak berhenti di tweet-nya itu saja, Barton juga men-tweet pendapatnya tentang masalah tersebut. “Free speech”, demikian Barton mendasarkan tindakannya.

Untung saja, Jaksa Agung Dominic Grieve tidak terlalu tertarik untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum dengan menjerat Barton lewat CoC Act 1981, walaupun sejumlah media online menulis kemungkinan-kemungkinan tersebut. The Guardian menyebutnya sebagai kemujuran saja Barton dapat lolos.

Nge-Tweet di Ruang Sidang

Para jurnalis Inggris cukup lega setelah aturan baru telah dibuat mengenai penggunaan media jejaring sosial di ruang sidang. Mereka bisa menggunakan media tersebut tanpa harus meminta ijin terlebih dahulu. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s